Touch

Cobalah gunakan google untuk menemukan bagaimana sebuah sentuhan memberikan efek tornado dalam kehidupan seseorang. Mungkin kalian akan dipertemukan kisah haru seorang ibu yang berbisik kepada bayi merahnya.

Konon kata petugas media bayi tersebut telah pergi namun Si Ibu terus berbicara kepada bayi merah yang ‘nemplok’ di dadanya tersebut. Hingga pada satu detik, bayi tersebut kembali bernapas. Tidakkah kalian sering mendengar bahwa skin to skin adalah sarana penyaluran energi yang paling optimal antar manusia?

Begitu pula bagi Sia Lee. Sia adalah vampire ‘milenia’. Saya berterima kasih kepada Sia Lee dan golongannya yang telah menjalani revolusi ribuan tahun. Berubah dari makhluk penghisap darah menjadi makhluk penghisap energi. Melalui sentuhan.

Revolusi ini menciptakan kisah romantis baru yang tidak lagi segaring kisah Bella Swan dan Edward Cullen. Revolusi ini juga membawa kisah percintaan pemburu dan buruan ke babak baru.

Edward Cullen masih bisa menahan diri untuk tidak menghisap darah Bella, meski menurutnya darah Bella sangat lezat. Lagi pula Edward sudah lama jadi ‘vegetarian’ bukan?

Nah sekarang bayangkan, bagaimana Sia Lee bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Jiho, kekasihnya? Padahal bersentuhan adalah naluri dasar setiap pasangan. Inilah yang membuat saya bersemangat sejak bab pertama. Sia Lee membawa sebuah kontradiktif.

Topik menarik ini digarap dengan luar bisa menakjubkan. Dibagian awal cerita, obsesi Sia Lee terhadap Jiho hanya karna energi Jiho begitu lezat. Menyentuh seseorang bukanlah perkara rumit. Dalam setiap kesempatan sengaja atau tidak sengaja, sentuhan menjadi pengiring aktivitas. Termasuk persentuhan Sia Lee dan Jiho yang pertama, terjadi karna keduanya bertabrakan tanpa sengaja.

Sia kesulitan menyentuh Jiho, tetangganya sendiri, karna Jiho mengidap OCD. Jiho terobsesi dengan kebersihan. Ia membawa disinfektan kemana pun ia pergi. Ia tidak menjalani kontak langsung dengan manusia karna disanalah pertukaran kuman penyakit terjadi. 

Sia berusaha menyembuhkan kelainan Jiho hanya agar ia bisa menyentuh Jiho, mendapatkan makanannya. Sia dan Jiho tidak pernah mempertimbangkan, jalan yang mereka tempuh bukan hanya menyembuhkan Jiho tetapi juga menumbuhkan perasaan lain.

Kisah berkembang. Sia Lee mendapati Jiho pingsan dipagi hari hanya karna sepanjang malam, Jiho menggenggam tangannya. Belakangan baru diketahui bahwa Sia tidak punya kemampuan untuk mengontrol seberapa banyak energi yang bisa ia serap dari buruannya.

Jika diibaratkan kepada manusia, Sia Lee tidak punya sistem yang memberikan sinyal bahwa ia sudah kenyang. Ia bisa terus menerus ‘makan’ tanpa ia sadari. Ia tidak menyadari karna selama ini ia tidak pernah menyentuh buruannya dalam waktu yang sangat lama.

Semakin buruk, karena kealphaan Sia Lee memantau ‘rasa kenyang’ ini berhubungan dengan kekuatan perasaannya. Semakin dalam ia menyayangi seseorang semakin kuat ia menyerap energi orang tersebut. 

Pada akhirnya, kedalaman perasaan Sia Lee bisa membunuh Jiho hanya dengan satu sentuhan dengan menggunakan ujung jari.

Menarik bukan?

Pasalnya Bella Swan masih punya kesempatan hidup bahagia selama-lamanya bersama Edward, dengan mengubah Bella menjadi vampire. Mereka bahkan sampai punya anak.

Sia Lee? Apakah Jiho harus diubah jadi Vampire? Sampai saat ini belum ada indikasi bahwa penulis ingin menuju ke arah situ. Dan saya berharap sangat, kalau itu tidak sampai terjadi.

Sia Lee, ingat, kamu hasil evolusi yang luar biasa dari nenek moyangmu Edward Cullen. Please jangan berakhir segaring kisah dia. Kamu harus lebih baik.

*Ini adalah kartun yang saya baca di Webtoon. Judulnya Untouchable dan episode terbaru terbit setiap Senin.

Kzl.

