Jaman Sebuah Bahasa

Kemarin, ketika gw menuntaskan “Tenggelamnya Kapal Van Der WIjk” karya Buya Hamka, gw menyadari bahwa bahasa adalah teman sejati manusia. Ia berkembang mengikuti perkembangan manusia pada zamannya.

Membaca bagaimana perkataan Zainuddin yang penuh bunga tentu tidak sejengah mendengarkannya langsung. Mungkin itulah mengapa kebanyakan percakapan pada film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” terdengar ‘lebay’ ketika bersentuhan dengan selaput gendang telinga manusia kekinian.

Tidak lagi ada yang perlu mengurai paragraf panjang hanya untuk menyatakan cinta. Tidak pula Ranggha bukan, pujangga kekinian itu?

Tapi jika kita hidup pada jaman yang sama dengan Zainuddin, bahasa penuh bunga tersebut adalah cerminan tingkatan sosial seseorang. Seorang bangsawan, seorang berpendidikan mempunyai kekayaaan bahasa yang lebih tinggi dari seorang kelompok marjinal. Begitulah seharusnya, bahkan hingga sekarang, bukan?

Bahasa yang menandai jaman ini harus selalu diingat bagi pencipta karya fiksi. Contoh, ketika menonton The Revenant, gw sempat berfikir apakah di-tahun 1823 (setting yang di ambil The Revenant) orang-orang memaki dengan menggunakan ‘Fu*k’ dan turunannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s