Hidup Di Luar Tempurung

Benedict Anderson adalah Benedict lain yang saya sukai selain Bennedict Cumberbatch (tentunya).

Benedict Anderson muncul dalam radar saya ketika ketertarikan saya pada bacaan-bacaan kiri. Ia disebut mempunyai perpustakaan lengkap tentang sejarah Indonesia, saking lengkapnya (menurut artikel yg saya baca ketika itu) saya sampai ingin berkunjung. Ia jatuh cinta kepada Indonesia meski ia lahir di Tiongkok, berpasport Irlandia.

Tahukah kalian bahwa penyebutan “bule” pertama kali diciptakan oleh Benedict Anderson sekitar tahun 1962-1963. Ketika itu, ia pertama kali datang ke Indonesia untuk meneliti efek pendudukan Jepang di Indonesia. Pasalnya ia kikuk dipanggil “Tuan”, dibungkuk-bungkuki rakyat Indonesia yang berfikir ia orang Belanda. Ia memberikan panggilan “bule” untuk dirinya agar ia dibedakan dari orang-orang Belanda. Sejak saat itu, panggilan “bule” bergulir untuk orang-orang berkulit putih yang datang ke Indonesia.

Benedict meninggalkan Indonesia sebelum pecah peristiwa hebat tahun 1965. Setelah itu, ia termasuk kelompok yang dilarang masuk ke Indonesia, selama pemerintahan Soeharto. Alasannya, ia berasal dari Cornell University yang dianggap mendukung aliran kiri. Ia kembali mendapatkan hak untuk memasuki Indonesia pada tahun 1999.

Tentang judul yang dipilih untuk autobiografinya,Benedict Anderson menjelaskan (kurang lebih) seseorang yang berdiam di satu titik dalam waktu yang cukup lama akan berfikir hal-hal yang ada disekelilingnya sebagai satu-satunya dunia.

Benedict beruntung hidup berpindah-pindah sejak kecil yang membuatnya tidak mempunyai ‘tempurung’.

Begitu saja saya menjadi sangat ‘katak’.

Touch

Cobalah gunakan google untuk menemukan bagaimana sebuah sentuhan memberikan efek tornado dalam kehidupan seseorang. Mungkin kalian akan dipertemukan kisah haru seorang ibu yang berbisik kepada bayi merahnya.

Konon kata petugas media bayi tersebut telah pergi namun Si Ibu terus berbicara kepada bayi merah yang ‘nemplok’ di dadanya tersebut. Hingga pada satu detik, bayi tersebut kembali bernapas. Tidakkah kalian sering mendengar bahwa skin to skin adalah sarana penyaluran energi yang paling optimal antar manusia?

Begitu pula bagi Sia Lee. Sia adalah vampire ‘milenia’. Saya berterima kasih kepada Sia Lee dan golongannya yang telah menjalani revolusi ribuan tahun. Berubah dari makhluk penghisap darah menjadi makhluk penghisap energi. Melalui sentuhan.

Revolusi ini menciptakan kisah romantis baru yang tidak lagi segaring kisah Bella Swan dan Edward Cullen. Revolusi ini juga membawa kisah percintaan pemburu dan buruan ke babak baru.

Edward Cullen masih bisa menahan diri untuk tidak menghisap darah Bella, meski menurutnya darah Bella sangat lezat. Lagi pula Edward sudah lama jadi ‘vegetarian’ bukan?

Nah sekarang bayangkan, bagaimana Sia Lee bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Jiho, kekasihnya? Padahal bersentuhan adalah naluri dasar setiap pasangan. Inilah yang membuat saya bersemangat sejak bab pertama. Sia Lee membawa sebuah kontradiktif.

Topik menarik ini digarap dengan luar bisa menakjubkan. Dibagian awal cerita, obsesi Sia Lee terhadap Jiho hanya karna energi Jiho begitu lezat. Menyentuh seseorang bukanlah perkara rumit. Dalam setiap kesempatan sengaja atau tidak sengaja, sentuhan menjadi pengiring aktivitas. Termasuk persentuhan Sia Lee dan Jiho yang pertama, terjadi karna keduanya bertabrakan tanpa sengaja.

