Tukang Marah

Tulisan lama yang belum sempat di-posting, kebetulan masih relevant.


anger-repressed-woman-628x363compass3107708

.

Taksi membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Jumat, hujan dan ibukota adalah perpaduan tepat untuk menenggelamkan orang dalam pemikiran masing-masing. Meski disebut ‘pemikiran’ sesunggunya bukan hanya otak yang bekerja. Emosi, ia ikut menyisip tanpa disadari. Itulah mengapa orang-orang yang menatap bulir hujan melalui kaca jendela sering kali ditarik ke dalam labirin pemikiran yang lebih dalam.

Tidak butuh pendapatorang lain, untuk mengetahui bahwa gw yang sekarang adalah gw yang pemarah. Gw yang dulu juga bukan orang yang ramah tapi sepertinya gw tidak serajin ini mengomel. Itulah pembuka dari renungan gw kali ini.

Mengingat nyaris 2/3 waktu harian, 6/7 waktu mingguan gw dihabiskan untuk bekerja, otomatis pekerjaan adalah pemicu kemarahaan yang paling sering. Tumpukan pekerjaan yang seolah tidak pernah usai,tenggat waktu super ketat,rapat demi rapat, hingga bertemu dengan orang-orang yang terkadang membuat gw bertanya-tanya apakah ia absen pada saat pembagian otak.

Rasanya gw bisa menjabarkan seluruh alasan sebagai pledoi atas tuduhan pemarah yang ditujukan kepada gw. Tapi mengomel saja sudah menguras tenaga, buat apa memperparah konsumsi mood dengan menjelaskan alasan dibalik kemarahan itu sendiri. Tidak membakar kalori pun. Tidak bikin kurus pun.

just-venting-clipart-1

Marah adalah bentuk perlindungan diri akan faktor eksternal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai internal seseorang. Lihatlah bagaimana ketika seseorang yang sedang marah dengan berapi-api menjelaskan kesalahan diluar kesalahan dirinya sendiri, yang menyebabkan ia marah.

Begitu pula dengan apa yang gw lakukan bukan?

Gw menyalahkan pekerjaan, gw menyalahkan orang lain, gw menyalahkan waktu. Bahkan kadang gw menyalahkan rumput yang bergoyang. Semakin banyak gw menemukan hal-hal yang menyulut kemarahan gw semakin gw menyadari satu hal. Mungkin sebenarnya gw diciptakan dengan karakter pemarah, hanya saja dulu ia belum punya panggung, seperti saat ini.

 

 

Advertisements

Mom Always be Mom

Mama saya dijadwalkan menjalani operasi pengangkatan miom yang melekat ke usus besarnya Jumat lalu. Namun karena satu dan lain hal, operasi dijadwalkan ulang ke hari Rabu (Alhamdulillah operasi sudah berjalan dengan lancar, dan beliau dalam masa pemulihan).

Nah, karena tidak jadi operasi, Beliau kembali pulang ke rumah bertepatan dengan saya yang juga sampai di rumah. Kami bercerita-cerita ringan perihal mengapa operasi tidak jadi dilaksanakan.

“Padahal mama sudah nyiapin kopi dan gula” celetuk adik saya.

“Buat?” tanya saya. Mengingat yang akan dibedah adalah bagian dari sistem pencernaan, seharusnya sebelum dan pasca operasi Mama saya akan menjalani diet khusus. Pikir saya kopi dan gula bukan salah dua dari diet tersebut.

“Ya, takutnya Bapak kalian ntar (pas jagain Mama) bingung nyari kopi. Di sana kan disediain dispenser, jadi bisa bikin kopi”

See. Just like the boy, Mom will always be Mom.

 

Tenggang Rasa

Pertama kali mengenal kata tenggang rasa adalah ketika saya membaca buku pelajaran PPKN di sekolah dasar.

Saya ingat paragraf yang menyebutkan contoh tenggang rasa adalah mengucapkan selamat hari raya kepada teman yang berbeda agama.

Ketika itu pikiran kanak-kanak saya bertanya,”kenapa ada pelajaran (dan contoh ini) di buku PPKN?” Pasalnya saya tinggal di lingkungan dengan keyakinan yang sama. Kurang lebih (kalau dibahasakan sekarang) saya menganggap konten teggang rasa (dan contohnya itu) tidak applicable¬†ngapain sampai harus dipelajari.

Ketika kuliah sampai dengan sekarang, kelompok pertemanan saya semakin beragam, kami berasal dari berbagai suku bangsa, daerah, agama, negara bahkan rinsip hidup yang berbeda.

Saya ingat teman khatolik saya puasa, tidak mengkonsumsi daging menjelang paskah, sedangkan kami disebelahnya berbahagia mengunyah steak. Saya juga ingat kami selow saja ketika teman-teman yang non muslim, makan dan minum di bulan Ramadhan.

Begitu juga waktu mau nonton biasanya jamnya disesuaikan dengan jadwal sholat. Hura-hura di hari minggu pun dilaksanakan setelah atau sebelum jadwal sebagian teman yang harus ke gereja.

