Hanya Teddy Yang Boleh

Bayangkan pada suatu hari menjelang akhir tahun, kamu terbangun dan menemukan sebuah pesan tak bertuan. Sebenarnya surat itu punya tuan, sayangnya saat engkau menemukannya, SangvTuan telah mengjilang.

“….Aku ingin pergi untuk beberapa saat. Aku ingin melihat dunia, melihat apa yang selama beberapa tahun ini aku lewati begitu såja. Aku harap engkau mengerti….”

Pesan perpisahan memang tidak pernah berpanjang-panjang. Seseorang yang ingin pergi, selalu ingin bergegas. Telepas dari apakah ia tidak ingin menorehkan luka yang cukup dalam atau mungkin memang tempat yang ia tuju lebih baik dibandingkan tempatnya meerapat saat ini.

Yang ditinggalkan, tanya bisa termangu. Ia hendak mengejar tapi yang pergi sudah berlalu sangat jauh. Lagi pula ia tidak harus berlari ke arah yang mana. Maka berdiamlah ia dengan kesedihannya.

***

Bayangkan, setelah dua belas purnama berlalu. Ia datang kembali dalam bentuk sebuah amplop biru. Diselipkan melalui celah pintu. Tidak ada surat di dalamnya. Ia hanya ingin berkabar, ia sudah kembali  dari melalang buana. Ia pikir sepucuk amplop biru cukup untuk menandai, kehadirannya secara fisik dalam waktu dekat.

Ia gila.

Bukan hanya dia.

Aku pun gila. Uring-uringan menanti apa rahasia dibalik amplop biru kosong.

***

Tahun berganti. 2015 ketika ia pergi. 2017 ketika ia kembali. Dan ia kembali dengan tanpa perasaan bersalah.

 

Iya, cuma Teddy ini yang boleh. menghilang setahun lalu kembali dengan ekspresi menggemaskan.

Kamu jangan.

Karena kamu nggak bisa bikin lirik sedahsyat dia. Kamu juga nggak punya suara seenak dia.

Advertisements

2016: Tahun Membaca Terburuk

Tahun ini saya hanya berhasil menuelesaikan 29 buku. Saking tidak percaya dengan hasil perhitungam Goodreads, saya sampai menghitung sendiri jumlah buku yang saya selesaikan sepanjang tahun 2016. Jumlahnya dua puluh sembilan. Tidak lebih tidak kurang. Padahal tahun-tahun sebelumnya sama bisa membaca sekitar 40 buku dalam setahun. 

Sebegitu sulitkah membaca? 

Dulu saya suka mencemooh orang-orang yang punya timbunan buku untuk dibaca. Bagaimana mungkin kalian mengaku hobi membaca tapi tidak sempat membaca? Begitu kira-kira yang ada dalam benak saya. Karena (dulu) saya selalu bisa meluangkan waktu untuk membaca, namun bahan bacaan terbatas (saya belum hobi ke perpustakaan, dan budget beli buku sangat terbatas).

Dulu saya membaca dalam situasi “Well Prepared”. Duduk-goleran diatas kasur, menyalakan radio/musik, membaca, tanpa snack, inilah yang saya sebut dengan “well prepared”. Saya benar-benar menyempatkan diri untuk membaca. Bisa malam, pagi, siang, sepanjang siang, bahkan sepanjang malam. Bebas yang penting ashoyy.

Sekarang, sering kali saya membawa satu buah buku jika sedang bepergian antar kota. Maksud hati ingin membaca buku disepanjang perjalanan atau disela-sela waktu liburan, atau bahkan untuk mengisi waktu menunggu angkutan.

Anehnya, semakin saya berusaha menyisipkan waktu untuk membaca, semakin saya tidak membaca sama sekali. Selalu ada hal lain yang merenggut waktu membaca ini. Kepikiran pekerjaan, cek media sosial karna di kantor nggak sempat, cek berita dan situs belanja online dan sebagainya.

Ternyata menyediakan waktu untuk membaca memang sesulit itu. Wajar kalau tahun 2016 ini saya tidak menghasilkan tulisan yang bisa membuat saya berpuas diri. Membaca adalah makanan untuk menulis. Mustahil menghasilkan tulisan baik kalau tidak rajin membaca. Sama mustahilnya dengan ingin tubuh ideal tapi jarang olahraga.