Sia kesulitan menyentuh Jiho, tetangganya sendiri, karna Jiho mengidap OCD. Jiho terobsesi dengan kebersihan. Ia membawa disinfektan kemana pun ia pergi. Ia tidak menjalani kontak langsung dengan manusia karna disanalah pertukaran kuman penyakit terjadi. 

Sia berusaha menyembuhkan kelainan Jiho hanya agar ia bisa menyentuh Jiho, mendapatkan makanannya. Sia dan Jiho tidak pernah mempertimbangkan, jalan yang mereka tempuh bukan hanya menyembuhkan Jiho tetapi juga menumbuhkan perasaan lain.

Kisah berkembang. Sia Lee mendapati Jiho pingsan dipagi hari hanya karna sepanjang malam, Jiho menggenggam tangannya. Belakangan baru diketahui bahwa Sia tidak punya kemampuan untuk mengontrol seberapa banyak energi yang bisa ia serap dari buruannya.

Jika diibaratkan kepada manusia, Sia Lee tidak punya sistem yang memberikan sinyal bahwa ia sudah kenyang. Ia bisa terus menerus ‘makan’ tanpa ia sadari. Ia tidak menyadari karna selama ini ia tidak pernah menyentuh buruannya dalam waktu yang sangat lama.

Semakin buruk, karena kealphaan Sia Lee memantau ‘rasa kenyang’ ini berhubungan dengan kekuatan perasaannya. Semakin dalam ia menyayangi seseorang semakin kuat ia menyerap energi orang tersebut. 

Pada akhirnya, kedalaman perasaan Sia Lee bisa membunuh Jiho hanya dengan satu sentuhan dengan menggunakan ujung jari.

Menarik bukan?

Pasalnya Bella Swan masih punya kesempatan hidup bahagia selama-lamanya bersama Edward, dengan mengubah Bella menjadi vampire. Mereka bahkan sampai punya anak.

Sia Lee? Apakah Jiho harus diubah jadi Vampire? Sampai saat ini belum ada indikasi bahwa penulis ingin menuju ke arah situ. Dan saya berharap sangat, kalau itu tidak sampai terjadi.

Sia Lee, ingat, kamu hasil evolusi yang luar biasa dari nenek moyangmu Edward Cullen. Please jangan berakhir segaring kisah dia. Kamu harus lebih baik.

*Ini adalah kartun yang saya baca di Webtoon. Judulnya Untouchable dan episode terbaru terbit setiap Senin.

Kzl.

[BUKU] Sang Penjaga Waktu

Hanya manusia yang mengukur waktu. Itulah sebabnya manusia mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lain. Takut kehilangan waktu. (Hal.17)

Jika ada orang yang harus dipersalahkan berkaitan ketakutan manusia akan hilangnya waktu, ia adalah Dor. Seorang anak laki-laki yang menjadikan ‘menghitung’ sebagai obsesinya. Ia mulai mengukur waktu tempuh matahari dari terbit hingga tenggelam dengan menggunakan bayangan sebatang kayu. Ia mengukur munculnya rembulan hingga lenyap dengan menggunakan tetes air dari sebuah mangkuk bocor. Ia menandai setiap perubahan wujud bulan, dari tiada-sabit-separuh-purnama-separuh-sabit-tiada, menjadi satuan yang kita sebut bulan.

Satu-satunya hal yang bisa mengalihkan perhatian Dor akan waktu adalah Alli. Sayangnya Ali terkena penyakit. Ketika Alli sekarat, untuk pertama kalinya Dor ingin mengingkari sang pencipta. Ia ingin menghentikan waktu.

Atas pengingkarannya tersebut Dor dihukum. Ia dikurung dalam sebuah gua, tidak bertambah tua namun mendengar jeritan-jeritan manusia tentang waktu. Ada dua jenis manusia jika berkaitan dengan waktu. Jenis yang ingin lebih banyak waktu dan jenis yang  ingin mempercepat waktu.

Victor adalah golongan pertama. Ia hanya memiliki waktu dua bulan saja sebelum tumor mengacaukan kondisi fisiknya. Victor memburuhkan satu kesempatan hidup sekali lagi, ia berencana membekukan tubuhnya dan dihidupkan kembali ketika tekhnologi masa depan telah menemukan penyembuh yang tepat.