Ketika menjalani ini semua saya bahkan lupa dengan “tenggang rasa” yang sempat saya pertanyakan ketika kecil. Semua berjalan begitu saja.

 

 

Beberapa waktu yang lalu, saya ke Bangkok untuk keperluan training dari principal. Pengalaman travelling ke beberapa negara tetangga (ceile) mengajarkan saya, saya masih bisa makan buah dan roti untuk mengganjal perut ketimbang ngomel-ngomel nggak nemu makanan halal.

Saya sudah mengantisipasi, untuk makan siang, saya akan ambil salad dan roti saja jika saya ragu dengan makanan yang disajikan. Saya berbahagia ketika yang dihadirkan untuk makan siang ketika itu adalah adalah nasi box. Pihak pelaksana training bahkan membagi makanan menjadi 3 kelompok. Menu mengandung babi, menu standard, menu vegetarian.

Training saya ikuti ini dilaksanakan oleh sebuah perusahaan skala international. Saya yakin keberagaman negara dan orang-orang yang mereka temuilah yang membuat mereka mampu membagi jenis makan seperti diatas. Mereka paham, sebagain besar System Engineer mereka berasal dari India, negara yang kebanyakan penduduknya vegetarian.

Dan bagi pembaca yang belum tau, di India vegetarian itu artinya bukan sekedar tidak mengkonsumsi daging, mereka juga tidak mengkonsumsi bagian  dan olahan yang berasal dari hewan. Jadi dengan value ini, harusnya (dan harapan saya) makanan yang mereka peruntukan untuk vegetarian ini aman untuk saya konsumsi.

Inti dari cerita panjang ini adalah:

Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya tenggang rasa itu satu hal yang sangat humanis, sehingga kita tidak perlu diajarkan teorinya. Ia akan muncul dengan sendirinya sebagai bentuk adaptasi dari lingkungan yang kita temui selama kita terbuka dengan keberagaman itu sendiri.

 

Hello Again World.

Ed Sheeran memutuskan hengkang dari media sosialnya untuk sementara pada tahun 2016 dan kembali dengan album baru pada awal tahun 2017.

Saya yang sedih ‘ditinggal’ Ed pada tahun 2016 justru berfikir untuk melakukan hal yang sama ketika Ed ‘kembali’. Pasalnya, setelah saya cek, jumlah postingan saya di media sosial setiap tahunnya sangat sedikit, padahal saya cukup rajin mengecek semua account media sosial tersebut.

Kala itu saya disentakan pada satu kesimpulan bahwa saya menggunakan sosial media hanya untuk menyibukan diri dengan kehidupan orang lain.

Begitu saja saya memutuskan untuk ikutan Ed hengkang selama setahun dari media sosial, sebagai sebuah eksperiment. Dengan sebuah rasa keingintahuan “berapa juta notif sih yang akan saya temukan begitu membuka sosmed di tahun 2018?”.

Awal tahun 2018 ketika saya kembali mengunduh aplikasi sosial media, saya tidak menemukan notif apapun di Path. Entah karena mekanisme Path yang memang menghilangkan notifikasi jika account tidak aktif dalam kurun waktu tertentu, atau entah kenyataanya tidak ada yang merasa perlu men-tag saya dalam postingan mereka.

Ketika saya login twitter, ternyata hanya ada 2 mention. 1 mention spam dan 1 mention dari salah seorang teman yang mengajak naik gunung.

Sebuah hasil yang menakjubkan bukan?

Kenyataannya adalah interaksi saya di media sosial merupakan hasil interaksi dari dunia nyata. Misal makan sama si A, posting di path dan tag si A. Jalan-jalan sama si B, posting, mention si B. Bukan lagi menjadi sebuah media bersosialisasi dengan orang-orang yang jarang ditemui.

Itulah mengapa menghilangnya saya dari media sosial tidak akan menimbulkan efek apapun bagi saya dan orang-orang disekitar saya.

Begitu saja, saya memutuskan untuk kembali meng-uninstall aplikasi yang baru saja saya install. Meninggalkan Instagram sebagai satu-satunya media sosial yang masih saya pertahankan, selain blog ini tentunya.

Why Instagram?

Karna beberapa orang membagikan foto-foto indah di Instagram.

 

 

Ngupi di Belitung

Bagi yang sudah menamatkan tertalogi Laskar Pelangi, tentu paham bagaimana sebuah warung kopi menggerakan kehidupan sosial budaya di Belitung. Berangkat dari Laskar Pelangi, ditambah dengan cerita dari orang-orang yang pernah berkunjung, maka aroma kopi sudah membayangi langkah saya bahkan sejak masih di Jakarta.
Warung kopi pertama yang saya kunjungi terletak di Manggar, Belitung Timur. Konon kataya “Mun lum ngupi, lum sampai Manggar”, belum sampai ke Manggar kalau belum ngopi. 

