Hal Yang Ditunggu-Tunggu

Ada beberapa hal yang dengan ikhlas   gw tunggu,bahkan hingga menahun.

Bayangkan, betapa jahanamnya Christopher Nolan dan Steven Moffat menyajikan 3 episode untuk setiap season Sherlock Holmes yang tayang di BBC. Dan setiap season dipisahkan selama dua tahun. Bahkan dari season 3 ke season 4 mereka memperpanjang masa menunggu menjadi 4 tahun. Meski pada awal tahun 2016 mereka merilis satu episode spesial, tetap saja, dosa mereka tidak termaafkan.

Seperti ABG yang disakitin tapi balik lagi, se-kzl apapun gw mengiringi episode terakhir setiap seasonnya, tetap saja ketika season selanjutnya muncul gw akan tenggelam dalam euforia yang melenakan.

Contoh lainnya adalah Sekuel Supernova. Gw mulai benar-benar menunggu kelanjutan Supernova setelah kehadiran Gelombang. Empat sekuel Supernova sebelumnya bisa dibilang sebagai episode tunggal. Gelombang muncul memberikan sebuah cerita baru sekaligus menjadi sebuah wadah bagi keempat cerita sebelumnya. Gelombang menjadi sebuah awal ‘praduga’ bahwa kisah yang terlihat tidak terkait tersebut adalah bagian dari sebuah kisah yang lebih besar. Kisah besar tersebut dijelaskan  dan diselesaikan di Intelegensi Embun Pagi.Inilah yang menyebabkan IEP begitu gw tunggu-tunggu.

Gw, gadis solehah ini, turut menitipkan doa agar IEP segera terbit, setiap kali melihat postingan Dee Lestari di IG. Ikut-ikut tegang menunggu lahirnya IEP ke dunia nyata. Berbahagia menenteng IEP pulang datu hari setelah rilis di toko buku terdekat.

Anehnya, begitu IEP ada dipangkuan gw, gw justru butuh waktu lama untuk menimbang apakah plastik pembungkus ini gw robek saat itu juga atau tidak?

Untuk pertama kalinya, untuk hal-hal yang sudah gw tunggu-tunggu, gw membiarkan IEP begitu saja. Masih dengan bungkus plastik rapuhnya. Tidak sehari dua hari tetapi sampai 10 hari. Ketika linimasa twitter sudah ribut dengan IEP, gw masih berkutat dengan pertanyaan, “baca sekarang?” “Ah!ntar aja”

Lagi-lagi gw udah kayak ABG yang tau cowoknya gebet sana-sini tapi memilib tutup telinga atas laporan sohib-sohibnya karena takut putus. Tapi seberapa pahitnya perpisahan, pada akhirnya pil pahit (baca IEP sampai kelar) tetap harus gw telan.

Sama seperti menelan pil pahit ketika harry potter udah sampai sekuel ke-7. Gw harus menerima bahww semua penantian tersebut akan berakhir cepat atau lambat. Menyenangkan atau tidak.

Tapi waktu JK Rowling menyebutkan akan menerbitkan Harry Potter and Cursed Child I & II pertengahan tahun ini, rekasi gw semacam,

“Hah! Setelah gw dengan rela hati membiarkan harry berakhir dengan anak laki-lakinya yang rupawan, Albus Severus Potter, kemudian Oma JK Rowling bermaksud memunculkan kisah baru?”

Gw merasa terkhianati. Ibarat ABG yang sudah bertahun-tahun belajar menerima bahwa cowoknya meninggal, namun puluhan tahun kemudian muncul menggandengan cewek lain. Sakitnya tuh disini.

Sebenarnya nggak jelas sih ini tulisan ujung pangkalnya dimana. Tapi dituliskan saja, berhubung ini blog gw.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s