Unfinished Yet

Manusia menitipkan ingatan pada benda, pada tempat, dan pada waktu.

Itulah mengapa matahari yang sama, tenggelam di tempat yang sama, menyesapi pemujanya dengan cara yang berbeda.

Gadis berambut panjang tersenyum hangat karena matahari telah mengingatkannya pada kekasih yang saban hari mengiriminya foto senja.

Anak laki-laki kumal gemetar, semakin sedikit wajah matahari yang tersisa semakin hatinya kelu. Ia harus bergegas pulang, meski tidak lagi ada Ibu yang menyambutnya.

Anjing hitam melolong panjang, menyampaikan rindu kepada tuannya yang dipinjam lautan. Namun, tidak pernah dikembalikan.

Bahkan anjing sekalipun punya ingatan.

Tan Malaka

Gw (mungkin juga kalian) terbiasa dengan nama Suwardi Suryadiningrat, Haji Agus Salim, Cokroaminoto, Semaun dan Alimin. mereka adalah sesikit dari banyak tokoh sejarah yang namanya muncul di buku pelajaran Sejarah. Bagaimana dengan Tan Malaka?

Ingatan pertama gw dengan Tan Malaka, berasal dari masa 5-6 tahun lalu. Ketika seorang teman menenteng-nenteng buku Tan Malaka disela acara makan siang kami. Ia berkisah sedikit tentang Tan Malaka sebagai salah seorang tokoh sosialis dan petinggi Partai Komunis Hindia pada masanya.

“Ia juga dari Sumatera Barat loh…” katanya menambahkan, menyampaikan kesamaan antara Tan Malaka dengan gw.

Setelah hari itu, Tan Malaka lenyap. Rasa-rasanya tidak ada satu orang pun disekitar gw yang menyebut atau mengingatkan Tan Malaka. Ia melesap menjadi ‘bukan siapa-siapa’.

Hingga akhirnya Tan Malaka gw temukan sedang berdiam diri di sebuah toko buku.Pertemuan kami berlanjut.

Ia mengisahkan kembali bagaimana ia berasal dari keturunan terhormat di Minangkabau. Ia kehilangan suku, harta, kampung dan keluarga karna lebih memilih kesempatan belajar di Netherland, menanggalkan gelar Datuk Tan Malaka, yang baru saja disempatkan kepadanya. Datuk adalah gelar bagi pimpinan kaum/suku di Minangkabau.

Ia meninggalkan Minangkabau, merantau ke Netherland demi cita-cita menjadi guru. Sayangnya, empati luar biasa Tan Malaka kepada kaum kromo (pribumi dengan status sosial paling rendah) justru membuatnya menjadi seorang aktivis. Di Netherland, ia bergabung dengan pelajar Indonesia lainnya, membentuk perkumpulan dan organisasi yang menyuarakan hak Hindia, tanah jajahan. Ia dianggap berbahaya oleh pemerintah Netherland ketika itu, karna terlalu berani mengkritisi kebijakan Sang Ratu.

Ia terpaksa kembali ke Hindia, melarikan diri. Tidak akan gentar singa dibuang.  Sekembalinya ke Hindia Tan Malaka dikenal sebagai ‘provokator’ kalangan buruh untuk melakukan aksi mogok. Aksi demi aksi membuat pemerintahan Netherland semakin kewalahan. Pemogokan buruh berdampak kepada hasil perkebunan, berpengaruh kepada ketersediaan rempah di Eropa. Aktivitas dan tulisan-tulisan Tan Malaka juga membuatnya menjadi salah satu orang yang diincar oleh pemerintahan Netherland di Hindia ketika itu.

Setali tiga uang dengan kampung halaman dan cita-cita, Tan Malaka pun tidak mujur dalam cinta. Cinta pertama diperistri orang lain. Cinta kedua meninggal ditembak mati.

Dengan raga kekasih di pelukan, hati yang luluh-lantak, Tan Malaka diasingkan ke Digul.

Begitulah Tan Malaka mengakhiri kisahnya kepada gw.

Tan, sungguh kita hatus berjumpa lagi.

Atau gw harus ke Digul?

Unlock Your Potential

Meski  gramatically error, tapi gw pikir apa yang coba disampaikan oleh gambar diatas cukup mudah dipahami.