Advertisements

[BUKU] Sang Penjaga Waktu

Hanya manusia yang mengukur waktu. Itulah sebabnya manusia mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lain. Takut kehilangan waktu. (Hal.17)

Jika ada orang yang harus dipersalahkan berkaitan ketakutan manusia akan hilangnya waktu, ia adalah Dor. Seorang anak laki-laki yang menjadikan ‘menghitung’ sebagai obsesinya. Ia mulai mengukur waktu tempuh matahari dari terbit hingga tenggelam dengan menggunakan bayangan sebatang kayu. Ia mengukur munculnya rembulan hingga lenyap dengan menggunakan tetes air dari sebuah mangkuk bocor. Ia menandai setiap perubahan wujud bulan, dari tiada-sabit-separuh-purnama-separuh-sabit-tiada, menjadi satuan yang kita sebut bulan.

Satu-satunya hal yang bisa mengalihkan perhatian Dor akan waktu adalah Alli. Sayangnya Ali terkena penyakit. Ketika Alli sekarat, untuk pertama kalinya Dor ingin mengingkari sang pencipta. Ia ingin menghentikan waktu.

Atas pengingkarannya tersebut Dor dihukum. Ia dikurung dalam sebuah gua, tidak bertambah tua namun mendengar jeritan-jeritan manusia tentang waktu. Ada dua jenis manusia jika berkaitan dengan waktu. Jenis yang ingin lebih banyak waktu dan jenis yang  ingin mempercepat waktu.

Victor adalah golongan pertama. Ia hanya memiliki waktu dua bulan saja sebelum tumor mengacaukan kondisi fisiknya. Victor memburuhkan satu kesempatan hidup sekali lagi, ia berencana membekukan tubuhnya dan dihidupkan kembali ketika tekhnologi masa depan telah menemukan penyembuh yang tepat.

Sarah termasuk golongan kedua. Ia tidak mempercepat waktu yg dimiliki setelah dipermalukan oleh laki-laki yang ia cintai. Ia ingin meracuni diri dengan gas karbon di dalam mobil tertutup.

Dor harus menyelamatkan kedua orang ini. Menjelaskan kepada mereka bagaimana waktu seharusnya dihadapi. Hanya dengan cara itu, Dor bisa terlepas dati hukumannya, menjadi tua, mempunyai batas waktu.

Buku ini bisa dibilang punya plot datar. Tidak ada gejolak yang signifikan dari kehidupan Victor,Sarah maupun Dor. Namun memangvaudah seharusnya seperti itu karna buku ini tidak ditulis untuk menghadirkan lonjakan adrenalin. Mitch Albom menghadirkan buku ini agar pembaca punya pemahaman baru tentang waktu. Atau bagi yang sudah sampai pada pemahaman yang sama dengan Mitch Albom, buku ini hadir untuk menjelaskan waktu ke dalam bentuk nyata. 
Buku ini membuka perspektif saya tentang waktu. Waktu hadir tidak terlambat, tidak kecepatan, ia hadir secara tepat. 

Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat, semua terjadi pada waktu yang ditetapkan. (Hal.232)

Hanya saja kebiasaan kita sebagai manusia menjadikan waktu sebagai patokan, membuat waktu menjadi menakutkan. Terlalu fokus pada waktu justru membuat kita kehilangan momen.

Ketika manusia semakin terobsesi dengan jam-jamnya,kesedihan akibat waktu yang hilang menciptakan kekosongan dihati. (hal.89)

City of Humankind

Di kota ini,

Senyap menyusup dalam ramai.

Ribut mengamuk dalam sunyi.

 

Tangis bersembunyi dibalik tawa

Tawa bertopeng empati.

 

Mengucap cinta

Menebar kebencian

 

Jari manis direlungi cincin

Genggaman memeluk tangan yang berbeda

 

Maka bertanyalah jalanan,

Bagaimana manusia menopang begitu banyak rahasia.

Sementara jalanan, ambruk begitu saja tertimpa hujan.

 

Harusnya engkau paham wahai jalanan,

Manusia menampung rahasianya sendiri

Kalian, para jalanan, menyimpan rahasia jutaan manusia.

 

 

 

 

Ngupi di Belitung

Bagi yang sudah menamatkan tertalogi Laskar Pelangi, tentu paham bagaimana sebuah warung kopi menggerakan kehidupan sosial budaya di Belitung. Berangkat dari Laskar Pelangi, ditambah dengan cerita dari orang-orang yang pernah berkunjung, maka aroma kopi sudah membayangi langkah saya bahkan sejak masih di Jakarta.
Warung kopi pertama yang saya kunjungi terletak di Manggar, Belitung Timur. Konon kataya “Mun lum ngupi, lum sampai Manggar”, belum sampai ke Manggar kalau belum ngopi. 

