English

Disclaimer : meski memajang novel English, postingan ini bukan sebuah review.

Bahasa Inggris bukan menjadi bahasa asing pertama dan satu-satunya yang pernah gw pelajari. Enam tahun sebelum belajar bahasa Inggris, gw sudah belajar bahasa Arab. Pada tahun terakhir kuliah, gw sempat belajar bahasa Jerman. Namun tidak bisa dipungkiri bahasa Inggris menjadi bahasa asing terlama yang gw pelajari dan temui dalam keseharian.

Sama seperti Love Liu, tokoh dalam novel English, usia gw 12 tahun ketika pertama kali belajar bahasa Inggris. Kala itu, bahasa Inggris sama saja seperti mata pelajaran lainnya. Kalau ingin mendaparkan hasil bagus pada saat ujian, berusahlah memahami sebanyak mungkin contoh soal dibuku pelajaran.

Keluar dari koridor kurikulum pendidikan, bahasa Inggris mulai memperlihatkan gigi taringnya. Contoh nyata, sudah 2 kali gw mendaftar untuk kursus IBT di LBI UI, 2 kali pula gw ditolak. Karena kemampuan menulis gw dalam bahasa Inggris yang sangat kacau.

Akhirnya term ini, gw ikut kelas academic writing, berharap kemampuan menulis gw membaik dan term selanjutnya gw  berhasil masuk kelas IBT pada term selanjutnya.

Pada pertemuan pertama, Pak Bas, salah satu pembimbing gw di kelas Academic Writing memulai pelajaran dengan sebuah pertanyaan,”Untuk apa kalian menulis?”.

Ini adalah pertanyaan yang sama, yang diajukan setiap kali gw mengikuti workshop menulis (fiksi,berbahasa Indonesia).

Setiap murid berusaha menjawab. Menulis itu untuk memberikan informasi. Menulis itu untuk berkomunikasi. Menulis itu untuk memberikan perubahan dan lain sebagainya.Sayangnya, tidak satu jawaban pun sesuai dengan harapan Pak Bas.

“Kalian menulis untuk dibaca. Apa gunanya menulis sesuatu yang inspiratif tapi tidak dibaca orang.”

Ini adalah pernyataan yang mengetuk kesadaran gw. Pak Bas benar, menulis dalam bahasa Inggris tidak berbeda dengan menulis dalam bahasa Indonesia. Tujuannya adalah agar tulisan tsb bisa dipahami pembaca.

Ketika menyelesaikan writing test,seleksi masuk kelas IBT, gw menulis demi mendapatkan appresiasi dari penilai. Gw ingin dianggap punya kemampuan bahasa Inggris yang memadai untuk kelas IBT terutama pada poin writing. Gw merasa harus meyakinkan penilai karna gw tidak pernah yakin bahwa gw bisa menulis dengan grammar yang tepat.

Ya! Dalam 2 kali tes seleksi kelas IBT, ketika writing test, gw menulis untuk memastikan grammar gw tepat. Gw tidak pernah memperhatikan ide apa yang sebenarnya ingin gw sampaikan.

Sekarang, kalau gw ingat-ingat lagi. Tulisan gw (saat writing test) lebih mirip ceracauan. Berderet-deret kalimat tanpa ada topik utama, loncat-loncat, dan barang kali grammarnya juga nggak setepat harapan gw. 

Gw belajar bahasa Inggris tidak sesulit Love Liu karena bahasa Inggris dan bahasa Indonesia mempunyai deret abjad yang sama. Love liu? Ia harus belajar abjad international terlebih dahulu karena bahasa Mandarin menggunakan abjad yang berbeda.

Harusnya begitu bukan? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s