Whatsapp Group

“Lo kenapa nggak pernah muncul lagi whatsapp group?”

Whatsapp group pernah menjadi aose ditengah padang pasir “chat dua arah”. Dengan fitur whatsapp group diskusi antara 3 orang atau lebih berjalan dengan lebih baik. Tidak perlu report-report broadcast. Kontak yang sempat lenyap bisa ditemukan kembali melalui whatsapp group.Bukan hanya berbagi kabar berita, penghuni whatsapp group juga berbagi kisah inspiratif hingga berita hoax.

Label “copas dari group sebelah” menandakan bahwa satu orang punya lebih dari satu whatsapp group, karena whatsapp group sepertinya menandakan kelompok sosial. Semakin banyak kelompok sosial mereka di dunia nyata, mungkin sebanyak itu pula ia terdaftar sebagai anggota dari whatsapp group.

Uniknya, Whatsapp group memberikan fitur ‘turn off notification’. Seolah penciptanya pun paham. Bahwa tidak semua whatsapp group layak untuk diikuti namun terlalu sungkan untuk ‘left group’. Jadilah whatsgroup hanya milik beberapa orang. Beberapa yang lain menjadi silent reader.

Gw adalah orang yang dengan sangat tega left dari whastapp group tertentu, apalagi whatsapp group yang punya tendensi meningkatkan kemampuan ngedumel gw. Nah! Kembali kembali ke pertanyaan salah seorang teman diawal tulisan ini, kenapa gw masih bertahan namun tidak muncul?

Meski tidak muncul di whatsapp group, gw masih whatsapp personal dengan beberapa anggota group yang bersangkutan. Saking lamanya gw menjadi silent reader, gw bahkan lupa apa hal terakhir yang gw sampaikan di group tersebut.

“Lo punya masalah sama anak-anak?” tanya ia lagi.

Whastapp group ini adalah bisa dibilang whatsapp group tertua di kancah dunia perwhatsappan gw. Anggotanya sekelompok teman-teman masa kuliah. Katanya pertemanan berubah sesuai dengan perkembangan anggotanya. Begitu pula dengan obrolan di whatsapp group. Topiknya selalu bergerak, mulai dari obrolan seputar film dan series layak tonton, gosip-gosip selebritas picisan, undangan pernikahan, ucapan selama ulang tahun, foto-foto bayi baru lahir, tips parenting, list dagangan, foto jadul yang mendobrak kenangan masa lalu, update berita harian, kondisi jalanan dan lain sebagainya.

Semua bergerak dinamis, menyesuaikan dengan pergerakan penghuninya. Sayangnya tidak semua penghuni whastapp group bisa bergerak sedinamis penghuni lainnya. Pada awalnya ia terengah-engah berusaha menyamakan langkah. Namun penghuni yang lain bergerak lebih cepat. Ia bermaksud berhenti demi mengobat lelah, ketika ia bermaksud bangkit, ia tidak lagi memapu mengjangkau bayang-bayang penghuni lain. Kemudian ia memutuskan untuk tidak lagi mengejar, ia berjalan santai sembali menikmati pergerakan disekitarnya. Sampai akhirnya ia merasa dilupakan.

Teman, lihat. Masalahnya bukan ada pada kalian. Pada awalnya, gw hanya tidak lagi bisa mengimbangi obrolan-obrolan kalian. Pada akhirnya gw terbiasa menjadi pengamat.  Gw tidak left group karena bisa jadi itu adalah satu-satunya pengikat gw dengan kalian di dunia nyata.

Untuk engkau yang bertanya, terima kasih sudah menyempatkan diri menoleh, menyaksikan bahwa gw masih ada dibelakang sana.

*Nulis beginian setelah baca blog alex tentang friendship*

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s