Manggar dikenal dengan 1000 warung kopinya yang buka selama 24 jam. Bukan satu warung kopi yang mendominasi satu hari full namun warung kopi dibuka mengikuti shift tertentu. Beberapa warung buka dari pagi hingga siang, sementara yang lain baru mulai siang hingga malam dan begitu seterusnya selama 24 jam.

Warung kopi pertama saya ini, terletak tidak jauh dari Toko Sinar Harapan. Toko kelontong tempat ikal jatuh cinta pada kuku-kuku cantik Aling (Kisah di LAskar Pelangi). 

Di belitung, bubuk kopi dimasak ke dalam air mendidih. Air rebusan kopi tersebut dituang ke dalam gelas belimbing ukuran sedang yang terlebih dahulu suddah berisi susu kental manis. Ya! selain cara memasak bubuk kopi, kekhasan lain kopi Belitung adalah penggunaan susu kental manis sebagai pengganti gula.

Kopi pertama saya di Belitung, tidak terlalu kuat dan kemanisan. Terlalu banyak susu kental.

Hari kedua di Belitung, saya mengunjungi Kong Djie Coffee, salah satu warung kopi yag cukup terkenal di Belitung Barat. Menurut saya Kong Djie Coffee menjadi ternama karna cabangnya yang sudah menyebar di Belitung Barat dan tentu saja deretan artis kenamaan yang sudah menyambanginya, membuat Kong Djie mendapat nilai lebih.

Pagi itu, saya menikmati satu gelas kopi susu ditemani beberapa makanan kecil. Sayangnya saya belum dipertemukan dengan makanan-makanan kecil khas Belitung. Kopi hari kedua saya ini pas. Tidak manis, namun tetap kopinya “nggak nendang”. Hanya saja saya masih belum siap menikmati kopi O, kopi hitam ala Belitung. Sepertinya terlalu bapak-bapak.

Kopi terakhir saya di belitung, saya nikmati di warung kopi Ake, warung kopi tertua di Belitung. Bukan hanya tahun berdirinya, warung kopi Ake ini juga memiliki meja dan kursi “vintage”. Seolah ingin menyatu dengan sebutan warung kopi tertua yang di sandangnya. Berbeda dengan warung kopi di Belitung yang mempunyai meja dan bangku-bangku panjang. Atau dengan Kong Djie dengan meja dan bangku sedang (mirip warung makan).

Kopi terakhir ini lagi-lagi kemanisan.

Sebuah pengalaman menarik, menelusuri warung kopi, di negeri yang justru tidak menanam kopi. Meski sebentar.

Natal di Belitung

Dua orang petugas bersiap di masing-masing sisi tangga. Menyerahkan payung kepada setiap penumpang. Hujan mendera tanpa ampun sejak pesawat yang saya tumpangi meninggalkan bandar udara Soekarno-Hatta dan tidak reda hingga mendarat di Belitung.

Tidak ada yang mampu mengalahkan kebahagian seorang ‘turis’ yang merindukan jalan-jalan. Tidak pula hujan lebat. Derap langkah saya semakin cepat mendekati ruang tunggu, lanjut ke pintu keluar bandar udara. Tempat seorang pemandu perjalanan telah menunggu.

Di sepanjang jalan menuju tengah kota, pemandu menjelaskan sejarah Belitung, sementara saya terpaku memperhatikan kondisi diluar sana. Saat itu sudah mendekati pukul sembilan pagi, tapi mobil yang saya tumpangi nyaris menjadi satu-satunya kendaraan yang berada di jalanan. Bukan hanya ketiadaan kendaraan, rumah-rumah penduduk pun tidak memperlihatkan kehidupan yang berarti.

“Apakah Belitung di pagi hari memang seperti ini?”

“Kebanyakan yang punya toko di Belitung adalah warga beretnis Tionghoa, sekarang hari Natal, jadi kebanyakan masih pada tutup. Lagi pula hujan deras seperti ini…” jelasnya.

Saya kembali menatap bulir-bulir hujan yang menghujam kaca jendela mobil. Untuk sebuah pulau yang tidak memilik area pegunungan, hujan di belitung benar-benar dipengaruhi arah angin. Sepanjang angin laut mengarah ke Belitung, sepanjang itu pulalah Belitung akan dihujani.

Mendekati siang, meski hujan kadang berhenti kemudian turun lagi, jumlah orang yang saya temui di tempat-tempat wisata pun tidak memperlihatkan jumlah yang signifikan. Dan berlanjut hingga malam hari. Ketika saya menikmati sajian Seafood di salah satu restoran yang bersisian dengan Pantai Tanung Pendam, hanya 2-3 meja yang dihuji pengunjung.

Natal di Belitung justru lebih mirip nyepi ya?

Berbicara tentang nyepi, saya masih menyimpan keinginan untuk merasakan Nyepi di Bali. Larut dalam keheningan fisik, agar dapat mendengar keributan di dalam diri sendiri.

Saya tidak tau, apakah ini memang suasana natal ala belitung atau ini adalah suasana natal ala hujan lebat di Belitung.