City of Humankind

Di kota ini,

Senyap menyusup dalam ramai.

Ribut mengamuk dalam sunyi.

 

Tangis bersembunyi dibalik tawa

Tawa bertopeng empati.

 

Mengucap cinta

Menebar kebencian

 

Jari manis direlungi cincin

Genggaman memeluk tangan yang berbeda

 

Maka bertanyalah jalanan,

Bagaimana manusia menopang begitu banyak rahasia.

Sementara jalanan, ambruk begitu saja tertimpa hujan.

 

Harusnya engkau paham wahai jalanan,

Manusia menampung rahasianya sendiri

Kalian, para jalanan, menyimpan rahasia jutaan manusia.

 

 

 

 

Unfinished Yet

Manusia menitipkan ingatan pada benda, pada tempat, dan pada waktu.

Itulah mengapa matahari yang sama, tenggelam di tempat yang sama, menyesapi pemujanya dengan cara yang berbeda.

Gadis berambut panjang tersenyum hangat karena matahari telah mengingatkannya pada kekasih yang saban hari mengiriminya foto senja.

Anak laki-laki kumal gemetar, semakin sedikit wajah matahari yang tersisa semakin hatinya kelu. Ia harus bergegas pulang, meski tidak lagi ada Ibu yang menyambutnya.

Anjing hitam melolong panjang, menyampaikan rindu kepada tuannya yang dipinjam lautan. Namun, tidak pernah dikembalikan.

Bahkan anjing sekalipun punya ingatan.

Gramedia dalam Harmonisasi Tekhnologi

download

Siapa yang meragukan jaringan distribusi toko buku offline Gramedia. Bahkan keberadaan toko buku Gramedia menjadi tolak ukur status sosial sebuah kota. Kota yang mempunyai toko buku Gramedia layak disebut kota besar atau sebuah kota yang sedang mengalami perkembangan.

Butuh kunjungan rutin dan keterbatasan pos belanja buku untuk sedikit memahami pergerakan buku dalam sebuah toko buku Gramedia. Buku yang semula berada pada tataran New Arrivals lambat laun harus bergerak ke rak yang lebih dalam kecuali buku-buku tersebut menduduki peringkat top list.

Setiap jenis dan judul buku mempunyai masa ‘nampang‘ yang berbeda-beda di toko buku offline. Masa ‘nampang’ tersebut terkadang lebih cepat daripada masa yang dibutuhkan untuk recovery pos belanja buku.

Keberadaan Gramedia.com, sebuah platform toko buku online milik Gramedia, menjadi sebentuk kebahagiaan bagi pemburu ‘harta karun’ seperti saya. Bagaimana tidak, buku-buku yang sudah tidak ditemukan di toko buku offline, bisa saja temukan di sini.

Bukan hanya ketersediaan buku yang lebih beragam, Gramedia.com juga secara tidak langsung berpartisipasi terhadap kampanye meningkatkan minat baca. Bagaimana tidak, daerah-daerah yang dahulunya tidak terjangkau jaringan toko buku offline, sekarang mempunyai kesempatan yang sama.

Apalagi kerjasama Gramedia.com dengan beberapa bank mampu meningkatkan daya beli melalui program-progrom promosi yang ditawarkan.

Lima belas tahun yang lalu, bisa jadi hanya Bill Gates yang bisa melihat bahwa penghuni bumi di masa depan bepergian dengan sebuah perangkat komputer dalam genggaman mereka.

Sebagai seorang ‘cenayang’ Bill Gates tentu sudah mempersiapkan diri akan kehadiran masa tersebut. Sedangkan bagi penghuni bumi selain Bill Gates dibutuhkan sebuah penyesuaian yang cepat agar mampu bergerak selaras dengan perubahan tersebut.

Dan itulah yang dilakukan oleh Gramedia. Ia bergerak harmonis bukan hanya dengan kemajuan tekhnologi tetapi juga dengan kebutuhan pelanggannya.


