Menjual Diri

Senja baru berganti shift dengan malam ketika gw menuruni undakan menuju pelataran samping Plaza Semanggi. Sebuah sepeda motor menselat dari kejauhan. Dari nomor plat, gw tau, ia adalah orang yang akan mengantarkan gw ke stasiun Palmerah.

Ia menaikan kaca helm, mengkonfirmasi ulang nama dan tujuan gw. Suaranya terdengar biasa hanya saja senyum di wajahnya menyiratkan hal yang luar biasa. Keramahan yang bukan digerakan oleh standard operating procedure. 

Samar gw mendengar ia mengucapkan Bismillah sebelum sepeda motor meninggalkan lokasi penjemputan. Mendadak gw merasa perjalanan gw kali ini akan aman.

Gw mulai mereka ulang ingatan berdurasi beberapa detik ketika ia menaikan kaca helm. Mencoba menebak berapa usia dibalik kerut dan wajah ramah tadi. Menebak-nebak apakah menjadi pengemudi ojek daring adalah pekerjaan utama dari warna jaketnya yang tidak lagi tajam. Berimajinasi apa yang membuat ia begitu bersahaja.

Ia menyempatkan diri menyapa beberapa pengemudi ojek daring ketika kami melewati wilayah ‘tongkrongan’. Bertanya kabar kepada pengemudi lain sembari menunggu detik lampu merah lenyap.

Mendekati stasiun Palmerah, gw meyakini satu hal. Ia layak diberi tip.

Gw bukan orang baik. Ada variabel-variabel yang membuatku gw berfikir ulang untuk memberi tip.

Jarak tempuk 1km? Biasanya gw nggak ngasih tip

Pengemudi berkendara ugal-ugalan? Nggak kasih tip

Pengemudi rese? Nggak kasih tip

Cekak? Nggak kasih tip.

Meski pengemudi bergerak atas nama sebuah organisasi, pada dasarnya ia bertindak untuk dirinya sendiri. Pengendara dengan perilaku berkendara dan sikap yang baik, memang belum bisa dipastikan akan mendapatkan tip lebih sering dan/atau lebih besar. Namun, setidaknya ia memperkecil kemungkinan mendapatkan ‘bintang’ rendah untuk setiap jasa yang ia berikan.

Sekali ia berbuat kurang menyenangkan, bahkan tanpa ia sengaja, pelanggan dengan sangat mudah memberikan satu bintang. Satu bintang bisa menjadi akhir dari segalanya bagi si pengemudi. Namun,butuh puluhan atau mungkin ratusan pengemudi bintang satu untuk membuat perusahaan juga dianggap buruk.

Kasus pengemudi ojek daring ini, adalah replika kehidupan pekerjaan gw.

Ketika gw datang terlambat ke meeting yang sudah dijadwalkan dengan klien, maka gw lah yang mendapatkan cap tidak tepat waktu.

Gw tidak berhasil menyelesaikan trouble shooting klien, gw lah yang dianggap tidak kompeten.

Gw meluapkan emosi dihadapan klien (yang ngeselin), gw lah yang dianggap tidak punya attitude.

Pada akhirnya,perusahaan dengan senang hati akan melepaskan gw. Butuh puluhan gw-yang datang telat-nggak kompeten-nggak punya attitude untuk membuat perusahaan kehilangan nama baiknya. Sementara itu, gw akan melanjutkan langkah dengan raport buruk tadi.

Seperti pengemudi ojek daring tadi, gw tidak pernah benar-benar bekerja untuk perusahaan apapun. Sejatinya gw sedang ‘menjual diri gw sendiri’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s