Hanya Teddy Yang Boleh

Bayangkan pada suatu hari menjelang akhir tahun, kamu terbangun dan menemukan sebuah pesan tak bertuan. Sebenarnya surat itu punya tuan, sayangnya saat engkau menemukannya, SangvTuan telah mengjilang.

“….Aku ingin pergi untuk beberapa saat. Aku ingin melihat dunia, melihat apa yang selama beberapa tahun ini aku lewati begitu såja. Aku harap engkau mengerti….”

Pesan perpisahan memang tidak pernah berpanjang-panjang. Seseorang yang ingin pergi, selalu ingin bergegas. Telepas dari apakah ia tidak ingin menorehkan luka yang cukup dalam atau mungkin memang tempat yang ia tuju lebih baik dibandingkan tempatnya meerapat saat ini.

Yang ditinggalkan, tanya bisa termangu. Ia hendak mengejar tapi yang pergi sudah berlalu sangat jauh. Lagi pula ia tidak harus berlari ke arah yang mana. Maka berdiamlah ia dengan kesedihannya.

***

Bayangkan, setelah dua belas purnama berlalu. Ia datang kembali dalam bentuk sebuah amplop biru. Diselipkan melalui celah pintu. Tidak ada surat di dalamnya. Ia hanya ingin berkabar, ia sudah kembali  dari melalang buana. Ia pikir sepucuk amplop biru cukup untuk menandai, kehadirannya secara fisik dalam waktu dekat.

Ia gila.

Bukan hanya dia.

Aku pun gila. Uring-uringan menanti apa rahasia dibalik amplop biru kosong.

***

Tahun berganti. 2015 ketika ia pergi. 2017 ketika ia kembali. Dan ia kembali dengan tanpa perasaan bersalah.

 

Iya, cuma Teddy ini yang boleh. menghilang setahun lalu kembali dengan ekspresi menggemaskan.

Kamu jangan.

Karena kamu nggak bisa bikin lirik sedahsyat dia. Kamu juga nggak punya suara seenak dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s