Tulisan ini disertakan dalan #GBCDesember

 

I am nobody but Ron Weasley

pfpzb1pzgxpbo

Siapa yang berani menggugat kelayakan Harry Potter mendapatakan satu kursi di asrama Gryffindor? Jauh sebelum ia menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah pertarungan panjang dengan Lord Voldemort, Harry dengan berani menyampaikan pendapatkan kepada topi seleksi. Ia tidak ingin ditempatkan di asrama Slytherin. Bisa jadi sepanjang sejarah dunia sihir hanya Harry yang pernah melakukan negosiasi tersebut.

Begitu pula dengan Hermione. Muggle dengan keahlian merapal matra, meramu serum, dan menguasai sejarah dunia sihir lebih baik dari anak yang lahir dari keluarga penyihir. Bukan hanya jenius ia selalu satu langkah lebih maju dalam urusan perencanaan. Saking cermatnya hingga Ron sering tidak habis pikir, kapan dan bagaimana Hermione melakukan persiapan.

Berbicara tentang Ron, saya harus mengakui bahwa ia adalah tokoh idola saya. Saya menyukai kekacauan kecil yang ditimbulkan Ron karena salah merapal mantra. Saya tersenyum geli menyaksikan kikuknya Ron menghadapi perempuan yang ia taksir. Saya ikut gemas melihat Ron yang tak kunjung menyadari perasaannya terhadap Hermione dan malah berpacaran dengan perempuan lain, bahkan saya merayakan sisi manusia Ron yang putus asa dalam usahanya membantu Harry Potter ketika berusaha menemukan Horcrux.

Terlalu sering memperhatikan Ron membuat saya berfikir, mengapa Ron yang tidak seperti seheroik Harry dan tidak sejenius Hermione tergabung di asrama Gryffindor?

Ron takut laba-laba. Bukan maksud saya menyatakan bahwa seorang Gryfindor dilarang mempunyai ketakutan. Hanya saja, rasa takut Ron terhadap laba-laba apalagi tidak dikisahkan penyebab yang menimbulkan trauma, terasa begitu ‘kecil’. Semua kekurangpiawaian Ron dalam merapal mantra dan membuar ramuan seolah menjadi pertanda bahwa Ron tidak akan mampu menyelamatkan dirinya sendiri, bagaimana ia akan menjadi pahlawan bagi orang lain?

Jangankan saya, Ron pun sempat merasa dirinya bukan siapa-siapa sebelum akhirnya meninggalkan Harry dan Hermione. Meskipun pada akhirnya ia kembali kepada kedua sahabatnya. Melanjutkan perjuangan mereka.

“He must have known I’d want to leave you.”
“No, he must have known you would always want to come back.”
J.K. Rowling, Harry Potter and the Deathly Hallows

Oh iya, ketika ia berada di tingkat dua Hogwarts, Ron memutuskan untuk menemani Harry mengikuti kumpulan laba-laba menuju Hutan Terlarang. Laba-laba kecil tersebut justru menggiring Ron berhadapan dengan laba-laba berukuran raksasa.

Bagi yang terlupa, Ron menjadi memandu pertandingan catur dengan pion-pion raksasa. Tidak hanya menjadi menyusun taktik, Ron juga tanpa ragu mengorbankan dirinya sendiri dengan demikian, pertarungan tersebut dapat mereka menangkan.

Ya, ia bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang Ronald Weasley yang rasa-rasanya tidak pantas menjadi anggota asrama Gryffindor. Tidak sepiawai Harry dalam bertarung, tidak sejenius Hermione namun Ron justru mempunyai karakteristik dasar yang hanya dimiliki oleh seorang Gryfindor. Kemampuannya melawan rasa takut dan kekecewaan atas dirinya sendiri, rela berkorban, setiakawan, bahkan meski terdengar mengeluh ia tetap turut menyelemat Malfoy yang hampir dilalap api.

Saya rasa itulah yang membuat Ron Weasley sangat menarik. Ia memperlihat sosok lain dari seorang pahlawan. Bukan seseorang yang selalu menjadi pusat perhatian, melainkan seseorang yang berhasil memanangkan pertarungan dengan dirinya sendiri.

“Longbottom, if brains were gold, you’d be poorer than Weasley, and that’s saying something.”
J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone


Tulisan ini disertakan dalam Gramedia Blogger Competition November 2015

 

Eternally Love

“Menurutmu, kalau aku meninggal nanti, dokter Wira akan bilang gitu juga nggak?” Ia bertanya tanpa melepaskan pandangan dari layar televisi.