Manggar dikenal dengan 1000 warung kopinya yang buka selama 24 jam. Bukan satu warung kopi yang mendominasi satu hari full namun warung kopi dibuka mengikuti shift tertentu. Beberapa warung buka dari pagi hingga siang, sementara yang lain baru mulai siang hingga malam dan begitu seterusnya selama 24 jam.

Warung kopi pertama saya ini, terletak tidak jauh dari Toko Sinar Harapan. Toko kelontong tempat ikal jatuh cinta pada kuku-kuku cantik Aling (Kisah di LAskar Pelangi). 

Di belitung, bubuk kopi dimasak ke dalam air mendidih. Air rebusan kopi tersebut dituang ke dalam gelas belimbing ukuran sedang yang terlebih dahulu suddah berisi susu kental manis. Ya! selain cara memasak bubuk kopi, kekhasan lain kopi Belitung adalah penggunaan susu kental manis sebagai pengganti gula.

Kopi pertama saya di Belitung, tidak terlalu kuat dan kemanisan. Terlalu banyak susu kental.

Hari kedua di Belitung, saya mengunjungi Kong Djie Coffee, salah satu warung kopi yag cukup terkenal di Belitung Barat. Menurut saya Kong Djie Coffee menjadi ternama karna cabangnya yang sudah menyebar di Belitung Barat dan tentu saja deretan artis kenamaan yang sudah menyambanginya, membuat Kong Djie mendapat nilai lebih.

Pagi itu, saya menikmati satu gelas kopi susu ditemani beberapa makanan kecil. Sayangnya saya belum dipertemukan dengan makanan-makanan kecil khas Belitung. Kopi hari kedua saya ini pas. Tidak manis, namun tetap kopinya “nggak nendang”. Hanya saja saya masih belum siap menikmati kopi O, kopi hitam ala Belitung. Sepertinya terlalu bapak-bapak.

Kopi terakhir saya di belitung, saya nikmati di warung kopi Ake, warung kopi tertua di Belitung. Bukan hanya tahun berdirinya, warung kopi Ake ini juga memiliki meja dan kursi “vintage”. Seolah ingin menyatu dengan sebutan warung kopi tertua yang di sandangnya. Berbeda dengan warung kopi di Belitung yang mempunyai meja dan bangku-bangku panjang. Atau dengan Kong Djie dengan meja dan bangku sedang (mirip warung makan).

Kopi terakhir ini lagi-lagi kemanisan.

Sebuah pengalaman menarik, menelusuri warung kopi, di negeri yang justru tidak menanam kopi. Meski sebentar.

Natal di Belitung

Dua orang petugas bersiap di masing-masing sisi tangga. Menyerahkan payung kepada setiap penumpang. Hujan mendera tanpa ampun sejak pesawat yang saya tumpangi meninggalkan bandar udara Soekarno-Hatta dan tidak reda hingga mendarat di Belitung.

Tidak ada yang mampu mengalahkan kebahagian seorang ‘turis’ yang merindukan jalan-jalan. Tidak pula hujan lebat. Derap langkah saya semakin cepat mendekati ruang tunggu, lanjut ke pintu keluar bandar udara. Tempat seorang pemandu perjalanan telah menunggu.

Di sepanjang jalan menuju tengah kota, pemandu menjelaskan sejarah Belitung, sementara saya terpaku memperhatikan kondisi diluar sana. Saat itu sudah mendekati pukul sembilan pagi, tapi mobil yang saya tumpangi nyaris menjadi satu-satunya kendaraan yang berada di jalanan. Bukan hanya ketiadaan kendaraan, rumah-rumah penduduk pun tidak memperlihatkan kehidupan yang berarti.

“Apakah Belitung di pagi hari memang seperti ini?”

“Kebanyakan yang punya toko di Belitung adalah warga beretnis Tionghoa, sekarang hari Natal, jadi kebanyakan masih pada tutup. Lagi pula hujan deras seperti ini…” jelasnya.

Saya kembali menatap bulir-bulir hujan yang menghujam kaca jendela mobil. Untuk sebuah pulau yang tidak memilik area pegunungan, hujan di belitung benar-benar dipengaruhi arah angin. Sepanjang angin laut mengarah ke Belitung, sepanjang itu pulalah Belitung akan dihujani.

Mendekati siang, meski hujan kadang berhenti kemudian turun lagi, jumlah orang yang saya temui di tempat-tempat wisata pun tidak memperlihatkan jumlah yang signifikan. Dan berlanjut hingga malam hari. Ketika saya menikmati sajian Seafood di salah satu restoran yang bersisian dengan Pantai Tanung Pendam, hanya 2-3 meja yang dihuji pengunjung.

