Merendahkan Diri Sendiri

Tulisan lama, ketemu semalam pas lagi beresin blog.

***
Sudah lebih lima tahun gw bergelut dengan dunia profesi, anggap saja kalau gw sudah diperbolehkan sedikit nyinyir tentang hal yang akan gw tulis ini.

Meski gw nggak tau hal ini pernah diteliti atau nggak, gw rasa karyawan dimana pun akan selalu merasa dibayar sedikit untuk pekerjaan yang nggak ada habisnya. Lihat saja wajah-wajah lelah dipinggir-pinggir peron, jalan raya, stasiun dan sebagainya. Bagaimana mungkin wajah tersebut sudah kelelahan padahal masih sangat pagi dan kebanyakan dari mereka baru saja mendapatkan dua hari jatah libur.

Bandingkan dengan wajah anak-anak sekolah. Ada sisa kantuk tapi setidaknya wajah mereka lebih bernyawa. Mereka malas belajar tapi bahagia karna sekolah sebenarnya adalah tempat untuk bermain, pacaran, membolos, dan membuat onar. Tentu saja ada yang berbahagia datang ke sekolah untuk belajar, karna tidak semua yang datang ke kantor dengan keluh-kesah.

Kembali ke pasal pertama. Bahwa budak korporasi manapun akan selalu merasa dibayar rendah untuk pekerjaan ampun-ampunan. Lalu apakah kamu berhak untuk bekerja ogah-ogahan ?

Tidak ada jawaban pasti tentang ini. Karna tidak ada patokan pasti seberapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan seseorang untuk setiap rupiah yang ia dapatkan.

Gw pun dulu sempat bekerja “sesuai gaji” karna menurut gw sistem di tempat gw sudah membuat gw bekerja terlalu banyak. Gw sebut sistem karna gw tidak merujuk pada satu orang, tidak pada satu keputusan. Tapi setiap keputusan dan kompleksitasnya.

Sampai suatu hari, klien gw yang baru bercerita bahwa ia mengenal klien gw yang lama. Sebagia klien yang diberikan jasa oleh orang yang sama, tentu mereka sudah saling berbagi cerita bukan? Lalu apa kira-kira yang disampaikan oleh klien lama gw? Bahwa gw langsung ogah-ogahan ketika system yang gw tawarkan sudah berstatus “ready to used”? Bisa jadi klien lama akan bercerita bagaimana gw begitu lambat dalam menangani case demi case yang ia hadapi. Tentu saja semua klien ingin ditangani dengan segera.

Klien baru gw memang tidak berkisah apapun. Terkadang diam justru memberimu ruang yang lebih lapang untuk berfikir. Gw memang bekerja dibawah bendera korporasi tapi sebenarnya gw sedang menjual diri gw sendiri. Citra korporasi merupakan akumulasi dari kinerja seluruh karyawannya. Citra gw ditentukan oleh gw sendiri. Ketika gw bekerja buruk, korporasi menggantikan dengan yang lebih baik. Dan gw akan membawa ‘kerja buruk’ tersebut sepanjang hidup gw.

Ketahuilah, meski dunia profesional dijalankan oleh ribuan orang diseluruh penjuru dunia, kalian akan menemui orang-orang yang sama selama kalian masih berkutat dengan keahlian yang sama. Kemungkinan kalian akan bersinggungan dengan orang-orang baru yang kenal dengan orang-orang di masa lalu (profesional) kalian bisa jadi tidak sekecil yang kalian bayangkan.

Bukankah teori ” 7 degrees of separation” sudah sering kalian dengar? Bahwa kalian hanya membutuhkan 7 orang untuk mengetahui bahwa jalan kehidupan kalian bersinggungan satu sama lain?

Jadi berhentilah bekerja buruk karena korporasi (menurut kalian) bobrok. Karena kalian sedang membangun diri kalian sendiri. Denganya kelak kalian punya kemampuan untuk menentukan harga atas kompetensi, bukan karena relasi.

Tenang, gw juga masih suka kebawa malas kalau klien sudah mulai mengumbar keinginan ‘dewa’. Tapi paling tidak, gw berusaha mendekati status ‘bekerja dengan waras’. Dengan demikian, gw tidak mendustai kemampuan gw sendiri.

Jangan memandang sebelah mata kepada orang yang yang kelihatannya mampu tapi duduk menadahkan tangan di pinggir jalan. Dengan bekerja tidak sesuai kemampuan diri sendiri pun, bisa jadi kalian tak ubahnya seperti pengemis tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s