Sarah termasuk golongan kedua. Ia tidak mempercepat waktu yg dimiliki setelah dipermalukan oleh laki-laki yang ia cintai. Ia ingin meracuni diri dengan gas karbon di dalam mobil tertutup.

Dor harus menyelamatkan kedua orang ini. Menjelaskan kepada mereka bagaimana waktu seharusnya dihadapi. Hanya dengan cara itu, Dor bisa terlepas dati hukumannya, menjadi tua, mempunyai batas waktu.

Buku ini bisa dibilang punya plot datar. Tidak ada gejolak yang signifikan dari kehidupan Victor,Sarah maupun Dor. Namun memangvaudah seharusnya seperti itu karna buku ini tidak ditulis untuk menghadirkan lonjakan adrenalin. Mitch Albom menghadirkan buku ini agar pembaca punya pemahaman baru tentang waktu. Atau bagi yang sudah sampai pada pemahaman yang sama dengan Mitch Albom, buku ini hadir untuk menjelaskan waktu ke dalam bentuk nyata. 
Buku ini membuka perspektif saya tentang waktu. Waktu hadir tidak terlambat, tidak kecepatan, ia hadir secara tepat. 

Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat, semua terjadi pada waktu yang ditetapkan. (Hal.232)

Hanya saja kebiasaan kita sebagai manusia menjadikan waktu sebagai patokan, membuat waktu menjadi menakutkan. Terlalu fokus pada waktu justru membuat kita kehilangan momen.

Ketika manusia semakin terobsesi dengan jam-jamnya,kesedihan akibat waktu yang hilang menciptakan kekosongan dihati. (hal.89)

Tan Malaka

Gw (mungkin juga kalian) terbiasa dengan nama Suwardi Suryadiningrat, Haji Agus Salim, Cokroaminoto, Semaun dan Alimin. mereka adalah sesikit dari banyak tokoh sejarah yang namanya muncul di buku pelajaran Sejarah. Bagaimana dengan Tan Malaka?

Ingatan pertama gw dengan Tan Malaka, berasal dari masa 5-6 tahun lalu. Ketika seorang teman menenteng-nenteng buku Tan Malaka disela acara makan siang kami. Ia berkisah sedikit tentang Tan Malaka sebagai salah seorang tokoh sosialis dan petinggi Partai Komunis Hindia pada masanya.

“Ia juga dari Sumatera Barat loh…” katanya menambahkan, menyampaikan kesamaan antara Tan Malaka dengan gw.

Setelah hari itu, Tan Malaka lenyap. Rasa-rasanya tidak ada satu orang pun disekitar gw yang menyebut atau mengingatkan Tan Malaka. Ia melesap menjadi ‘bukan siapa-siapa’.

Hingga akhirnya Tan Malaka gw temukan sedang berdiam diri di sebuah toko buku.Pertemuan kami berlanjut.

Ia mengisahkan kembali bagaimana ia berasal dari keturunan terhormat di Minangkabau. Ia kehilangan suku, harta, kampung dan keluarga karna lebih memilih kesempatan belajar di Netherland, menanggalkan gelar Datuk Tan Malaka, yang baru saja disempatkan kepadanya. Datuk adalah gelar bagi pimpinan kaum/suku di Minangkabau.

Ia meninggalkan Minangkabau, merantau ke Netherland demi cita-cita menjadi guru. Sayangnya, empati luar biasa Tan Malaka kepada kaum kromo (pribumi dengan status sosial paling rendah) justru membuatnya menjadi seorang aktivis. Di Netherland, ia bergabung dengan pelajar Indonesia lainnya, membentuk perkumpulan dan organisasi yang menyuarakan hak Hindia, tanah jajahan. Ia dianggap berbahaya oleh pemerintah Netherland ketika itu, karna terlalu berani mengkritisi kebijakan Sang Ratu.