Natal di Belitung justru lebih mirip nyepi ya?

Berbicara tentang nyepi, saya masih menyimpan keinginan untuk merasakan Nyepi di Bali. Larut dalam keheningan fisik, agar dapat mendengar keributan di dalam diri sendiri.

Saya tidak tau, apakah ini memang suasana natal ala belitung atau ini adalah suasana natal ala hujan lebat di Belitung.

Hanya Teddy Yang Boleh

Bayangkan pada suatu hari menjelang akhir tahun, kamu terbangun dan menemukan sebuah pesan tak bertuan. Sebenarnya surat itu punya tuan, sayangnya saat engkau menemukannya, SangvTuan telah mengjilang.

“….Aku ingin pergi untuk beberapa saat. Aku ingin melihat dunia, melihat apa yang selama beberapa tahun ini aku lewati begitu såja. Aku harap engkau mengerti….”

Pesan perpisahan memang tidak pernah berpanjang-panjang. Seseorang yang ingin pergi, selalu ingin bergegas. Telepas dari apakah ia tidak ingin menorehkan luka yang cukup dalam atau mungkin memang tempat yang ia tuju lebih baik dibandingkan tempatnya meerapat saat ini.

Yang ditinggalkan, tanya bisa termangu. Ia hendak mengejar tapi yang pergi sudah berlalu sangat jauh. Lagi pula ia tidak harus berlari ke arah yang mana. Maka berdiamlah ia dengan kesedihannya.

***

Bayangkan, setelah dua belas purnama berlalu. Ia datang kembali dalam bentuk sebuah amplop biru. Diselipkan melalui celah pintu. Tidak ada surat di dalamnya. Ia hanya ingin berkabar, ia sudah kembali  dari melalang buana. Ia pikir sepucuk amplop biru cukup untuk menandai, kehadirannya secara fisik dalam waktu dekat.

Ia gila.

Bukan hanya dia.

Aku pun gila. Uring-uringan menanti apa rahasia dibalik amplop biru kosong.

***

Tahun berganti. 2015 ketika ia pergi. 2017 ketika ia kembali. Dan ia kembali dengan tanpa perasaan bersalah.

 

Iya, cuma Teddy ini yang boleh. menghilang setahun lalu kembali dengan ekspresi menggemaskan.

Kamu jangan.

Karena kamu nggak bisa bikin lirik sedahsyat dia. Kamu juga nggak punya suara seenak dia.

2016: Tahun Membaca Terburuk

Tahun ini saya hanya berhasil menuelesaikan 29 buku. Saking tidak percaya dengan hasil perhitungam Goodreads, saya sampai menghitung sendiri jumlah buku yang saya selesaikan sepanjang tahun 2016. Jumlahnya dua puluh sembilan. Tidak lebih tidak kurang. Padahal tahun-tahun sebelumnya sama bisa membaca sekitar 40 buku dalam setahun. 

Sebegitu sulitkah membaca? 

Dulu saya suka mencemooh orang-orang yang punya timbunan buku untuk dibaca. Bagaimana mungkin kalian mengaku hobi membaca tapi tidak sempat membaca? Begitu kira-kira yang ada dalam benak saya. Karena (dulu) saya selalu bisa meluangkan waktu untuk membaca, namun bahan bacaan terbatas (saya belum hobi ke perpustakaan, dan budget beli buku sangat terbatas).

Dulu saya membaca dalam situasi “Well Prepared”. Duduk-goleran diatas kasur, menyalakan radio/musik, membaca, tanpa snack, inilah yang saya sebut dengan “well prepared”. Saya benar-benar menyempatkan diri untuk membaca. Bisa malam, pagi, siang, sepanjang siang, bahkan sepanjang malam. Bebas yang penting ashoyy.

Sekarang, sering kali saya membawa satu buah buku jika sedang bepergian antar kota. Maksud hati ingin membaca buku disepanjang perjalanan atau disela-sela waktu liburan, atau bahkan untuk mengisi waktu menunggu angkutan.

Anehnya, semakin saya berusaha menyisipkan waktu untuk membaca, semakin saya tidak membaca sama sekali. Selalu ada hal lain yang merenggut waktu membaca ini. Kepikiran pekerjaan, cek media sosial karna di kantor nggak sempat, cek berita dan situs belanja online dan sebagainya.

Ternyata menyediakan waktu untuk membaca memang sesulit itu. Wajar kalau tahun 2016 ini saya tidak menghasilkan tulisan yang bisa membuat saya berpuas diri. Membaca adalah makanan untuk menulis. Mustahil menghasilkan tulisan baik kalau tidak rajin membaca. Sama mustahilnya dengan ingin tubuh ideal tapi jarang olahraga.