Phonm Penh

Tuk-tuk, mobil-mobil produksi jepang dari berbagai usia, sepeda motor hingga bus-bus sedang melaju dengan kecepatan sedang. Padahal jalanan pagi itu tidak ramai. Bagungan-bangunan  dikotak-kotakan dalam kavling yang cukup rapi sehingga ada puluhan perempatan yang bisa ditemui sepanjang perjalanandari bandara menuju tengah kota. Menariknya tidak semua perempatan dilengkapi dengan lampu lalu lintas.

Benar atau tidak, di perempatan-perempatan tanpa lampu lalu lintas, keberanian dan kemurahan hati menjadi kunci siapa yang akan melaju terlebih dahulu. Pengendara yang pemberani sudah barang tentu selalu berhasil mmendapatkan jalan. Pengendara yang murah hati, tentu memberi jalan kepada pengendara dari arah vertikal.

Tidak ada suara klakson. Semua seolah paham kode etik perempatan. Bahkan seorang perempuan yang motornya jatuh dalam sebuah insiden kecil, dengan tenang memperbaiki posisi motornya, mengumpulkan jeruk yang bergelindingan, menata semua belanjaan  kembali di atas motornya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada umpatan. Semuanya bergerak dalam damai.

Mendekati pusat kota, untuk pertama kalinya saya menemukan sebuah bangunan tinggi di sisi kiri jalan. Ia tampak menjulang diantara bangunan empat lantai yang mengelilinginya. Dalam hitungan tahun, bangunan ini tentu saja akan mempunyai banyak pesaing. Lihat saja alat-alat berat yang bertengger diatas lahan-lahan proyek disekitarnya. Juga puluhan pekerja dengan rompi menyala mereka. Mereka siap menciptakan pesaing.

Lupakan kebiasaan masuk restoran franchise Amerika untuk makan siang dan malam. Hanya ada beberapa store KFC, selain itu nihil. Jika ada satu hal yang sarat amerika ditempat ini adalah mata uang yang digunakan penduduknya. Dollar Amerika Serikat.

Lagipula siapa yang masih ingin makan ayam tepung jika ada gerobak-gerobak yang menawarkan makanan khas setempat. Mulai dari Iced Coffe, Sea food BBQ hingga segala macam serangga goreng.

Semuanya bisa dinikmati sembari bersantai di pinggir Sungai Mekong. Tidak hanya turis, warga setempat pun tumpah ruah. Ya! Phnom Penh bisa jadi tidak sebesar Jakarta tapi ia punya ruang terbuka publik. Satu harga mahal yang harus dibayarkan Jakarta demi memenuhi ambisi menjadi sebuah kota megapolitan.

Ah! Bukankah saya kesini untuk melupakan hiruk-pikuk Jakarta? Bagaimana mungkin setiap jengkal yang saya lewati justru membuat saya membandingkan Phnom Penh dengan Jakarta.

Sungguh tidak ada yang sanggup lari dari masa lalu. Karna ia, kamu sekarang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s