Nggak Gampang Jadi Manusia

“Nggak gampang jadi manusia,”pikir O.

 – O, Eka Kurniawan

Minggu lalu, ketika berangkat kerja saya menyaksikan dua buah gerobak dinaikan ke atas mobil bak dengan tulisan satpol PP pada salah satu sisinya. Salah satu pemilik gerobak saya kenal sebagai penjual batagor tepat dibawah jembatan penyeberangan orang Bundaran Senayan.

Laki-laki berkumis tebal tersebut tidak melakukan perlawanan. Atau bisa jadi perlawanannya sudah usai. Pasalnya saya menyaksikan kejadian tersebut sekitar 250 meter dari lokasi biasa ia berjualan. Sementara petugas satpol PP mengurusi gerobak, ia sibuk membereskan penggorengan, adonan, bumbu dan batagor-batagor yang sudah sempat dikemas.

Ada perasaan kasihan ketika menyaksikan raut wajahnya. Hari ini praktis ia tidak mendapatkan penghasilan karena kejadian tersebut masih sangat pagi. Saya tidak paham apakah gerobak yang disita bisa ditebus kembali atau tidak. Tetapi raibnya si gerobak akan mempengaruhi penghasilannya beberapa hari ke depan bukan?

Ketika saya mengambil peran sebagai pejalan kaki, kadang kala saya diliputi perasaan kesal. Tidak semua jalan di Ibukota mempunyai ruas trotoar yang memadai. Entah dari segi ukuran mau pun dari segi tata bangun. Turun naik mengikuti pintu masuk gedung. Bongkar pasang mengikuti jadwal perbaikan instalasi kabel bawah tanah dan/atau gorong-gorong. Diserobot pengendara sepeda motor dikala jalanan sumpek. Padahal tanpa semua hal tersebut beberapa titik di trotoar ibukota sudah dijejali pedagang kaki lima.

Pedagang kaki lima hadir sebagai bentuk grab to go store bagi pejalan kaki. Penyedia layanan camilan hingga makanan berat yang mudah diakses bagi para pemburu kursi bis, kopaja, metromini dan moda transportasi lainnya. Harga yang ditawarkan sangat miring, bukan semata-mata karna pilihan bahan (yang kerapa muncul di reportase investigasi) melainkan karena mereka tidak mengeluarkan biaya sewa tempat dan pajak tentu saja.

Siapa yang tahan godaan makanan yang penyajiannya cepat, murah dan mudah untuk didapatkan?

Saya pernah menjadi pengamat bagaimana sebuah usaha kaki lima berkembang. Dulu, sebuah gerobak rujak tiba-tiba muncul tepat di pertigaan mau ke kosan. Gerobak rujak tersebut bukan berisi buah-buahan melainkan berisi bihun, ayam utuh yang siap disuir, kol dan bahan-bahan penyusun soto lainnya. Hanya ada satu gerobak rujak yang beralih fungsi menjadi gerobak soto dan penjual.

Beberapa bulan kemudian, penjual dan gerobaknya mulai ditemani bangku-bangku plastik. Mungkin beberapa pelanggan komplain mengapa tidak bisa makan di tempat. Selain keberadaan bangku plastik, layanan makan di tempat tentu memaksa penjual mempunyai mangkok dkk serta satu spot berisi ember untuk bersih-bersih.

Mendekati masa setengah tahun, gerobak rujak lenyap, berganti dengan gerobak kayu dengan ruang tampung yang lebih luas, lebih kokoh dan tentu saja lebih cocok sebagai sarana berjualan soto ayam.

Sampai pada suatu pagi saya akhirnya menyaksikan penjual soto mengembangkan terpal sebagai peneduh bagi pelanggan yang sedang sibuk dengan mangkok soto masing-masing. Tidak lagi berbangku plastik. Sudah berbangku dan bermeja kayu.

Kembali kepada pernyataan O dipembuka tulisan ini. Tidak mudah menjadi saya. Pada satu sisi saya menginginkan trotoar propejalan kaki, tapi sisi lain saya juga menyukai fasilitas grab to go yang mereka tawarkan.

Katanya selalu ada dua sisi mata uang. Dari beberapa keping mata uang, ada berapa sisi yang mesti kita hadapi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s