Metafora Padma

*Foto diambil dari Instagram Bernard Batubara.

Bagi yang belum pernah membaca karya Bernard Batubara, anggap saja kamu beruntung tanpa sengaja berkunjung ke tulisan saya ini. Sebagai seseorang yang belum pernah membaca buku Bernard Batubara, (mungkin) apa yang saya tulisakan sedikit lebih subjektif dari pada penggemar yang sudah membaca karya Bernard Batubara kemudian tergila-gila. :mrgreen:

Bernard Batubara sepeti hendak merayakan kehilangan. Keempat belas kisah dalam Metafora Padma bercerita tentang kehilangan. Kekasih akan pasangannya, anak akan orang tuanya, rumah akan penghuninya, juga penulis akan idenya.

Menariknya, meski kehilangan sama-sama menggoreskan luka, Bernard Batubara mengisahkan luka tersebut dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Setiap luka yang ia kisahkan seolah bercerita sendiri-sendiri.  Saya tidak menemukan pencerita tunggal di sana. Walaupun tidak kurang dari setengah kisah dalam Metafora Padms mengambil setting yang sama,kepala-kepala yang terlepas dari badan akibat konflik antar suku, di suatu kampung, beberapa tahun silam.

Menurut saya, membaca Metafora Padma itu seperti menyelami kenangan yang tersimpan di dalam sudut terdalam ingatan.

Ingatan tidak pernah sepenuhnya lenyap, ia akan selalu menemukan jalan untuk hadir. Dalam bentuk seorang perempuan bernama Padma, rumah lama, satu jilatan es krim, sekelompok anak muda yang tengah berlari, potongan ibu jari, al-kitab atau bahkan sekedar helaan nafas.

Saya tidak berharap akan menemukan twist pada cerpen-cerpen dalam Metafora Padma. Sebagaimana kenangan, kita sudah mengetahui intinya, meski beberapa detail pendukung diingat dengan samar, sebuah kenangan seringkali tidak akan memberikan kejutakan kepada tuannya,bukan?

Kekuatan dari sebuah kenangan adalah kedalaman kisah. Sesuatu yang membuat pihak luar yang menyaksikan kenangan tersebut melongok ke dalam diri mereka masing-masing. Menemukan bahwa dalam dirinya juga tersimpan kenangan yang tidak jauh berbeda.

Orang-orang yang kehilangan identitas, orang-orang yang kehilangan cinta, bangunan yang kehilangan penghuni. Orang-orang yang kehilangan ruang sendiri ditengah hiruk-pikuk moderenisasi. Semua itu adalah kita.

Jika Bernard Batubara benar-benar yakin untuk menjadi penulis harus menjadi seorang kanibal, harus saya akui ia berhasil memutilasi kenangan-kenangan di sekitarnya. Untuk kemudian diceritakan ulang dengan kata-kata yang memikat.

Kisah yang paling saya sukai adalah Gelombang. Belum pernah saya menyaksikan metafora dua anak manusia dalam bentuk pantai dan laut semenarik itu. Rasa-rasanya setelah ini saya akan menyaksikan pantai, laut, palung dan penyelam sesuai dengan versi yang baru saja saya baca.

Disusul dengan Kanibal. Saya bergenjit membaca bagaimana seorang penulis memulitasi dirinya sendiri, untuk menghasilkan sebuah cerita yang nyata. Bernard Batubara bahkan merasa tidak perlu melakukan sensor. Begitulah, beberapa kisah memang perlu disampaikan apa adanya. Tidak perlu memaksa sopan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s