Menggantungkan Mood Pada Secangkir Kopi

“Emang kopinya enak?”

Saya menyentuh gelas kertas, mencoba bertelepati dengan cairan kental di dalamnya. Otak saya mengurai kenangan kebersamaan saya dengan kopi ini, berkomunikasi dengan indra pengecap sebelum membuat grafik kesimpulan. Hot Coffee Latte ini apakah ia enak? atau tidak?

“Biasa aja sih….”

Memang seperti itulah adanya. Minuman yang menurut papan iklannya 100% arabica mempunyai kadar kopi yang cukup kuat saya ingat perasaan kaget ketika indra pengecap saya berkenalan dengan minuman tersebut untuk pertama kalinya. Kopi kuat dipadukan dengan susu yang sedikit berlebih. Saya sebut sedikit berlebih, karena warna minuman tersebut mendekati kecoklatan bukan kehitaman. Namun bukan masalah besar, kelebihan tersebut masih dalam rentang selera saya.

Sungguh, memang tidak ada yang istimewa dari kopi ini kecuali ia bisa mengubah mood saya menjadi lebih baik.

Pagi itu, saya harus bangun lebih pagi dari biasanya, saya haru sberangkat pukul 7 dari kantor agar bisa sampai di kantor klien sebelum pukul 9,di pinggir ibukota.

Pukul 7 sudah harus sampai di kantor, padahal biasanya saya baru meninggalkan kosan pukul 8, jelas ada penurunan mood disana, apalagi saya harus bertarung dengan kemacetan tol cikampek. Disanalah kopi ini hadir, menjadi penyelamat mood saya.

Setelah hari itu, saya hampir setiap hari mengunjungi mini market, penyedia kopi tersebut, sebelum menuju kantor saya di lantai 11.

“…. lagi suka aja” lanjut saya berharap penjelsan singkat barusan bisa membuat si hot coffee latte tidak terlalu sedih. Ia penyelamat mood saya, jangan sampai moodnya berubah buruk hanya karena saya menyebut rasanya biasa-biasa saja.

***

Hari berlalu, pagi datang kembali dan saya medatangi mini market yang sama, memesan kopi yang sama, muncul di kantor dengan senyum yang sama.

Mengeluarkan perlengkapan bekerja dari tas punggung dan bersiap menyesapi seruput pertama.

Kecut.

Dahi saya berkerut, tidak percaya. Mungkin saya perlu menyeruput kopi yang sama satu kali lagi.

Tetap kecut.

Saya menambahkan sedikit gula.

Kopinya menjadi kemanisan dan kecutnya tetap tidak hilang.

Mood saya menurun, hingga sore kopi saya masih tersisa banyak.

***

Keesokan harinya saya mengulangi hal yang sama, berfikir bahwa kemarin saya kebetulan sedang tidak beruntung. Namun jika kebetulan datang berkali-kali, apakah ia masih tetap pantas disebut kebetulan (mengutip ayu utami)?

Kopi, yang sebelumnya tidak mempunyai rasa yang istimewa mendadak menjadi kopi yang tidak enak. Pada hari kedua saya membuang sendiri kopi tersebut, dengan perasaan nelangsa.

Kopi yang rasanya biasa-biasa saja ini, ia sudah membuat kopi-kopi normal saya sebelumnya tersa lebih manis. Dan saya tidak suka kopi yang kemanisan.

Kopi yang rasanya biasa-biasa saja ini, sepertinya ia tidak suak disebut biasa-biasa saja. Ia ingin diakui lebih baik. Ia terluka, dan saya kehilangan mood booster.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s