Seorang dokter muda dengan dandanan berlebihan sedang berusaha menenangkan keluarga pasien. Keduanya berpelukan di depan sebuah pintu dengan tulisan ‘ruang operasi’. Sepertinya dokter ingin menenangkan keluarga pasien yang histeris setelah mendengar kabar buruk yang disampaikannya.

“Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin….”lanjutnya lagi, mengulang penyataan dokter di layar kata tadi. Sekarang ia menoleh ke arahku.

Sejujurnya aku tidak mengetahui di dunia apakah itu adalah standard operating procedure atau bukan. Hanya saja, aku sudah mengenal dokter Wira sejak lama. Dan dokter Wira sudah mengenal istriku jauh lebih lama lagi. Ia terlalu luar biasa untuk muncul dari balik ruang operasi hanya untuk mengatakan ‘Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin….’. Maksudku, kami bertiga sama-sama mengetahui bahwa ia memang sudah berusaha yang terbaik untuk istriku, jauh sebelum aku mengenalnya.

Ia mengenal kematian sudah sejak lama. Terlalu akrab sehingga baginya kematian adalah seorang sabahat. Layaknya berkisah tentang sabahat, tidak sekalipun aku menangkap perubahan nada bicara tentang kematian.

Pada awalnya aku dibuat tidak nyaman dengan frasa ‘kalau nanti aku meninggal….’ namun seiring dengan berjalannya waktu, aku pun mulai merasa obrolan seputar kematian seringan obrolan besok pagi mau sarapan apa.

Jadi bukan rasa tidak nyaman yang membuatku memilih membawa piring bekas nasi uduk ke dapur melainkan karena aku membutuhkan waktu untuk berfikir. Meski terbiasa, kematian tetap menjadi satu hal yang asing bagiku.

***

Satu Setengah Tahun Sebelumnya

“Kamu cantik”

Ada banyak hal yang bisa dipuji dari ia. Wajah pucat yang kontras dengan mata penuh binar. Nada tegas pada setiap perkataan yang meruntuhkan kesan ringkih akibat tubuh mungilnya. Senyum yang melebutkan rasa lelah. Hanya saja, apa gunanya berakata-kata indah untuk sesuatu yang sudah indah.

Ia menatap tepat ke mataku, cukup lama, tanpa berkedip, membuatku merasa canggung. “Apa yang kamu harapkan dengan pernyataan barusan?” tanyanya tanpa melepaskan pandangan.

Aku mengernyitkan dahi, mencoba menelaah sekaligus menemukan jawaban. Apa yang aku harapkan? Aku tidak yakin ini sebuah harapan atau tidak, namun aku sempat mengimajinasikan ia tersipu dan tersenyum malu-malu setelah mendengar pujianku. Dan aku salah.

“Aku sampaikan beberapa hal. Pertama Tuhan tidak berencana memberiku usia panjang. Oleh karena itu aku meminta agar Tuhan tidak membuang-buang waktuku dengan jatuh cinta pada orang yang salah. Aku yakin kamu adalah orang yang tepat. Aku rela menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Tapi, kamu? Apa kamu sanggup membangi sedikit waktu denganku?”

Aku bermaksud membantah pernyataannya yang terasa menyudutkan. Seolah hanya ia yang memanjatkan doa yang sama. Aku melewati masa kecil yang sulit, mengais-ngais makanan sisa dari rumah makan. Untuk seseorang sebatang kara dan selalu lapar, aku hanya punya satu cita-cita. Bahwa suatu hari aku bisa makan kapanpun dan apapun yang aku inginkan tanpa harus meminta dan merengek kepada salah seorang pelayan rumah makan. Makanan didapatkan melalui pertukaran dengan uang. Waktu adalah Uang. Jadi aku tidak butuh perempuan sebagai pengalihan.

Dia mengangkat tangannya, memintaku menahan pembelaanku, “Kedua, kalau pun kamu yakin bisa menerima waktuku yang sedikit, aku akan menghabiskan hasil kerja keras kamu selama bertahun-tahun…. demi membuat aku tetap hidup”

Aku tau itu. Ia harus menjalani kemoteraphy tiap 3 minggu sekali, mengkonsumsi obat-obatan setiap harinya. Ia sedang berperang melawan jutaan sel kanker yang menggerogoti hatinya.

