[BUKU] Sang Penjaga Waktu

Hanya manusia yang mengukur waktu. Itulah sebabnya manusia mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lain. Takut kehilangan waktu. (Hal.17)

Jika ada orang yang harus dipersalahkan berkaitan ketakutan manusia akan hilangnya waktu, ia adalah Dor. Seorang anak laki-laki yang menjadikan ‘menghitung’ sebagai obsesinya. Ia mulai mengukur waktu tempuh matahari dari terbit hingga tenggelam dengan menggunakan bayangan sebatang kayu. Ia mengukur munculnya rembulan hingga lenyap dengan menggunakan tetes air dari sebuah mangkuk bocor. Ia menandai setiap perubahan wujud bulan, dari tiada-sabit-separuh-purnama-separuh-sabit-tiada, menjadi satuan yang kita sebut bulan.

Satu-satunya hal yang bisa mengalihkan perhatian Dor akan waktu adalah Alli. Sayangnya Ali terkena penyakit. Ketika Alli sekarat, untuk pertama kalinya Dor ingin mengingkari sang pencipta. Ia ingin menghentikan waktu.

Atas pengingkarannya tersebut Dor dihukum. Ia dikurung dalam sebuah gua, tidak bertambah tua namun mendengar jeritan-jeritan manusia tentang waktu. Ada dua jenis manusia jika berkaitan dengan waktu. Jenis yang ingin lebih banyak waktu dan jenis yang  ingin mempercepat waktu.

Victor adalah golongan pertama. Ia hanya memiliki waktu dua bulan saja sebelum tumor mengacaukan kondisi fisiknya. Victor memburuhkan satu kesempatan hidup sekali lagi, ia berencana membekukan tubuhnya dan dihidupkan kembali ketika tekhnologi masa depan telah menemukan penyembuh yang tepat.

Sarah termasuk golongan kedua. Ia tidak mempercepat waktu yg dimiliki setelah dipermalukan oleh laki-laki yang ia cintai. Ia ingin meracuni diri dengan gas karbon di dalam mobil tertutup.

Dor harus menyelamatkan kedua orang ini. Menjelaskan kepada mereka bagaimana waktu seharusnya dihadapi. Hanya dengan cara itu, Dor bisa terlepas dati hukumannya, menjadi tua, mempunyai batas waktu.

Buku ini bisa dibilang punya plot datar. Tidak ada gejolak yang signifikan dari kehidupan Victor,Sarah maupun Dor. Namun memangvaudah seharusnya seperti itu karna buku ini tidak ditulis untuk menghadirkan lonjakan adrenalin. Mitch Albom menghadirkan buku ini agar pembaca punya pemahaman baru tentang waktu. Atau bagi yang sudah sampai pada pemahaman yang sama dengan Mitch Albom, buku ini hadir untuk menjelaskan waktu ke dalam bentuk nyata. 
Buku ini membuka perspektif saya tentang waktu. Waktu hadir tidak terlambat, tidak kecepatan, ia hadir secara tepat. 

Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat, semua terjadi pada waktu yang ditetapkan. (Hal.232)

Hanya saja kebiasaan kita sebagai manusia menjadikan waktu sebagai patokan, membuat waktu menjadi menakutkan. Terlalu fokus pada waktu justru membuat kita kehilangan momen.

Ketika manusia semakin terobsesi dengan jam-jamnya,kesedihan akibat waktu yang hilang menciptakan kekosongan dihati. (hal.89)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s