Renungan di Kedai Kopi

Antrian mengular.

Siapa yang mampu menolak godaan diskon 59% untuk satu porsi cafein yang biasanya dibandrol seharga 35-50 ribuan.

Geelas dengan berbagai nama dan kode minuman berbaris rapi, menunggu tangan-tangan cekatan para barista. Setiap kopi harus sampai di tanggan pelanggan sesuai dengan standard operating procedure yang ditetapkan perusahaan. Keterlambatan bisa menjadi bumerang. Tidak ada yang lebih berbahaya dari pelanggan yang tidak sabar dan sosial medianya bukan? Oh, sebenarnya ada, pengguna media sosial yang gemar membagikan info tanpa merasa perlu mengecek kebenarannya.

Kembali ke barista dan barisan gelas kopi.

Saya selalu membayangkan segelas kopi sebagai sesuatu yang istimewa. Ada hal-hal yang lebih menakjubkan diluar perpaduan biji kopi terbaik, susu dan juga gula. Kopi mewakili kombinasi impian, passion dan cinta. Begitulah gambaran para penyair, yang akhirnya mengendap dalam benak saya.

Lalu, sebuah kopi yang dihadirkan tergesa-gesa tentu saja ia masih menghasilkan kombinasi kopi,susu dan gula yang padu. Tapi bagaimana dengan impian, passion dan cinta?

Mendadak saya ingat mengantri kopi disebuah booth mungil. Hanya ada seorang barista yang merangkap sebagai kasir dan juga owner. Percakapan ringan mengiringi waktu menungggu, hingga segelas kopi dihadirkan ke tangan pelanggan. Dalam wadah gelas platik tanpa label.

Namun, hanya butuh satu seruput untuk mengetahui bahwa kopi ini tidak dihadirkan hanya untuk memenuhi perhitungan matematis kopi, gula dan susu.

b-nnhpbviaapisd

Gambar diambil di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s