The Cursed Boy

Usia gw 15 tahun ketika pertama kali membaca seri Harry Potter. Terlambat 3 tahun dari kesempatan mendapatkan undangan masuk Hogwarts. Tak apa, karna gw bersama juataan anak lain di seluruh dunia, yang berharap Hogwarts memang mengirim burung hantu untuk calon siswa-siswinya.

Seri yang gw baca ketika itu adalah Harry Potter and The Goblet of Fire. Dan seri yang bersangkutan tetap menjadi favorit gw sampai sekarang. Dalam rangka menyambut lahirnya The Cursed Child I & II, gw memutuskan membaca ulang seri Harry Potter. Satu hal yang belum pernah gw lakukan sebelumnya, mengingat seluruh Harry Potter yang gw baca dahulu adalah hasil pinjaman.

Beruntung, beberapa waktu yang lalu gw sempat berburu series harry Potter di bazar-bazar buku murah Gramedia. Gw hanya berhasil mendapatkan 4 dari 7 seri yang ada. Harry Potter and Philosopher’s Stone, Harry Potter and The Orde of Phoenix , Harry Potter and The Half-Blood Princess, dan Harry Potter and The Deathly Hollow.

Membaca ulang seri Harry Potter membuat gw menyadari bahwa versi yang selama ini gw ingat adalah versi film. Rasanya seperti dikhianati oleh ingatan sendiri. Bukan sebuah pengkhianatan yang menyakinkan sebetulnya, karna Harry Potter versi film pun tetap mempesona. Rasa dikhianiati ini lebih mirip menggigit mangga matang yang seharusnya manis sempurna, ternyata manis aja.

Selain itu, ada perubahan lain yang gw rasakan. Jika masyarakat sihir bergenjit setiap kali ada yang terang-terangan menyebut nama Lord Voldemort, dahulu gw selalu terbawa emosi setiap kali nama Severus Snape muncul. Mungkin karena Severus Snap lebih ‘nyata’ menjadi musuh Harry sejak seri pertama. Sekarang, setiap kali nama Severus Snape muncul, gw selalu teringat semua pengorbanannya. Semua sikap heroiknya yang membuat ia terlihat Gryfindor dalam darah Slytherin.

Ya. Cuma J.K Rowling yang memapu membuat seluruh dunia membenci Severus Snape hingga ke ubun-ubun namun dalam satu jentikan jari semua dunia mendadak mencintainyai, sangat. Bahkan bersedih ketika ia akhirnya meninggal dengan cara yang mengenaskan.

Terakhir, dahulu gw membaca Harry Potter sebagai seorang remaja yang ingin berpetualang. Sekarang gw membaca harry potter dengan sedikit sudut pandang (orang yang pengen jadi) penulis. Sungguh bukan satu hal yang mudah menciptakan sebuah imajinasi dunia sihir yang membaur dengan dunia nyata. Karena JK Rowling harus selalu ingat membuat batas. Seperti jika sihir bisa mengadakan sesuatu dari ketiadaan, mengapa mereka masih butuh Diagon Alley untuk berjual-beli? Pertanyaan ini dijawab oleh Hermione,

Kau tidak bisa mengadakan sesuatu dari udara kosong. Kau bisa mendatangkannya karena ia ada disuatu tempat. Kau bisa menggandakannya, karena ia memang ada.

Hermione tidak persis mengatakan itu, itu gw kutip dari penjelasan Hermione ketika Ron terus menerus mengeluh tidak kelaparan selama pelarian mereka, sementara ibu Ron, bisa menciptakan makanan dari udara kosong.

Mengutip pendapat Gio, catatan dimasa lalu ada baiknya dibaca ulang sekarang. Perbedaan cara pandang bisa jadi membuat kita menemukan hal-hal menarik yang dulunya biasa saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s