Ia terpaksa kembali ke Hindia, melarikan diri. Tidak akan gentar singa dibuang.  Sekembalinya ke Hindia Tan Malaka dikenal sebagai ‘provokator’ kalangan buruh untuk melakukan aksi mogok. Aksi demi aksi membuat pemerintahan Netherland semakin kewalahan. Pemogokan buruh berdampak kepada hasil perkebunan, berpengaruh kepada ketersediaan rempah di Eropa. Aktivitas dan tulisan-tulisan Tan Malaka juga membuatnya menjadi salah satu orang yang diincar oleh pemerintahan Netherland di Hindia ketika itu.

Setali tiga uang dengan kampung halaman dan cita-cita, Tan Malaka pun tidak mujur dalam cinta. Cinta pertama diperistri orang lain. Cinta kedua meninggal ditembak mati.

Dengan raga kekasih di pelukan, hati yang luluh-lantak, Tan Malaka diasingkan ke Digul.

Begitulah Tan Malaka mengakhiri kisahnya kepada gw.

Tan, sungguh kita hatus berjumpa lagi.

Atau gw harus ke Digul?

Metafora Padma

*Foto diambil dari Instagram Bernard Batubara.

Bagi yang belum pernah membaca karya Bernard Batubara, anggap saja kamu beruntung tanpa sengaja berkunjung ke tulisan saya ini. Sebagai seseorang yang belum pernah membaca buku Bernard Batubara, (mungkin) apa yang saya tulisakan sedikit lebih subjektif dari pada penggemar yang sudah membaca karya Bernard Batubara kemudian tergila-gila. :mrgreen:

Bernard Batubara sepeti hendak merayakan kehilangan. Keempat belas kisah dalam Metafora Padma bercerita tentang kehilangan. Kekasih akan pasangannya, anak akan orang tuanya, rumah akan penghuninya, juga penulis akan idenya.

Menariknya, meski kehilangan sama-sama menggoreskan luka, Bernard Batubara mengisahkan luka tersebut dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Setiap luka yang ia kisahkan seolah bercerita sendiri-sendiri.  Saya tidak menemukan pencerita tunggal di sana. Walaupun tidak kurang dari setengah kisah dalam Metafora Padms mengambil setting yang sama,kepala-kepala yang terlepas dari badan akibat konflik antar suku, di suatu kampung, beberapa tahun silam.

Menurut saya, membaca Metafora Padma itu seperti menyelami kenangan yang tersimpan di dalam sudut terdalam ingatan.

Ingatan tidak pernah sepenuhnya lenyap, ia akan selalu menemukan jalan untuk hadir. Dalam bentuk seorang perempuan bernama Padma, rumah lama, satu jilatan es krim, sekelompok anak muda yang tengah berlari, potongan ibu jari, al-kitab atau bahkan sekedar helaan nafas.

Saya tidak berharap akan menemukan twist pada cerpen-cerpen dalam Metafora Padma. Sebagaimana kenangan, kita sudah mengetahui intinya, meski beberapa detail pendukung diingat dengan samar, sebuah kenangan seringkali tidak akan memberikan kejutakan kepada tuannya,bukan?

Kekuatan dari sebuah kenangan adalah kedalaman kisah. Sesuatu yang membuat pihak luar yang menyaksikan kenangan tersebut melongok ke dalam diri mereka masing-masing. Menemukan bahwa dalam dirinya juga tersimpan kenangan yang tidak jauh berbeda.

Orang-orang yang kehilangan identitas, orang-orang yang kehilangan cinta, bangunan yang kehilangan penghuni. Orang-orang yang kehilangan ruang sendiri ditengah hiruk-pikuk moderenisasi. Semua itu adalah kita.

Jika Bernard Batubara benar-benar yakin untuk menjadi penulis harus menjadi seorang kanibal, harus saya akui ia berhasil memutilasi kenangan-kenangan di sekitarnya. Untuk kemudian diceritakan ulang dengan kata-kata yang memikat.

Kisah yang paling saya sukai adalah Gelombang. Belum pernah saya menyaksikan metafora dua anak manusia dalam bentuk pantai dan laut semenarik itu. Rasa-rasanya setelah ini saya akan menyaksikan pantai, laut, palung dan penyelam sesuai dengan versi yang baru saja saya baca.

