Naik Apa?

Kemarin pagi, saya butuh menunggu sekitar 15 menit untuk mendapatkan taksi. Padahal biasanya ada taksi yang mangkal tak jauh dari kosan saya. Beruntung sebuah taksi akhirnya berhenti, tujuan saya pagi itu cukup jauh dan ada agenda meeting pagi (meskipun akhirnya saya terlambat).

“Saya pikir mbak mau ke tengah kota. Kalau agak ke pinggir ini aman kita,” ujar pengemudi tersebut begitu saya menyampaikan tujuan saya. Ia bercerita bahwa ia biasanya mangkal di sekitar BEI. Hanya saja pagi itu, ia harus beranjak dari tempat biasa ia mangkal karena ada beberapa orang yang mulai sweeping (saya tidak terlalu paham siapa dan apa tujuan sweeping yang ia maksud karena tidak bertanya lebih lanjut).

Meeting berlangsung hingga sore dengan agenda super padat sehingga saya tidak sempat mengecek sosial media. Saya buta akan informasi seputar aksi pengemudi taksi kemarin. Saya tersadar ketika pool taksi yang biasa saya gunakan kosong. Beruntung teman saya bersedia mengantar sampai saya menemukan taksi. Katanya keberuntungan tidak datang dua kali. Nyatanya, saya beruntung mendapatkan taksi untuk pulang.

Taksi melintasi jalan tol dengan gerimis yang semakin deras.”Macet ilang ya, kalau nggak ada taksi…”

Saya mengaminkan. Kondisi jalanan yang biasanya macet sejak pintu tol, sore itu tampak lancar.

Melewati Citos, pengemudi taksi berkata “Wah! (pool) citos kosong”

Saya menoleh. Benar tidak ada deretan taksi disana. Saya beberapa kali menjadi saksi bisu betapa mengularnya antrian taksi di Citos sebelumnya.

Melewati Office 8 pengemudi taksi kembali berujar,” Office 8 nggak ada yang mangkal….”

“…serem saya,” lanjutnya ketika saya menyerahkan voucher credit. Mungkin inilah arti dari semua hening sepanjang perjalanan tadi.

***

Hari ini, saya tidak mendapatkan taksi (yang voucher creditnya disediakan oleh kantor) untuk menuju kantor klien. Pasalnya taksi yang bersangkutan memberikan free services untuk hari ini. Semua taksi yang melintasi saya telah mengangkut pelanggan.

Salah seorang teman ada yang berkomentar,”Gratis sih, tapi kalau yang ngankut anarkis?”

Apa yang disampaikan teman saya ini sudah saya dengar sebelumnya. Tentu saja bagi orang-orang yang berhadapan langsung dengan kejadian kemarin, mungkin ada rasa takut yang masih membayangi.

“Gw sih masih percaya nggak semua pengemudi taksi anarkis. Buktinya kemarin gw ketemu sama dua orang yang baik” ujar saya.

Memang itulah yang saya rasakan. Saya menemukan satu pengemudi yang mengantar saya meeting dan satu orang lagi yang mengantar saya pulang. Keduanya baik.

***

Bagian menarik lain dari aksi pengemudi taksi kemarin adalah pernyataan resmi dari mentri (entah mentri apa) pada sore hari, yang gw dengar melalui radio dari taksi yang sedang saya tumpangi ketika itu. Lebih kurang isinya begini:

“Perusahaan taksi dan sejenisnya tunduk kepada peraturan (nomor berapanya gw lupa). Ketika peraturan tersebut dibuat kami tidak menyangka bahwa percepatan tekhnologi akan seperti sekarang (munculnya taksi dan ojek online). Jadi beri kami waktu untuk membuat peraturannya”

Menarik bukan.

Keberadaan ojek online sudah ada beberapa tahun yang lalu, meski baru booming pertengahan tahun lalu. Ketika usaha ojek dan/atau taksi online ini baru muncul pemerintah mungkin memandang ide ini sebagai satu hal yang tidak perlu diberi perhatian lebih. Ketika akhirnya keberadaan ojek dan/atau taksi online ini merebak mereka mulai kalang kabut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s