Pindah

Bandung.

Gw pernah jatuh cinta pada kota ini. Ia pernah menjadi rumah kedua karena Bandung tempat pertama yang gw kunjungi selain tempat kelahiran.

Udara dinginnya menyisakan retakan-retakan halus di kulit,dibulan-bulan pertama perkenalan kami.

Bandung pula yang pertama kali mengenalkan gw pada gang yang sempitnya sedimikian rupa hinga ketika berpapasan dengan tikus got pun harus ada yang mengalah.

Bandung menjanjikan ‘siang’ yang lebih panjang. Tidak ada teriakan pulang sebelum magrib karena di sini jalanan masih berdenyut hingga lewat tengah malam.

Sebagai tuan rumah ia suguhkan makanan dari mulai yang pernah gw temui hingga yang terasa begitu asing. Kemangi, pertama kali menemukannya bersama nasi timbel, sungguh gw heran mengapa ada rumput di kotak makan gw. Oncom, melihatnya di pasar, sungguh gw nggak habis pikir kenapa makanan busuk tersebut diperjual-belikan.

Semua yang asing akan bersahabat jika ditemui setiap hari.

Gw nggak mungkin setiap hari makan di warung padang karena warteg mampu menawarkan potongan harga hingga 50%. Gw nggak bisa mengesampingkan lalapan karna ia hadir dan gratis di setiap meja makan sedangkan sayur lain berbayar. Gw mulai menerima keberadaan oncom setelah menikmati combro dan surabi oncom. Keduanya enak.

Cinta hadir karna biasa.

Empat tahun berselang, gw harus meninggalkan Bandung. Layaknya kekasih dengan jalinan kisah jarak jauh, gw selalu menemukan alasan untuk kembali ke Bandung. Tiga setengah jam membelah tol cipularang, menjadi  perkara yang tidak perlu dibesar-bedarkan. Kunjungan Sabtu-Minggu terasa cukup dan tidak cukup pada saat yang bersamaan.

Bukan hanya cinta yang hadir karena terbiasa. Melepaskan sesuatu pun pada akhirnya akan terasa biasa dengan bantuan sang waktu.

Kunjungan ke Bandung berkurang karena teman yang bisa dikunjungi dan kamar gratis yang bisa diinapi berkurang. Itu alasan gw padahal sebenarnya gw mulai terbiasa dengan Jakarta, meski tidak cinta.

Waktu tempuh Jakarta-Bandung meningkat karena populasi kendaraan yg menjejali jalan tol semakin banyak. Begitu kilah gw, padahal kereta api masih menawarkan jarak tempuh yang sama.

“Dulu gw pernah pengen tinggal di Bandung,” ujar gw begitu saja, ketika kami menyisiri jalan menuju Cisangkuy. Menemukan jajanan kaki lima yang dirindukan lidah tiap kali ke Bandung.

Bagaimana bisa Cinta dan Ranggha menyimpan getar yang sama setelah perpisahan 14 tahun, sementara gw kehilangan keinginan untuk tinggal di Bandung hanya setelah 5 tahun berselang?

“Terus sekarang maunya tinggal dimana?”,tanya ia.

Mengisi perut rasanya lebih mudah dari pada menemukan jawaban atas perranyaan ini.

Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s