Cita-citaku hanya bisa makan apapun dan kapapun yang aku inginkan. Dan hal itu hanya mengambil 20% dari penghasilanku saat ini. Oh Tuhan, apakah ia tidak paham? jangankan penghasilan hatiku akan aku donorkan, sayangnya aku bukan donor yang tepat.

“Ketiga, Seandainya kamu menerimaku, kamu menghabiskan semua yang kamu miliki demi aku masih bernapas sampai besok pagi, pada akhirnya aku akan tetap meninggal. Lalu bagaimana kamu akan menjalani hidup setelahnya?”

Aku terhenyak. Aku belum sempat meramal hingga babak ini. Anggan-anganku masih sampai aku akan berusaha apapun agar ia tetap hidup.

“Aku berjuang bertahun-tahun untuk tetap hidup. Ketika aku akhirnya meninggal, aku hanya ingin dua hal. Diingat sebagai seorang perjuang atau tidak pernah diingat sama sekali. Aku tidak butuh seseorang yang berputusa asa. Itu menodai perjuanganku selama ini”

Lihat betapa ia terdengar sangat meyakinakan. Ia tidak menurunkan nada suaranya juga tidak mengurangi intensitas tatapan matanya.

Ia baru saja beranadai-andai, dia lah yang akan pergi. Sebagai seseorang yang sudah mengorbankan banyak hal, kemudian ditinggalkan? Bukankah seharusnya ia mengkhawatirkan kondisiku kelak? Lalu bagaimana mungkin ia masih berfikir tentang dirinya sendiri.

“Kalau kamu belum bisa menemukan jawaban, aku rasa kita tidak usah bertemu dulu”

Aku terluka.

***

Tidak ada lagi piring yang perlu dicuci, tidak pula dengan panci dan wajan penggorengan. Aku kehabisan alasan untuk mengulur-ngulur waktu.

“Jadi apa kata piring-piring?” tanyanya, melempar senyum kecil ketika aku sudah kembali ke ruang tengah.

Aku menelusuri wajahnya. Aku bisa merasakan rindu merayap sedikit demi sedikit. Bagaimana mugkin aku merindukan seseorang yang bahkan masih berada dihadapanku. Aku bahkan masih bisa menggenggam jemarinya yang semakn kurus namun tidak pernah kehilangan kehangatan.

Menatap wajahnya seperti ini membuatku menyadari satu hal. Ia selalu mengisahkan kematian bukan agar aku terbiasa. Ia ingin membuat setiap waktu yang kami miliki menjadi sangat berharga. Seperti sepotong kue terakhir. Jika engkau mengetahui tidak akan ada potongan kue lain setelahnya, maka engkau akan menghargai potongan yang engkau miliki.

“Dokter Wati akan bilang seperti ini, ‘Istrimu sudah bersama sahabatnya tapi ia menitipkan seorang putri yang cantik’”. Aku menunduk, menempelkan kuping ke perutnya yang semakin besar.

Ia tertawa kecil, “Bagaimana kamu bisa yakin anak kita perempuan?”

“Soalnya aku ingin dia secantik kamu”

Seolah setuju, buah hati kami memberikan sebuah tendangan kecil.

“Kalau dia perempuan, dia pasti tomboy”ujarnya lagi membelai kepalaku lembut.

***

“Bagaimana kamu akan hidup setelahku?” Aku tidak butuh seseorang yang berputus asa”

Dua puluh sembilan hari berlalu. Petanyaanya terus menggema dalam benakku bersamaan dengan pertanyaan bagaimana keadaannya saat ini?

Aku masih bisa mengetahui keadaannya. Aku hanya perlu mengendap-ngendapa, menunggunya melewatkan pagi, mengelilingi taman seperti biasanya. Kadang aku hanya langsung pergi setelah melihatnya, kadang aku melewatkan waktu lebih lama, menunggu sampai ia meninggalkan taman.

