See You Next Year

 

web-6453594_m

Advertisements

Ngupi di Belitung

Bagi yang sudah menamatkan tertalogi Laskar Pelangi, tentu paham bagaimana sebuah warung kopi menggerakan kehidupan sosial budaya di Belitung. Berangkat dari Laskar Pelangi, ditambah dengan cerita dari orang-orang yang pernah berkunjung, maka aroma kopi sudah membayangi langkah saya bahkan sejak masih di Jakarta.
Warung kopi pertama yang saya kunjungi terletak di Manggar, Belitung Timur. Konon kataya “Mun lum ngupi, lum sampai Manggar”, belum sampai ke Manggar kalau belum ngopi. 

Manggar dikenal dengan 1000 warung kopinya yang buka selama 24 jam. Bukan satu warung kopi yang mendominasi satu hari full namun warung kopi dibuka mengikuti shift tertentu. Beberapa warung buka dari pagi hingga siang, sementara yang lain baru mulai siang hingga malam dan begitu seterusnya selama 24 jam.

Warung kopi pertama saya ini, terletak tidak jauh dari Toko Sinar Harapan. Toko kelontong tempat ikal jatuh cinta pada kuku-kuku cantik Aling (Kisah di LAskar Pelangi). 

Di belitung, bubuk kopi dimasak ke dalam air mendidih. Air rebusan kopi tersebut dituang ke dalam gelas belimbing ukuran sedang yang terlebih dahulu suddah berisi susu kental manis. Ya! selain cara memasak bubuk kopi, kekhasan lain kopi Belitung adalah penggunaan susu kental manis sebagai pengganti gula.

Kopi pertama saya di Belitung, tidak terlalu kuat dan kemanisan. Terlalu banyak susu kental.

Hari kedua di Belitung, saya mengunjungi Kong Djie Coffee, salah satu warung kopi yag cukup terkenal di Belitung Barat. Menurut saya Kong Djie Coffee menjadi ternama karna cabangnya yang sudah menyebar di Belitung Barat dan tentu saja deretan artis kenamaan yang sudah menyambanginya, membuat Kong Djie mendapat nilai lebih.

Pagi itu, saya menikmati satu gelas kopi susu ditemani beberapa makanan kecil. Sayangnya saya belum dipertemukan dengan makanan-makanan kecil khas Belitung. Kopi hari kedua saya ini pas. Tidak manis, namun tetap kopinya “nggak nendang”. Hanya saja saya masih belum siap menikmati kopi O, kopi hitam ala Belitung. Sepertinya terlalu bapak-bapak.

Kopi terakhir saya di belitung, saya nikmati di warung kopi Ake, warung kopi tertua di Belitung. Bukan hanya tahun berdirinya, warung kopi Ake ini juga memiliki meja dan kursi “vintage”. Seolah ingin menyatu dengan sebutan warung kopi tertua yang di sandangnya. Berbeda dengan warung kopi di Belitung yang mempunyai meja dan bangku-bangku panjang. Atau dengan Kong Djie dengan meja dan bangku sedang (mirip warung makan).

Kopi terakhir ini lagi-lagi kemanisan.

Sebuah pengalaman menarik, menelusuri warung kopi, di negeri yang justru tidak menanam kopi. Meski sebentar.

Natal di Belitung

Dua orang petugas bersiap di masing-masing sisi tangga. Menyerahkan payung kepada setiap penumpang. Hujan mendera tanpa ampun sejak pesawat yang saya tumpangi meninggalkan bandar udara Soekarno-Hatta dan tidak reda hingga mendarat di Belitung.

Tidak ada yang mampu mengalahkan kebahagian seorang ‘turis’ yang merindukan jalan-jalan. Tidak pula hujan lebat. Derap langkah saya semakin cepat mendekati ruang tunggu, lanjut ke pintu keluar bandar udara. Tempat seorang pemandu perjalanan telah menunggu.

Di sepanjang jalan menuju tengah kota, pemandu menjelaskan sejarah Belitung, sementara saya terpaku memperhatikan kondisi diluar sana. Saat itu sudah mendekati pukul sembilan pagi, tapi mobil yang saya tumpangi nyaris menjadi satu-satunya kendaraan yang berada di jalanan. Bukan hanya ketiadaan kendaraan, rumah-rumah penduduk pun tidak memperlihatkan kehidupan yang berarti.

“Apakah Belitung di pagi hari memang seperti ini?”

“Kebanyakan yang punya toko di Belitung adalah warga beretnis Tionghoa, sekarang hari Natal, jadi kebanyakan masih pada tutup. Lagi pula hujan deras seperti ini…” jelasnya.