Disusul dengan Kanibal. Saya bergenjit membaca bagaimana seorang penulis memulitasi dirinya sendiri, untuk menghasilkan sebuah cerita yang nyata. Bernard Batubara bahkan merasa tidak perlu melakukan sensor. Begitulah, beberapa kisah memang perlu disampaikan apa adanya. Tidak perlu memaksa sopan.

[Movie] Eye In The Sky

Don’t tell a soldier the cost of the war

Film ini dibuka dengan  Gadis Kecil bermain hula hoop. Permainan tersebut  terhenti ketika ia harus menjajakan roti buatan ibunya di sebuah pertigaan. Sebuah pembuka yang membuat saya terus menerus bertanya apa peran gadis kecil ini kelak. Ia seperti pihak luar diantara kelompok militan dan kelompok militer.

Sebuah kelompok militan baru saja merekrut dua orang remaja yang ditenggarai sebagai pelaku bom bunuh diri. Sementara itu kelompok militer ingin menangkap salah seorang buronan kelas kakap, yang tak lain adalah istri dari kelompok militan yang bersangkutan.

Misi penangkapan ini dimulai dengan mengintai 2 remaja tadi. Berawal dari penjemputan di bandara, hingga pertemuan singkat di sebuah rumah yang dijadikan persinggahan pertama. Selanjutnya, 2 remaja terebut bersama seorang wanita lain {kemungkinan adalah si buronan] diangkut menuju rumah selanjutnya. Kali ini disebuah pinggiran kota.

Berdasarkan hasil pantauan udara, ternyata rumah Gadis Kecil tepat berada dibelakang rumah kelompok militan. Namun hal ini tidak memberikan dampak apapun terhadap misi penangkapan. Pasalnya daya ledak misil hanya memberikan kerusakan total pada bangunan target, namun tidak berpotensi menyebabkan kehilangan nyawa bagi bangunan disekitarnya.

Perubahan misi dari penangkapan menjadi bunuh ditempat telah disetujui. Misil siap diluncurkan pada hitungan ketiga. Pada saat yang sama, Gadis Kecil keluar dari rumah dan mulai menyusun roti dagangannya. Gadis kecil tepat berada dalam radius ‘menyebabkan kehilangan nyawa’ lontaran misil.

Apa yang harus dilakukan? Jika lepaslandas misil ditunda diperkirakan 80 orang warga sipil akan menjadi korban 2 ledakan bom bunuh diri berkekuatan sedang. Jika misil tetap diluncurkan Gadis akan menjadi pahlawan tak dikenal.

Kalau dilihat dengan menggunakan kacamata matematika, maka mengorbankan 1 demi menyelamatkan 80 adalah pilihan yang tepat. Namun manusia dibekali naluri yang membuat kalkulasi ini menjadi lebih rumit.

Siapa yang akan menjadi Tuhan, yang menentukan Gadis Kecil hidup atau mati?

Kehadiran Gadis Kecil menimbulkan perperangan lain. Bagi dua orang pilot pengintai dari udara, ini adalah pengalaman pertama mereka ‘membunuh’. Membunuh kelompok militan saja masih membuat jiwa keduanya bergetar apalagi membunuh seorang Gadis Kecil yang tidak mengetahui apa-apa.

Bagi pimpinan misi dari kesatuan militer ini adalah satu-satunya kesempatan untuk ‘menangkap’ buronan setelah sekian lama dan kesempatan untuk menhindari lebih banyak korban.

Bagi para mentri, ini adalah pilihan sulit karena keputusan mereka akan menentukan siapa yang akan meregang nyawa dalam 10 menit ke depan.

Eye in the sky memperlihatkan wajah lain dari sebuh perperangan. Rasa kemanusiaan yang seringkali luput dalam aksi-aksi hebat spionase dan taktik jendral perang. Ini lah yang membuat Eye In The Sky layak ditonton.