Aku butuh menggenapkan menjadi satu bulan untuk menemukan jawaban yang tepat. Bagaimana aku akan menjalani hidup setelah kepergiannya?

Hari itu, ketika aku menghadangnya, ia sama sekali tidak memperlihatkan rasa kaget. Seolah ia sudah mengetahui bahwa aku akan kembali. Ia juga hanya memberikan sebuah senyuman ketika akhirnya aku buka suara.

“Aku mungkin akan menghabiskan semua yang aku usahakan selama bertahun-tahun demi kamu. Aku memang tidak pernah yakin untuk apa semua itu sebelum aku mengenalmu. Berjanjilah menitipkan seorang anak sebelum kamu pergi, dengan begitu aku akan kembali berjuang…. untuknya”

***


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Gramedia : Sebuah Pohon Rindang

Bayangkan sebuah pohon dengan dahan kokoh menjulur ke segala penjuru. Pada dahan tersebut melekat ranting lengkap dengan dedaunan yang lebat. Dedaunan itu bergerak kemana angin bergerak, menjadi penyejuk ketika matahari menjadi sedikit lebih garang daripada biasanya, dan menjadi pelindung ketika langit bersedih hati. Selain ranting, dahan-dahan tersebut juga tempat bergantung buah-buah. Ranum dan siap untuk dipetik.

Bagi saya, itulah Gramedia.

Pada tahun 1970, Gramedia masih berupa bibit pohon. Semangatnya untuk menjadi penyokong ilmu pengetahuan memberinya kekuatan untuk mendobrak tanah yang mengelilinginya. Matahari menjadi saksi bagaimana ia bertambah tinggi, kokoh dari hari ke hari. Hal yang Matahari tidak ketahui adalah di bawah permukaan tanah, akar-akar Gramedia bergerak tidak kalah aktif dengan dahannya. Ia mengumpulkan seluruh sari-sari ilmu pengetahuan untuk kemudian dibawa kepermukaan.

Ketika masih kecil, saya tinggal di pinggiran sebuh kota kecil, dimana Gramedia adalah sebuah kemewahan. Sebuah kemewahan dalam makna yang sebenarnya. Diperlukan perjalan berpuluh kilometer ke ibukota propinsi untuk menemukan sebuah bangunan bercat putih. Semakin mewah karena ia mempunyai pendingin udara, satu hal yang asing bagi saya kala itu.

Logo Gramedia muncul dalam banyak buku pelajaran dan buku bacaan semenjak saya sekolah dasar. Ketika akhirnya saya memasukinya, untuk pertama kali, saya seperti masuk ke sebuah taman bermain. Rak-rak berjejer dijejali puluhan judul buku seolah bertransformasi menjasi sebuah labirin yang menyenangkan. Dalam perjalanan menuju ujung labirin, saya maraih buku mana pun yang tidak lagi dibalut plastik pembungkus Saya ciumi halaman demi halamannya. Saya sua menciumi wangi buku baru. Aromanya menenangkan seperti aroma kayu dan dedaunan. Menenangkan.

Itulah dahan pertama yang saya kunjungi. Sekarang, ketika pohon tersebut sudah memiliki 45 garis usia, ia tetap menjelma menjadi tempat favorit saya. Kota manapun yang saya tinggali, saya selalu berusaha menemukan Gramedia terdekat. Salahkah ketergantungan saya pada buku, yang membuat saya tidak bisa lepas dari Gramedia. Jika kebanyakan perempuan akan berakhir di toko sepatu atau pakaian ketika mengunjungi pusat perbelanjaan, saya justru selalu berakhir di Gramedia bahkan ketika sebenarnya yang saya butuhkan adalah sebuah kemeja baru.

Semakin banyak kota yang saya kunjungi semakin banyak pula dahan Gramedia yang saya kunjungi. Saya mendatanginya dengan list panjang buku yang ingin saya baca dan kembali dengan list baru yang tak kalah panjangnya. Setiap hari puluhan judul buku baru dipajang sedangkan saya yang sekarang mulai kesulitan menemukan waktu yang cukup panjang untuk membaca.