Saya kembali menatap bulir-bulir hujan yang menghujam kaca jendela mobil. Untuk sebuah pulau yang tidak memilik area pegunungan, hujan di belitung benar-benar dipengaruhi arah angin. Sepanjang angin laut mengarah ke Belitung, sepanjang itu pulalah Belitung akan dihujani.

Mendekati siang, meski hujan kadang berhenti kemudian turun lagi, jumlah orang yang saya temui di tempat-tempat wisata pun tidak memperlihatkan jumlah yang signifikan. Dan berlanjut hingga malam hari. Ketika saya menikmati sajian Seafood di salah satu restoran yang bersisian dengan Pantai Tanung Pendam, hanya 2-3 meja yang dihuji pengunjung.

Natal di Belitung justru lebih mirip nyepi ya?

Berbicara tentang nyepi, saya masih menyimpan keinginan untuk merasakan Nyepi di Bali. Larut dalam keheningan fisik, agar dapat mendengar keributan di dalam diri sendiri.

Saya tidak tau, apakah ini memang suasana natal ala belitung atau ini adalah suasana natal ala hujan lebat di Belitung.

Hanya Teddy Yang Boleh

Bayangkan pada suatu hari menjelang akhir tahun, kamu terbangun dan menemukan sebuah pesan tak bertuan. Sebenarnya surat itu punya tuan, sayangnya saat engkau menemukannya, SangvTuan telah mengjilang.

“….Aku ingin pergi untuk beberapa saat. Aku ingin melihat dunia, melihat apa yang selama beberapa tahun ini aku lewati begitu såja. Aku harap engkau mengerti….”

Pesan perpisahan memang tidak pernah berpanjang-panjang. Seseorang yang ingin pergi, selalu ingin bergegas. Telepas dari apakah ia tidak ingin menorehkan luka yang cukup dalam atau mungkin memang tempat yang ia tuju lebih baik dibandingkan tempatnya meerapat saat ini.

Yang ditinggalkan, tanya bisa termangu. Ia hendak mengejar tapi yang pergi sudah berlalu sangat jauh. Lagi pula ia tidak harus berlari ke arah yang mana. Maka berdiamlah ia dengan kesedihannya.

***

Bayangkan, setelah dua belas purnama berlalu. Ia datang kembali dalam bentuk sebuah amplop biru. Diselipkan melalui celah pintu. Tidak ada surat di dalamnya. Ia hanya ingin berkabar, ia sudah kembali  dari melalang buana. Ia pikir sepucuk amplop biru cukup untuk menandai, kehadirannya secara fisik dalam waktu dekat.

Ia gila.

Bukan hanya dia.

Aku pun gila. Uring-uringan menanti apa rahasia dibalik amplop biru kosong.

***

Tahun berganti. 2015 ketika ia pergi. 2017 ketika ia kembali. Dan ia kembali dengan tanpa perasaan bersalah.

 

Iya, cuma Teddy ini yang boleh. menghilang setahun lalu kembali dengan ekspresi menggemaskan.

Kamu jangan.

Karena kamu nggak bisa bikin lirik sedahsyat dia. Kamu juga nggak punya suara seenak dia.

2016: Tahun Membaca Terburuk

Tahun ini saya hanya berhasil menuelesaikan 29 buku. Saking tidak percaya dengan hasil perhitungam Goodreads, saya sampai menghitung sendiri jumlah buku yang saya selesaikan sepanjang tahun 2016. Jumlahnya dua puluh sembilan. Tidak lebih tidak kurang. Padahal tahun-tahun sebelumnya sama bisa membaca sekitar 40 buku dalam setahun. 

Sebegitu sulitkah membaca? 

Dulu saya suka mencemooh orang-orang yang punya timbunan buku untuk dibaca. Bagaimana mungkin kalian mengaku hobi membaca tapi tidak sempat membaca? Begitu kira-kira yang ada dalam benak saya. Karena (dulu) saya selalu bisa meluangkan waktu untuk membaca, namun bahan bacaan terbatas (saya belum hobi ke perpustakaan, dan budget beli buku sangat terbatas).

Dulu saya membaca dalam situasi “Well Prepared”. Duduk-goleran diatas kasur, menyalakan radio/musik, membaca, tanpa snack, inilah yang saya sebut dengan “well prepared”. Saya benar-benar menyempatkan diri untuk membaca. Bisa malam, pagi, siang, sepanjang siang, bahkan sepanjang malam. Bebas yang penting ashoyy.