 

[Book] Rencana Besar Oleh Tsugaeda

 

 

Setelah terpikat dengan Sudut Mati, gw berusaha menemukan buku pertama Tsugaeda, Rencana Besar. Sepertinya dari pihak penerbit tidak mencetak ulang Rencana Besar karena tidak satu toko buku offline yang gw datangi masih memiliki  kopi buku ini, tidak pula dengan toko buku online. Hingga pada suatu siang yang beruntung di bazaar IBF, gw menemukan 2 kopi dalam kondisi cukup baik dengan harga luar biasa melegakan kantong. Dua belas ribu rupiah saja.

Harus gw akui dari segi plot dan tata bahasa Sudut Mati lebih baik, bukti bahwa Tsugaeda berkembang dalam aktivitas kepenulisannya *sotoy*. Tapi mengingat genre thriller dikalangan penulis Indonesia masih sangat jarang (versi novel yang gue baca dan koleksi) maka Rencana Besar tetap berada pada kelompok buku yang akan gw rekomendasikan kepada orang-orang.

Beberapa bab awal Rencana Besar berkisah tentang penyidikan awal Makarin terhadap 3 suspect, Reza, Riffad dan  Amanda atas dugaan penyelewangan dana 17 M di UBI, Universal Bank of Idonesia. Penyidikan atas ketiga orang tersebut justru menggiring Makarim kepada peristiwa yang lebih besar. Pembunuhan berencana terhadap salah seorang karyawan UBI beberapa tahun yang lalu, Ayumi Pratiwi.

Dalam kancah perpolitikan institusional *entah tepat entah tidak istilah ini* seseorang atau sekelompok orang sengaja ‘dibungkam’ karena ia atau mereka mengetahui terlalu banyak. Ayumi Pratiwi memang berhasil dibungkam, namun kemungkinan Ayu telah mewariskan ‘informasi’ kepada tiga anak didiknya mengudara.

Kepada siapa? Siapa dari ketiga orang tersebut yang mengetahui rahasia besar ini? Riffad, ketua serikat buruh yang frontal dan provokatif terhadap management UBI? Reza sang pemikir handal? atau Amanda, karyawan berprestasi yang terlihat sangat loyal kepada perusahaan?


Beberapa bab awal ini memang agak datar, namun menjasi semakin menarik dengan perkembangan penyidikan Makarim. Menurut gw ke-3 tokoh yang dijadikan suspect terlihat tidak imbang. Riffad terlihat lebih dominan dan mempunyai karakteristik yang lebih menarik perhatian pembaca *yaitu gw* dibandingkan 2 rifalnya.

Amanda dan Riffad diciptakan oleh penulis sebagai kutub yang berlawanan. Amanda dari golongan loyalis perusahaan sementara Riffad dari kolongan Patriot, yang menginginkan perubahan. S

ayangnya, Amanda hanya diceritakan sebagai seorang karyawan berprestasi, tidak ada bagian yang menunjukan bahwa Amanda mampu menggerakan orang-orang yang loyal kepada perusahaan. Sehingga lagi-lagi Riffad menjadi terlalu menonjol.

Dalam kisah-kisah thriller konspirasi (tulisan atau film), pemirsa memang digiring untuk menduga salah satu tokoh sebagai tersangka dan efek thrilling muncul ketika dugaan pemirsa tersebut salah.

Dalam Rencana Besar, gw rasa Tsugaeda berusaha keras agar pembaca menduga Riffad-lah pelakunya. Usaha yang terlalu keras inilah yang menyebabkan karakter Amanda dan Reza kurang digarap dengan baik. Bayangkan ketika ketiga tokoh ini digarap dengan kekuatan yang sama.

Reza, seorang pemikir dan mempunyai kemampuan taktis meski tidak mempunyai dukungan massa, tentu bisa menghasilkan kekacauan yang super massive.

Amanda dengan semua kepintaran dan loyalitas terhadap perusahaan tentu mampu menarik simpati dan role model bagi karyawan-karyawan yang lebih menginginkan jenjang karir, kesusksesan diusia muda. Ia punya kesempatan menjadi pemimpin gerakan bawah tanah atas 27.500 orang karyawan UBI karena hanya 2.500 orang yang berteriak lantang dibawah komando Riffad.

Tapi secara keseluruhan, seperti yang gw bilang diatas. Buku ini layak untuk disampaikan kepada teman-teman untuk dibaca. Ingat versi asli ya, jangan bajakan.