Perasaan Cukup

Beberapa hari yang lalu gw appraisal. Masih kantor yang sama tapi dengan boss yang berbeda.

Appraisal dimulai dengan pertanyaan standard, tentang apa yg gw rasakan satu tahun terakhir, pencapaian target dan point-point penilaian kinerja lainnya. Hingga bagian puncak, pengaruh penilaian kinerja terhadap kenaikan gaji. Ya! Inilah inti dr performance appraisal bukan?

“Saya selalu berusaha (anggota) tim dapat kenaikan yang lebih baik dari saya” ucap si Boss.

Tanpa diberi tau pun gw tau itu. Satu setengah tahun bekerja sama dengan si Boss cukup untuk mengenal dia.

Dari mulut ke mulut sesama anggota tim, gw tau bagaimana ia mempertahankan kenaikan gaji tim kami tahun lalu, ketika manajemen berkali-kali minta revisi. Dia bahkan sempat mengutarakan agar gajinya tidak perlu dinaikan agar gaji anggota tim yang lain tidak berubah.

Ya begitulah si Boss.

“Nih, kayaknya gaji saya g jauh beda sama kamu?” katanya memperhatikan layar laptop.

Meski gw tidak mengetahui nominal pastinya, gw juga sempat mendengar berapa kira-kira gaji si Boss. Menurut saya memang tidak sebanding dengan tanggung jawab dan kapasitas dia sebagai seorang manager.

Selisih beberapa juta antara gw dan si Boss mungkin cukup besar secara nominal tapi ketika kalian bandingkan antara gw yang hanya menghidupi diri sendiri dengan si Boss dengan tiga anak yang masih kecil, selisih beberapa juta rupiah tersebut nyaris bukan apa-apa bukan?

Paling tidak itu yang gw rasakan. Dan membuat gw harus bertanya, “Kenapa begitu?Apa itu namanya bukan memdzolimi diri sendiri?”

Iyakan. Hari-hari gw masih berkutat dengan harga sepatu yang nggak diskon-diskon atau buku bagus yangvterus menerus twrbit padahal budget beli buku sudah habis. Nah si Boss, ia bergulat dengan kenaikan harga bahan pangan, tarif listrik, harga bbm dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Ketika jumlah kenaikan income tidak sesuai dengan kenaikan expenses bukannya ini masalah? *menurut gw*

“Ya! Buat saya gaji segitu sudah cukup”,si Boss menjawab dengan singkat tapi menimbulkan sayatan dalam dihati gw.

Cukup! Disitulah kuncinya.

Gw jadi ingat dulu ketika gw baru-baru dapat kerja Emak gw bernasihat “Yang namanya duit itu kalau banyak akan habis juga, kalau adanya sedikit akan cukup juga”

Ya! Seberapapun jumlahnya ia akan habis (kecuali bagi orang-orang tertentu kali ya) buktinya setiap kali naik gaji gw selalu yakin bisa menabung sejumlah uang, pada kenyataannya gaji tersebut lenyap sebelum sempat ditabung, atau ditabung dengan nominal lebih kecil dr harapan.

Mungkin kuncinya memang pada perasaan cukup. Jika cukup dengan kopi tubruk, tidak ada keharusan untuk doubleshoot esspresso bukan?

Obrolan dengan si Boss udah usai tapi kata-kata cukup masih sering menggema dalam benak gw.

Makhluk kurang pandai bersukur ini, semoga segera mulai fokus pada apa yang ia miliki, bukan yang orang lain miliki.

Dia Febrina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s