Sekarang, sering kali saya membawa satu buah buku jika sedang bepergian antar kota. Maksud hati ingin membaca buku disepanjang perjalanan atau disela-sela waktu liburan, atau bahkan untuk mengisi waktu menunggu angkutan.

Anehnya, semakin saya berusaha menyisipkan waktu untuk membaca, semakin saya tidak membaca sama sekali. Selalu ada hal lain yang merenggut waktu membaca ini. Kepikiran pekerjaan, cek media sosial karna di kantor nggak sempat, cek berita dan situs belanja online dan sebagainya.

Ternyata menyediakan waktu untuk membaca memang sesulit itu. Wajar kalau tahun 2016 ini saya tidak menghasilkan tulisan yang bisa membuat saya berpuas diri. Membaca adalah makanan untuk menulis. Mustahil menghasilkan tulisan baik kalau tidak rajin membaca. Sama mustahilnya dengan ingin tubuh ideal tapi jarang olahraga.

Unfinished Yet

Manusia menitipkan ingatan pada benda, pada tempat, dan pada waktu.

Itulah mengapa matahari yang sama, tenggelam di tempat yang sama, menyesapi pemujanya dengan cara yang berbeda.

Gadis berambut panjang tersenyum hangat karena matahari telah mengingatkannya pada kekasih yang saban hari mengiriminya foto senja.

Anak laki-laki kumal gemetar, semakin sedikit wajah matahari yang tersisa semakin hatinya kelu. Ia harus bergegas pulang, meski tidak lagi ada Ibu yang menyambutnya.

Anjing hitam melolong panjang, menyampaikan rindu kepada tuannya yang dipinjam lautan. Namun, tidak pernah dikembalikan.

Bahkan anjing sekalipun punya ingatan.

Unlock Your Potential

Meski  gramatically error, tapi gw pikir apa yang coba disampaikan oleh gambar diatas cukup mudah dipahami.

Ratusan ribu tenaga kerja baru dilahirkan dari perut-perut institusi pendidikan setiap tahunnya. Seperti segerombolan semut menggerogori dua tiga remah kue. Oh bukan, bukan semut, karna semut tidak bersaing satu sama lain. Mereka berkerjasama.

Ratusan ribu calon tenaga kerja ini, berebut potongan kue yang sama. Seseorang yang tidak ‘jago’ akan digantikan dengan ‘pejantan’ lainnya. Meminjam istilah kakak Katty Perry, “Like a girl changes her clothes“. Ya semudah itu.

Bagaimana dengan si senior? Ia telah melampaui tahun-tahun panjang yang akhirnya tidak hanya memperkuat skill tetapi juga intuisi. Rutinitas yang sama selama bertahun-tahun yang membuat seorang penyidik mampu mendeteksi kejanggalan sebuah TKP hingga akhirnya mengungkap pelaku kriminal dalam waktu dekat. Satu hal yang mungkin langka jika kita coba temukan pada tenaga kerja baru.

Ditempa di tempat yang sama selama bertahun-tahun membuat sebuah mata pisau tajam, namun majal pada sisi yang lainnya. Kemampuan seorang senior jelas dibutuhkan, namun ketika sisi majal yang lebih dikedepankan, seorang senior cepat atau lambat akan keluar dari arena pertarungan.

Perasaan ‘senior’ terkadang membut seseorang menjadi kaku. Sementara itu dunia selalu bergerak dinamis. Yang satu menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya. Dari ketiadaan muncual sesuatu yang baru dan diakui. Seorang senior tidak bisa bertahan menjadi es balok. Ia harus melelehkan dirinya, agak sesuai pada wadah apapun.

Dalam teori investasi ada sebuah pepatah yang sering didengungkan

Don’t put your eggs in one bucket.

Jangan hanya ahli dalam satu bidang. 

Disambungkan dengan meme si bebek di awal postingan ini, probabilitas seorang ketenargakerjaan untuk digantikan sangat besar. Dan menjadi seseorang dengan kemampuan original juga satu hal yang sangat langka. Ide baru berkembang setiap hari. Ide baru yang sudah muncul kepermukaan akan segera mendapat tandingan. Lihat saja bagaimana China bisa merilis ponsel yang sama hanya berselang bulan dari Apple meluncurkan produk baru. Ketika sudah sampai dipermukaan tidak ada ide yang ‘benar-benar’ original.

Menjadi yang terbaik dalam satu hal adalah hebat. Namun ketika dunia menawarkan keberagaman, menjadi lumayan dalam banyak hal adalah bijak. Karena lumayan punya kesempatan untuk dijadikan yang terbaik.