Broken Vow

Siang itu, gw sedang menunggu antrian Customer Service di sebuah Bank ketika tanpa sadar gw menguping pembicaraan 2 orang penggunjung lainnya.

“Ya, gw jelasin ke laki gw, konflik-konflik yang bisa muncul kalau gw nggak kerja lagi….” ujar perempuan berambut terutai hingga dibawah bahu tersebut.

Dengan sendirinya cuping telinga gw bersiaga. Ini topik menarik.

Dari cara dia berkata-kata, perempuan ini jelas bukan perempuan yang ‘nurut’ sama suaminya. Tipikal wanita urban, punya cita-cita dan mandiri.

“Kayak beli gas, sama galon… selama ini gw nggak pernah minta sama dia, kalau nanti gw nggak kerja, otmatis semuanya gw minta ke dia dong… apa ntar dia nggak ngerasa kok kayaknya uang belanjanya jadi meningkat banyak….”

Setuju! Kata gw dalam hati. Meski gw belum berkeluarga, gw sependapat dengan perempuan disamping gw ini. Cewek mandiri, biasanya menitipkan satu kaki kepada suaminya sementara satu kakinya tetap menapak kokoh.

Perempuan disamping gw ini misalnya. Ia mungkin hanya menyebutkan uang galon dan gas. Namun pada dasarnya ia juga menanggung biaya perawatan tubuh, biaya belanja baju, tas dan sepatu baru, sendiri. Ketika ia tidak lagi mempunyai penghasilan, beban tersebut akan dilimpahkan ke pundak suami. Apakah para suami bersedia menambah beban tersebut? Meski terlihat cemen, gw yang belum berkeluarga ini, setuju bahwa hal ini akan menjadi pemicu konflik. Maaf kalau sotoy namanya juga bisa berteori.

“Tapi kalau pun yang terjadi adalah hal terburuk…. misalnya nih kita nggak bisa bertahan setelah gw berhenti kerja…. buat gw sih nggak masalah. Gw bisa balik ke orang tua gw dan mulai usaha dengan tabungan gw yang sekarang”

Kali ini gw terhenyak. Wow!

Perempuan kuat disamping gw ini. Sungguh ia sudah menunjukan karakter seorang alfa women. Ia tidak menggantungkan seluruh hidupnya kepada sang suami. Gw akan bertepuk tangan untuk semua ketangguhannya tersebut. Tapi tidak untuk hal terakhir yang ia sampaikannya. Gw tertatih dengan kegamangan gw sendiri.

Serapuh itukah simpul pernikahan?

Dalam benak pernikahan adalah sebuah komitmen besar. Jika pernikahan diibaratkan sebagai sebuah tali, maka ia adalah tali tambang. Cinta hanya satu dari tali kecil penyusunnya. Ada rasa percaya, keterbukaan, rasa saling memiliki, saling mendukung, keselarasan visi, dan jutaan komponen lainnya.

Saking gw memandang komitmen dalam sebuah pernikahan sedemikian kompleks dan berat, gw sering kali merasa haru ketika orang-orang terdekat gw memutuskan untuk menikah. Mereka melewati telah melewati masa bimbang yang berkepanjangan sampai akhirnya berujar “Ya! kita menikah”

Keputusan apakah istri akan tetap bekerja atau tidak setelah menikah atau setelah punya anak, bukankah itu seharusnya menjadi pembicaraan awal. Lebih awal dari pada keputusan akan memesan gedung apa, pakai gaun pengantin rancangan siapa? Paling tidak itu yang ada dalam benak gw.

(Masih dalam benak gw) Pernikahan itu ibarat mengarungi samudera luas. Pelabuhannya adalah maut. Ketika jangkar sudah diangkat dan kapal mulai melaju, bukankah sudah terlambat untuk membahas berapa daya tampung sekoci?

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Broken Vow

  1. Klo mnrut gw engga dia, semua dinamis.. Apa aja bisa berubah, sekalipun itu udh disepakatin di awal. Dilemanya pun berkepanjangan, secara awalnya sendiri, jd berdua, bertiga dst.. Kondisi akan menyesuaikan dgn kebutuhan, ya kan.. Hehe.

    Eh tapi, berarti gw ga termasuk wanita urban ya.. Gw pengen punya penghasilan tapi gw ga sanggup ninggalin anak dan fokus ke hal lain, dgn kata lain 95% gw masi bergantung pd suami *poor me*.. Dan gw rasa tepat kata lu, klo gw mikirnya wanita butuh bekerja buat membantu suami dalam hal memenuhi kebutuhan si wanita itu sendiri.. Klo suami ga ngasi, kan ga enak klo minta2 terus πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

    Dan lagi, setan dalam rumah tangga itu banyaaak bgt.. Hihihi, gw serius.. Dikepala lu bisa muncul bermacam2 pikiran yang sebelumnya gw yakin lu ga pernah mikir klolu bisa mikir begitu.. *eh apa gw aja ya, hahaha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Udh ah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s