Ratusan ribu tenaga kerja baru dilahirkan dari perut-perut institusi pendidikan setiap tahunnya. Seperti segerombolan semut menggerogori dua tiga remah kue. Oh bukan, bukan semut, karna semut tidak bersaing satu sama lain. Mereka berkerjasama.

Ratusan ribu calon tenaga kerja ini, berebut potongan kue yang sama. Seseorang yang tidak ‘jago’ akan digantikan dengan ‘pejantan’ lainnya. Meminjam istilah kakak Katty Perry, “Like a girl changes her clothes“. Ya semudah itu.

Bagaimana dengan si senior? Ia telah melampaui tahun-tahun panjang yang akhirnya tidak hanya memperkuat skill tetapi juga intuisi. Rutinitas yang sama selama bertahun-tahun yang membuat seorang penyidik mampu mendeteksi kejanggalan sebuah TKP hingga akhirnya mengungkap pelaku kriminal dalam waktu dekat. Satu hal yang mungkin langka jika kita coba temukan pada tenaga kerja baru.

Ditempa di tempat yang sama selama bertahun-tahun membuat sebuah mata pisau tajam, namun majal pada sisi yang lainnya. Kemampuan seorang senior jelas dibutuhkan, namun ketika sisi majal yang lebih dikedepankan, seorang senior cepat atau lambat akan keluar dari arena pertarungan.

Perasaan ‘senior’ terkadang membut seseorang menjadi kaku. Sementara itu dunia selalu bergerak dinamis. Yang satu menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya. Dari ketiadaan muncual sesuatu yang baru dan diakui. Seorang senior tidak bisa bertahan menjadi es balok. Ia harus melelehkan dirinya, agak sesuai pada wadah apapun.

Dalam teori investasi ada sebuah pepatah yang sering didengungkan

Don’t put your eggs in one bucket.

Jangan hanya ahli dalam satu bidang. 

Disambungkan dengan meme si bebek di awal postingan ini, probabilitas seorang ketenargakerjaan untuk digantikan sangat besar. Dan menjadi seseorang dengan kemampuan original juga satu hal yang sangat langka. Ide baru berkembang setiap hari. Ide baru yang sudah muncul kepermukaan akan segera mendapat tandingan. Lihat saja bagaimana China bisa merilis ponsel yang sama hanya berselang bulan dari Apple meluncurkan produk baru. Ketika sudah sampai dipermukaan tidak ada ide yang ‘benar-benar’ original.

Menjadi yang terbaik dalam satu hal adalah hebat. Namun ketika dunia menawarkan keberagaman, menjadi lumayan dalam banyak hal adalah bijak. Karena lumayan punya kesempatan untuk dijadikan yang terbaik.

Jaman Sebuah Bahasa

Kemarin, ketika gw menuntaskan “Tenggelamnya Kapal Van Der WIjk” karya Buya Hamka, gw menyadari bahwa bahasa adalah teman sejati manusia. Ia berkembang mengikuti perkembangan manusia pada zamannya.

Membaca bagaimana perkataan Zainuddin yang penuh bunga tentu tidak sejengah mendengarkannya langsung. Mungkin itulah mengapa kebanyakan percakapan pada film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” terdengar ‘lebay’ ketika bersentuhan dengan selaput gendang telinga manusia kekinian.

Tidak lagi ada yang perlu mengurai paragraf panjang hanya untuk menyatakan cinta. Tidak pula Ranggha bukan, pujangga kekinian itu?

Tapi jika kita hidup pada jaman yang sama dengan Zainuddin, bahasa penuh bunga tersebut adalah cerminan tingkatan sosial seseorang. Seorang bangsawan, seorang berpendidikan mempunyai kekayaaan bahasa yang lebih tinggi dari seorang kelompok marjinal. Begitulah seharusnya, bahkan hingga sekarang, bukan?

Bahasa yang menandai jaman ini harus selalu diingat bagi pencipta karya fiksi. Contoh, ketika menonton The Revenant, gw sempat berfikir apakah di-tahun 1823 (setting yang di ambil The Revenant) orang-orang memaki dengan menggunakan ‘Fu*k’ dan turunannya?

Merendahkan Diri Sendiri

Tulisan lama, ketemu semalam pas lagi beresin blog.

