Bonus, Riwayatmu Kini.

Gw meminjamkan e-cash kepada seorang teman hari ini, terlupa bahwa gw juga membutuhkannya untuk bisa menggunakan jasa bus Transjakarta. Untungnya, gw masih bisa menggunakan kopaja 19 untuk sampai di Fx, tentu saja dengan risiko waktu tempuh yang lebih panjang. Jakarta.Hari Jum’at.Menuju libur panjang.

Hatrick.

Kopaja 19 yang gw tumpangi hanya butuh bergerak 400 m dari titik gw naik, agar terjebak di jalur lambat.

Stuck.

Tidak bisakah Jakarta bersikap sedikit lebih baik? Gw mulai mengomel dalam hati seperti orang waras. Jakarta dan macet adalah pasangan kekasih yang belum memperlihatkan tanda akan putus dalam waktu dekat. Dan tidak ada orang gila yang mengomeli Jakarta bersama kemacetannya. Itu perilaku orang kelewat waras.

Benarlah kata OB dikantor gw, sebuah aktivitas jika dilakukan sembari mengingat uang (yang tak kunjung datang) akan membangkitkan amarah.

Memang, gw naik kopaja barusan dengan hati dongkol tiga perempat mati. Bonus belum juga cair mendekati masa penilaian kinerja tahun 2016.

Bonus menjelma menjadi bisik-bisik sepanjang tahun. Awalnya pelan, namun beberapa waktu terakhir mulai terang-terangan.

Mengingat uang (yang tak kunjung datang) membuat dongkol gw sempurna. Rasa-rasanya ingin menjungkir-balikan deretan mobil di depan sana. Tidak peduli mobil rombeng atau mulus.

Edan.

Gw melirik ke arah jalur cepat di sisi kanan. Kondisinya lebih lancar. Gw memutuskan untuk turun dan berdiri di pinggir taman pembatas jalut cepat dan jalur lambat, menunggu kopaja 19 yang melintasi jalur cepat.

Rasa dongkol sedikit berkurang dengan kondisi jalanan di depan sana. Sebaiknya jalur cepat kali ini bisa mengantarkan gw cepat sampai tujuan, sesuai dengan tujuan awal ia dibangun. Supaya ide menjadi hulkwati yang sempat terlintas, tidak benar-benar gw lakukan.

Mendekati Plaza Semanggi, kernet kopaja 19 berteriak-teriak, mengumumkan bagi penumpang yang ingin turun di Plaza Semanggi untuk segera turun. Kopaja 19 itu tidak akan merapat ke jalur lambat.

Seorang perempuan berdiri dari tempat duduknya, memaki bahkan menggedor-gedor salah satu sisi luar kopaja setelah ia diturunkan, di taman pembatas jalur cepat dan jalur lambat.

Perempuan ini sudah ada ketika gw naik tadi. Sepertinya ia kesal karna harus turun tidak ditempat yang ia harapkan. Ia harus menyeberangi jalur lambat, dan lanjut berjalan kaki sekitar 75 meter untuk sampai di Plaza Semanggi.

Ini lucu.

Buat gw yang tadi terperangkap di jalur lambat, mendapatkan kopaja ini adalah sesuatu yang membahagiakan. Buat perempuan yang (mungkin) sejak awal berada di dalam kopaja ini, ketidaksesuaian tempat menurunkan penumpang adalah sumber derita.

Perempuan tadi, mengingatkan gw akan bonus (lagi).

Bagi yang bonus tahun belum juga cair, gw menggantungkan harapan kepada “yang penting bonusnya cair dulu”. Bagi orang lain yang  bonusnya cair setiap tahun akan berharap akan “seharusnya  bonus gw lebih besar”.

Bonus oh bonus, riwayatmu kini.

Advertisements

6 thoughts on “Bonus, Riwayatmu Kini.

  1. Sepertinya, saya tahu siapa yg pinjam e-cashnya.. tapi hasil postingnya sangat menginpirasi saya.. “untuk apa berlama-lama ditempat yg kejam bila toh hak yg diperoleh sama saja”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s