Gramedia dengan pengalaman puluhan tahun menjadi ‘inang’ ilmu pengetahuan seolah paham dengan kebutuhan saya. Puluhan ribu judul buku diterbitkan dalam versi e-book. Lebih mudah diakses, lebih ringan dan tanpa batas. Saya bisa tetap membaca disela-sela menunggu angkutan umum atau disela-sela antrian. Namun demikian, saya tetap menyukai buku dalam bentuk cetak karena e-book tidak mempunyai bau yang khas.

Berapa usia pohon tertua yang pernah dicatat sejarah? Enam ribu tahun? Saya harap sepanjang itu pula Gramedia menjelma sebagai ‘inang’ ilmu pengetahuan.

Jika Hobi Sudah jadi Profesi

Minggu lalu saya menulis, kemudian beruntung diposting di salah satu portal berita online. TIba-tiba saja saya teringat beberapa orang teman saya yang memang berprofesi sebagai wartawan. Mereka mencari berita, dituliskan, untuk kemudian disebarluaskan. Beberapa orang dari teman saya tersebut memang hobi menulis. Kebanyakan menulis di blog pribadi yang sebenarnya tidak benar-benar pribadi, mengingat siapapun bisa mengaksesnya.

Bagi saya yang bertahun-tahun bermimpi menjadi penulis, ada tulisan yang berhasil menjadi nominasi sebuah kompetisi, disiarkan online oleh pelaksana kompetisi merupakan sebuah kebahagiaan. Karena dalam kompetisi ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi sehingga sebuah tulisan dinyatakan layak ‘terbit’.

Bagi saya yang amatir ini, melihat nama sendiri tercantum bersisian dengan judul atau dibagian paling akhir tulisan tentu sangat menyenangkan. Dan mungkin patut untuk dipamerkan di sosial media. Sama patutnya dengan postingan kumpul-kumpul di cafe para anak gaul/sosialita.

Lalu bagaimana dengan teman-teman saya tadi, yang sebelumnya menuliskan apapun yang mereka suka tanpa mempertimbangkan banyak faktor, sekarang harus menulis karena dibayar secara profesional untuk itu.

Topik yang spesifik, gaya menulis yang harus disesuaikan, karena setiap media membawa idealisme masing-masing. Setiap hari mereka harus menyelesaikan tulisan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan, sama halnya dengan pekerja lainnya yang harus menyelesaikan pekerjaan harian mereka. Apakah menulis masih menjadi satu hal yang menyenangkan?

Katanya,

” Ketika pekerjaanmu adalah hobimu maka kamu tidak akan merasa bekerja sama sekali “

Sebelumnya saya selalu mengangguk ketika mendengarkan pernyataan ini. Kedengarannya menjanjikan bukan? Namun kemarin saya mulai meragukannya.

Misalnya begini, bagi orang awam menyaksikan presenter acara jalan-jalan di telivisi tentu akan mengundang decak kagum. Secara berkala mengunjungi tempat-tempat indah di berbagai pelosok dunia, GRATIS dan DIBAYAR. Bagi penonton, semua yang mereka alami adalah sebuah ‘surga’.

Namun bagi sang presenter, surga tersebut bisa jadi hanya jelmaan sebuah kasur di rumah sendiri. Sebuah perjalanan menjanjikan keindahan namun bukan berarti semua jalan menuju keindahan tersebut landai. Untuk menyajikan sebuah tampilan lanskap dari puncak gunung tertinggi merek atentu saja harus melakukan pendakian terlebih dahulu. Jauh sebelum pendakian tersebut mereka harus menjalani serangkain latihan fisik untuk menjaga stamina.

Mereka sedang menjalankan hobi dengan balutan profesional.Dua hal yang sepertinya kontradiktif bukan?

Profesionalisme punya ruang lingkup yang terbatas jika dibandingkan dengan hobi. Katanya lagi hobi dilakukan di waktu senggang, setelah ia dijadikan profesi ia memasuki sebuah zona waktu yang disebut waktu kerja. Bahkan seorang freelancer sekalipun punya masa yang disebut jam kerja.

Hobi diharapkan memberi rasa senang, lalu ketika ia dijadikan sebagi sebuah pekerjaan, masihkan ia menjadi menyenangkan?

Entahlah, mungkin saya harus menemukan jawabannya sendiri.