Orang Ketiga

Beberapa hari yang lalu gw membaca cerpen di internet. Cerpen itu berkisah tentang seorang gadis yang kehidupannya sedinamis angin. Seolah tidak ada satu pun yang akan mampu menjadi pengikatnya, ia berada di kota X untuk menyapa pagi dan muncul di kota Y untuk berjabat tangan dengan senja.

Benarkah tidak ada satu apapun yang mengikat seseorang? Bagaimana dengan cinta? Tidakkah kalian temui beberapa kisah tentang bagaimana cinta membuat seseorang yang bergerak selincah angin, akhirnya menetap?

Begitu juga dengan gadis angin tadi. Akhirnya, ia menetap pada satu hati. Sayangnya laki-laki tempat ia menetapkan setengah kehidupannya adalah suami orang lain.

Gadis angin, orang ketiga ini, tidak dikisahkan sebagai seorang jalang.Ini (sepertinya) kali pertama ia jatuh cinta. Sehingga setiap derai kata, gw resapi sebagai perjalanan seseorang menemukan cinta. Cinta terasa suci sebagaimana seharusnya. Namun  terasa salah dari sisi etika dan hukum. 

Gadis angin bukan satu-satunya orang ketiga (fiksi) yang tidak jalang. Ingat Ferre? Kesatria yang menjadi sudut lain dalam kehidupan Rana dan Arwin dalam Supernova : Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh?

Ferre bukan mata keranjang, ia ‘perawan’ untuk urusan cinta. Sehingga ketika ia jatuh cinta kepada Rana, pembaca akan melihat kisahnya sebagai cinta. Seolah perselingkuhan adalah bumbu bagi kisah cinta itu sendiri.

Mengapa ketiga gw menurunkan pandangan dari fiksi, menatap dunia nyata, gw tidak bisa seterbuka itu melihat orang ketiga? Melihat mereka sebagai orang-orang yang sama-sama mengejar cinta? bukan nafsu?

Hari ini gw temukan jawabannya, karena gw tidak pernah kenal dengan ia, si orang ketiga. Gw tidak pernah memahami kisah dibalik munculnya sisi lain dalam dua sisi yang sepertinya stabil, ternyata goyah. Gw tidak pernah mendalami bagaimana akhirnya ia sampai pada sebuah persimpangan curam?

Dalam fiksi yang gw baca, penulis menceritakan latar belakang tokoh sehingga gw merasa mengenal mereka. Mengenal cara pandang mereka. Mengenal nilai hidup mereka.

Tentu saja, tidak ada penilaian yang objektif jika sudah merasa dekat bukan? Rasa-rasanya itulah mengapa lebih mudah berpihak kepada orang ketiga dalam fiksi. Dan karna ia fiksi, ia juga tidak menyisakan luka yang nyata pula.

Lalu? Mengapa seseorang yang datang terakhir selalu disebut orang ketiga? Bagaimana kalau kamu tidak pernah menjadi yang pertama? Atau kedua?

Begini. 

Di dalam cerpen, yang dijelaskan hanya si gadis angin. Tidak dijelaskan tentang laki-laki kekasihnya kecuali bahwa ia beristri.

Di dalam KPBJ, gw punya kesempatan untuk mengetahu bahwa Rana pada awalnya tidak menemukan cinta dalam pernikahannya dengan Arwin. Sesuatu yang justru ia temukan dalam diri Ferre.

Nah. Meski Ferre datang terakhir, apakah ia memang orang ketiga? Meskipun Rana (bisa jadi) tidak pernah menganggap Arwin yang pertama?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s