Introvert

Tulisan ini repost dari blog saya sebelumnya. Karna menurut Chagi, tulisan ini bagus. Jadi saya baca ulang dan rasanya pantas direpost disini karena masih mewakili apa yang saya pikirkan saat ini.

 


 

Kemarin malam @AdjieSilarus  berbagi 16 hal yang harus dilepaskan untuk meraih hidup yang lebih bahagia menurut LifeHack. Rangkuman tentang ke 16 ha tersebut bisa dibaca disini.

Pada point ke 14 @AdjieSilarus berhasil menarik sebagian besar perhatian saya.

Mengapa bersikap ekstrovert menjanjikan kebahagian lebih dibandingkan dengan bersikap introvert? Bagitu tanya saya kepada dia yang dibalas sebagai berikut :

 twit

Jumlah manusia introvert adalah 1/3 dari populasi dunia. Mungkin inilah penyebab munculnya paradigma awal bahwa ekstrovert lebih baik dibandingkan dengan  introvert. Manusia hidup dalam sebuah hitungan statistik. Angka statistik yang lebih besar selalu dianggap lebih baik.

Mengapa saya tertarik dengan point 14 yang disampaikan oleh @AdjieSilarus adalah karena saya masuk dalam manusia-manusia Introvert. Saya tidak sedang berusaha menyerang @AdjieSilarus dengan kultweet-nya. Namun saya ingin mendapatkan penjelasan. Bagi saya ketika ekstrovert memberikan kemungkinan untuk bisa hidup lebih bahagia dengan alasan-alasan yang masuk akal, maka saya akan memikirkan untuk menjadi ekstrovert. Bukan karena mengikuti pendapat sebagian orang melainkan karena saya ingin berbahagia -bukan berarti pula kehidupan saya hari ini tidak bahagia-.

Tentang ekstrovert dan kemungkinan untuk hidup lebih bahagia, ini bukanlah sebuah harga mati.

Kebahagian adalah satu dari sekian banyak emosi yang memiliki parameter berbeda untuk masing-masing manusia. Kebahagian mempunyai banyak perspektif dan  sangat subjektif.

Yang menetukan kamu akan berbahagia adalah persepsi kamu sendiri.

Saya ingat dalam sebuah sesi penilaian kinerja, saya mendapatkan saran berikut :

” Kamu sudah dewasa, bersikaplah lebih terbuka ”

Dalam benak saya terbuka lekat dengan ekstrovert. Sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya ketika itu,

” Bagaimana mungkin keterbukaan dikaitkan dengan kedewasaan? “

Bagi saya keterbukan adalah kotak pandora yang hanya bisa dibuka dengan kunci kepercayaan. Kepercayaan tidak melulu tentang seseorang tersebut tidak akan mengumbar apa yang saya ceritakan kepada orang lain melainkan juga masalah kenyamanan. Tahukah kalian, dalam tataran yang lebih dalam kepercayaan juga tidak lebih dari sebuah persepesi. Otak menciptakan persepsi atas seseorang berdasarkan tindak tanduknya yang bisa kita amati, sebelum menetapkan apakah seseorang tersebut bisa dipercaya atau tidak.

Jadi ketika seseorang yang kita percayai berkhianat sesungguhnya yang pertama kali berkhianat adalah persepsi kita sendiri. Yang menyebabkan manusia kecewa juga bukan karena pengkhianatan seseorang yang dipercayainya melainkan ketidak relaan untuk mengakui bahwa persepsi kita terhadap seseorang salah.

Nah, berikut adalah sebuah video yang menunjukan bahwa manusia-manusia introvert juga berbahagia dengan caranya sendiri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s