***
Sudah lebih lima tahun gw bergelut dengan dunia profesi, anggap saja kalau gw sudah diperbolehkan sedikit nyinyir tentang hal yang akan gw tulis ini.

Meski gw nggak tau hal ini pernah diteliti atau nggak, gw rasa karyawan dimana pun akan selalu merasa dibayar sedikit untuk pekerjaan yang nggak ada habisnya. Lihat saja wajah-wajah lelah dipinggir-pinggir peron, jalan raya, stasiun dan sebagainya. Bagaimana mungkin wajah tersebut sudah kelelahan padahal masih sangat pagi dan kebanyakan dari mereka baru saja mendapatkan dua hari jatah libur.

Bandingkan dengan wajah anak-anak sekolah. Ada sisa kantuk tapi setidaknya wajah mereka lebih bernyawa. Mereka malas belajar tapi bahagia karna sekolah sebenarnya adalah tempat untuk bermain, pacaran, membolos, dan membuat onar. Tentu saja ada yang berbahagia datang ke sekolah untuk belajar, karna tidak semua yang datang ke kantor dengan keluh-kesah.

Kembali ke pasal pertama. Bahwa budak korporasi manapun akan selalu merasa dibayar rendah untuk pekerjaan ampun-ampunan. Lalu apakah kamu berhak untuk bekerja ogah-ogahan ?

Tidak ada jawaban pasti tentang ini. Karna tidak ada patokan pasti seberapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan seseorang untuk setiap rupiah yang ia dapatkan.

Gw pun dulu sempat bekerja “sesuai gaji” karna menurut gw sistem di tempat gw sudah membuat gw bekerja terlalu banyak. Gw sebut sistem karna gw tidak merujuk pada satu orang, tidak pada satu keputusan. Tapi setiap keputusan dan kompleksitasnya.

Sampai suatu hari, klien gw yang baru bercerita bahwa ia mengenal klien gw yang lama. Sebagia klien yang diberikan jasa oleh orang yang sama, tentu mereka sudah saling berbagi cerita bukan? Lalu apa kira-kira yang disampaikan oleh klien lama gw? Bahwa gw langsung ogah-ogahan ketika system yang gw tawarkan sudah berstatus “ready to used”? Bisa jadi klien lama akan bercerita bagaimana gw begitu lambat dalam menangani case demi case yang ia hadapi. Tentu saja semua klien ingin ditangani dengan segera.

Klien baru gw memang tidak berkisah apapun. Terkadang diam justru memberimu ruang yang lebih lapang untuk berfikir. Gw memang bekerja dibawah bendera korporasi tapi sebenarnya gw sedang menjual diri gw sendiri. Citra korporasi merupakan akumulasi dari kinerja seluruh karyawannya. Citra gw ditentukan oleh gw sendiri. Ketika gw bekerja buruk, korporasi menggantikan dengan yang lebih baik. Dan gw akan membawa ‘kerja buruk’ tersebut sepanjang hidup gw.

Ketahuilah, meski dunia profesional dijalankan oleh ribuan orang diseluruh penjuru dunia, kalian akan menemui orang-orang yang sama selama kalian masih berkutat dengan keahlian yang sama. Kemungkinan kalian akan bersinggungan dengan orang-orang baru yang kenal dengan orang-orang di masa lalu (profesional) kalian bisa jadi tidak sekecil yang kalian bayangkan.

Bukankah teori ” 7 degrees of separation” sudah sering kalian dengar? Bahwa kalian hanya membutuhkan 7 orang untuk mengetahui bahwa jalan kehidupan kalian bersinggungan satu sama lain?

Jadi berhentilah bekerja buruk karena korporasi (menurut kalian) bobrok. Karena kalian sedang membangun diri kalian sendiri. Denganya kelak kalian punya kemampuan untuk menentukan harga atas kompetensi, bukan karena relasi.

Tenang, gw juga masih suka kebawa malas kalau klien sudah mulai mengumbar keinginan ‘dewa’. Tapi paling tidak, gw berusaha mendekati status ‘bekerja dengan waras’. Dengan demikian, gw tidak mendustai kemampuan gw sendiri.

Jangan memandang sebelah mata kepada orang yang yang kelihatannya mampu tapi duduk menadahkan tangan di pinggir jalan. Dengan bekerja tidak sesuai kemampuan diri sendiri pun, bisa jadi kalian tak ubahnya seperti pengemis tadi.