Ceracau Waktu

Siapa tetua kita yang pertama kali merasa perlu mendefiniskan waktu? Membuat penggalan-penggalan untuk menandai pergerakan matahari dari timur ke barat?

Mungkin ia adalah tetua yang tidak puas ketika perjalanan harian matahari hanya diberi label terbit, condong sedikit ke barat, tepat di atas kepala, semakin condong ke barat, dan tenggelam. Ada ukuran yang terlalu panjang dan tak tentu. Bisa jadi jika hal tersebut dari mulut Baginda Raja dan tetua tidak dapat memahami kapan tepatnya waktu yang dimaksud sang Baginda Raja, ia akan berakhir menjadi hantu tanpa kepala.

Bisa jadi cerita diatas benar, bisa juga tidak. Yang jelas itu hanya karangan saya. Dan yang pasti lagi, sekarang kita terbiasa dengan sebutan detik, menit jam untuk menjadikan waktu sebagai sebuah dimensi yang bisa diukur. Bahkan untuk orang-orang yang sangat membutuhkan ketelitian, perhitungan waktu kembali dipecah menjadi satuan yang lebih kecil daripada detik.

Lalu, seandainya pada tetua,pencipta konsep waktu, menyaksikan sikap anak cucunya terhadap waktu, akankah ia menyesal?

Tetua dahulu menjungkirbalikan semua isi kepalanya, menciptakan ukuran baku penunjuk waktu demi akurasi. Sayang sekali, para anak cucu, justru lebih senang ingkar terhadap waktu.

Karena sesungguhnya, frasa on the way adalah bentuk lain dari baru berangkat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s