Anak-Anak Yang Terlalu Cepat Meninggalkan Ibunya

Pada rambut yang berminyak, kusut dan diikat sekenanya, kalian harus paham. Ia tidak lagi punya waktu untuk dirinya sendiri,tidak lagi sempat berbaur dengan rutinitas.

Wajahnya kuyu, kantung di bawah mata menjadi bukti malam-malam panjang tanpa lelap. Tapi matanya justru menyiratkan hal berbeda. Bola matannya bergerak cepat mengiringi pergerakan tangan dan bibir ketika ia bercerita. 

Ia berkisah tentang rasa sakit, tapi tidak ada nada gentar atau sedu-sedan. Kalau pun ada tangis, itu menetes dari sudut terluar mata. Air mata, sebagai puncak ledakan rasa bahagia yang tidak lagi bisa ia jelaskan. 

Ia seorang ibu sekarang. 

“Melahirkan membuat saya paham, apa yang dulu dirasakan Ibu saya”, tutupnya.

Seorang wanita lain, menepuk-nepuk punggung tangannya. Kerut diwajahnya, hasil torehan waktu, justru membuatnya terlihat semakin bersahaja.

Dia seorang nenek sekarang.

Mari kita mundur ke masa beberapa tahun sebelumnya. Ketika dia belum menjadi seoranf nenek. Kita akan melihat seorang ibu yang menyebalkan. Seorang kritikus fashion kawakan. Menyebut rokmu terlalu pendek, bajumu terlalu tembus pandang, jangan mengecat rambut apalagi punya anting selain pada daun telinga.

Seorang polisi moral yang mengingatkan bahwa anak perempuan tidak pulang malam, tidak wara-wiri dengan anak laki-laki. Anak perempuan semestinya bangun sebelum matahari dan bisa membedakan mana jahe mana lengkuas.

Kembali ke hari ini, ke waktu Ibu menepuk punggung tangan anak perempuannya pelan. Ada senyum lebar diwajahnya. Itu senyum kebahagian, bukan senyum kemenangan. Bukan ekspresi tuh kan, apa ibu bilang.

Jika kalian punya waktu, coba cek blog, update status, hasil wawancara ibu-ibu muda. Dari sekian banyak hal yang mereka bagian, kemungkinan kalian menemukan ‘akhirnya saya paham ibu saya’ sangat besar. Konon katanya kita memang hanya bisa pura-pura memahami sebelum merasakan langsung. Tidak hanya untuk perkara menjadi ibu tetapi untuk hal-hal lainnya.

Anggap saja rata-rata usia seorang prempuan ketika melahirkan anak pertama adalah 25 tahun, sepanjang itu pulalah ia gagal memahami ibunya.

Maka beruntunglah anak-anak yang merantau sejak belia. Mereka akan memahami ibunya ketika tidak menemukan warteg yang mampu menyamai masakan ibunya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s