Ngupi di Belitung

Bagi yang sudah menamatkan tertalogi Laskar Pelangi, tentu paham bagaimana sebuah warung kopi menggerakan kehidupan sosial budaya di Belitung. Berangkat dari Laskar Pelangi, ditambah dengan cerita dari orang-orang yang pernah berkunjung, maka aroma kopi sudah membayangi langkah saya bahkan sejak masih di Jakarta.
Warung kopi pertama yang saya kunjungi terletak di Manggar, Belitung Timur. Konon kataya “Mun lum ngupi, lum sampai Manggar”, belum sampai ke Manggar kalau belum ngopi. 

Manggar dikenal dengan 1000 warung kopinya yang buka selama 24 jam. Bukan satu warung kopi yang mendominasi satu hari full namun warung kopi dibuka mengikuti shift tertentu. Beberapa warung buka dari pagi hingga siang, sementara yang lain baru mulai siang hingga malam dan begitu seterusnya selama 24 jam.

Warung kopi pertama saya ini, terletak tidak jauh dari Toko Sinar Harapan. Toko kelontong tempat ikal jatuh cinta pada kuku-kuku cantik Aling (Kisah di LAskar Pelangi). 

Di belitung, bubuk kopi dimasak ke dalam air mendidih. Air rebusan kopi tersebut dituang ke dalam gelas belimbing ukuran sedang yang terlebih dahulu suddah berisi susu kental manis. Ya! selain cara memasak bubuk kopi, kekhasan lain kopi Belitung adalah penggunaan susu kental manis sebagai pengganti gula.

Kopi pertama saya di Belitung, tidak terlalu kuat dan kemanisan. Terlalu banyak susu kental.

Hari kedua di Belitung, saya mengunjungi Kong Djie Coffee, salah satu warung kopi yag cukup terkenal di Belitung Barat. Menurut saya Kong Djie Coffee menjadi ternama karna cabangnya yang sudah menyebar di Belitung Barat dan tentu saja deretan artis kenamaan yang sudah menyambanginya, membuat Kong Djie mendapat nilai lebih.

Pagi itu, saya menikmati satu gelas kopi susu ditemani beberapa makanan kecil. Sayangnya saya belum dipertemukan dengan makanan-makanan kecil khas Belitung. Kopi hari kedua saya ini pas. Tidak manis, namun tetap kopinya “nggak nendang”. Hanya saja saya masih belum siap menikmati kopi O, kopi hitam ala Belitung. Sepertinya terlalu bapak-bapak.

Kopi terakhir saya di belitung, saya nikmati di warung kopi Ake, warung kopi tertua di Belitung. Bukan hanya tahun berdirinya, warung kopi Ake ini juga memiliki meja dan kursi “vintage”. Seolah ingin menyatu dengan sebutan warung kopi tertua yang di sandangnya. Berbeda dengan warung kopi di Belitung yang mempunyai meja dan bangku-bangku panjang. Atau dengan Kong Djie dengan meja dan bangku sedang (mirip warung makan).

Kopi terakhir ini lagi-lagi kemanisan.

Sebuah pengalaman menarik, menelusuri warung kopi, di negeri yang justru tidak menanam kopi. Meski sebentar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s