Tan Malaka

Gw (mungkin juga kalian) terbiasa dengan nama Suwardi Suryadiningrat, Haji Agus Salim, Cokroaminoto, Semaun dan Alimin. mereka adalah sesikit dari banyak tokoh sejarah yang namanya muncul di buku pelajaran Sejarah. Bagaimana dengan Tan Malaka?

Ingatan pertama gw dengan Tan Malaka, berasal dari masa 5-6 tahun lalu. Ketika seorang teman menenteng-nenteng buku Tan Malaka disela acara makan siang kami. Ia berkisah sedikit tentang Tan Malaka sebagai salah seorang tokoh sosialis dan petinggi Partai Komunis Hindia pada masanya.

“Ia juga dari Sumatera Barat loh…” katanya menambahkan, menyampaikan kesamaan antara Tan Malaka dengan gw.

Setelah hari itu, Tan Malaka lenyap. Rasa-rasanya tidak ada satu orang pun disekitar gw yang menyebut atau mengingatkan Tan Malaka. Ia melesap menjadi ‘bukan siapa-siapa’.

Hingga akhirnya Tan Malaka gw temukan sedang berdiam diri di sebuah toko buku.Pertemuan kami berlanjut.

Ia mengisahkan kembali bagaimana ia berasal dari keturunan terhormat di Minangkabau. Ia kehilangan suku, harta, kampung dan keluarga karna lebih memilih kesempatan belajar di Netherland, menanggalkan gelar Datuk Tan Malaka, yang baru saja disempatkan kepadanya. Datuk adalah gelar bagi pimpinan kaum/suku di Minangkabau.

Ia meninggalkan Minangkabau, merantau ke Netherland demi cita-cita menjadi guru. Sayangnya, empati luar biasa Tan Malaka kepada kaum kromo (pribumi dengan status sosial paling rendah) justru membuatnya menjadi seorang aktivis. Di Netherland, ia bergabung dengan pelajar Indonesia lainnya, membentuk perkumpulan dan organisasi yang menyuarakan hak Hindia, tanah jajahan. Ia dianggap berbahaya oleh pemerintah Netherland ketika itu, karna terlalu berani mengkritisi kebijakan Sang Ratu.

Ia terpaksa kembali ke Hindia, melarikan diri. Tidak akan gentar singa dibuang.  Sekembalinya ke Hindia Tan Malaka dikenal sebagai ‘provokator’ kalangan buruh untuk melakukan aksi mogok. Aksi demi aksi membuat pemerintahan Netherland semakin kewalahan. Pemogokan buruh berdampak kepada hasil perkebunan, berpengaruh kepada ketersediaan rempah di Eropa. Aktivitas dan tulisan-tulisan Tan Malaka juga membuatnya menjadi salah satu orang yang diincar oleh pemerintahan Netherland di Hindia ketika itu.

Setali tiga uang dengan kampung halaman dan cita-cita, Tan Malaka pun tidak mujur dalam cinta. Cinta pertama diperistri orang lain. Cinta kedua meninggal ditembak mati.

Dengan raga kekasih di pelukan, hati yang luluh-lantak, Tan Malaka diasingkan ke Digul.

Begitulah Tan Malaka mengakhiri kisahnya kepada gw.

Tan, sungguh kita hatus berjumpa lagi.

Atau gw harus ke Digul?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s