Eternally Love

“Menurutmu, kalau aku meninggal nanti, dokter Wira akan bilang gitu juga nggak?” Ia bertanya tanpa melepaskan pandangan dari layar televisi.

Seorang dokter muda dengan dandanan berlebihan sedang berusaha menenangkan keluarga pasien. Keduanya berpelukan di depan sebuah pintu dengan tulisan ‘ruang operasi’. Sepertinya dokter ingin menenangkan keluarga pasien yang histeris setelah mendengar kabar buruk yang disampaikannya.

“Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin….”lanjutnya lagi, mengulang penyataan dokter di layar kata tadi. Sekarang ia menoleh ke arahku.

Sejujurnya aku tidak mengetahui di dunia apakah itu adalah standard operating procedure atau bukan. Hanya saja, aku sudah mengenal dokter Wira sejak lama. Dan dokter Wira sudah mengenal istriku jauh lebih lama lagi. Ia terlalu luar biasa untuk muncul dari balik ruang operasi hanya untuk mengatakan ‘Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin….’. Maksudku, kami bertiga sama-sama mengetahui bahwa ia memang sudah berusaha yang terbaik untuk istriku, jauh sebelum aku mengenalnya.

Ia mengenal kematian sudah sejak lama. Terlalu akrab sehingga baginya kematian adalah seorang sabahat. Layaknya berkisah tentang sabahat, tidak sekalipun aku menangkap perubahan nada bicara tentang kematian.

Pada awalnya aku dibuat tidak nyaman dengan frasa ‘kalau nanti aku meninggal….’ namun seiring dengan berjalannya waktu, aku pun mulai merasa obrolan seputar kematian seringan obrolan besok pagi mau sarapan apa.

Jadi bukan rasa tidak nyaman yang membuatku memilih membawa piring bekas nasi uduk ke dapur melainkan karena aku membutuhkan waktu untuk berfikir. Meski terbiasa, kematian tetap menjadi satu hal yang asing bagiku.

***

Satu Setengah Tahun Sebelumnya

“Kamu cantik”

Ada banyak hal yang bisa dipuji dari ia. Wajah pucat yang kontras dengan mata penuh binar. Nada tegas pada setiap perkataan yang meruntuhkan kesan ringkih akibat tubuh mungilnya. Senyum yang melebutkan rasa lelah. Hanya saja, apa gunanya berakata-kata indah untuk sesuatu yang sudah indah.

Ia menatap tepat ke mataku, cukup lama, tanpa berkedip, membuatku merasa canggung. “Apa yang kamu harapkan dengan pernyataan barusan?” tanyanya tanpa melepaskan pandangan.

Aku mengernyitkan dahi, mencoba menelaah sekaligus menemukan jawaban. Apa yang aku harapkan? Aku tidak yakin ini sebuah harapan atau tidak, namun aku sempat mengimajinasikan ia tersipu dan tersenyum malu-malu setelah mendengar pujianku. Dan aku salah.

“Aku sampaikan beberapa hal. Pertama Tuhan tidak berencana memberiku usia panjang. Oleh karena itu aku meminta agar Tuhan tidak membuang-buang waktuku dengan jatuh cinta pada orang yang salah. Aku yakin kamu adalah orang yang tepat. Aku rela menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Tapi, kamu? Apa kamu sanggup membangi sedikit waktu denganku?”

Aku bermaksud membantah pernyataannya yang terasa menyudutkan. Seolah hanya ia yang memanjatkan doa yang sama. Aku melewati masa kecil yang sulit, mengais-ngais makanan sisa dari rumah makan. Untuk seseorang sebatang kara dan selalu lapar, aku hanya punya satu cita-cita. Bahwa suatu hari aku bisa makan kapanpun dan apapun yang aku inginkan tanpa harus meminta dan merengek kepada salah seorang pelayan rumah makan. Makanan didapatkan melalui pertukaran dengan uang. Waktu adalah Uang. Jadi aku tidak butuh perempuan sebagai pengalihan.

Dia mengangkat tangannya, memintaku menahan pembelaanku, “Kedua, kalau pun kamu yakin bisa menerima waktuku yang sedikit, aku akan menghabiskan hasil kerja keras kamu selama bertahun-tahun…. demi membuat aku tetap hidup”

Aku tau itu. Ia harus menjalani kemoteraphy tiap 3 minggu sekali, mengkonsumsi obat-obatan setiap harinya. Ia sedang berperang melawan jutaan sel kanker yang menggerogoti hatinya.

Cita-citaku hanya bisa makan apapun dan kapapun yang aku inginkan. Dan hal itu hanya mengambil 20% dari penghasilanku saat ini. Oh Tuhan, apakah ia tidak paham? jangankan penghasilan hatiku akan aku donorkan, sayangnya aku bukan donor yang tepat.

“Ketiga, Seandainya kamu menerimaku, kamu menghabiskan semua yang kamu miliki demi aku masih bernapas sampai besok pagi, pada akhirnya aku akan tetap meninggal. Lalu bagaimana kamu akan menjalani hidup setelahnya?”

Aku terhenyak. Aku belum sempat meramal hingga babak ini. Anggan-anganku masih sampai aku akan berusaha apapun agar ia tetap hidup.

“Aku berjuang bertahun-tahun untuk tetap hidup. Ketika aku akhirnya meninggal, aku hanya ingin dua hal. Diingat sebagai seorang perjuang atau tidak pernah diingat sama sekali. Aku tidak butuh seseorang yang berputusa asa. Itu menodai perjuanganku selama ini”

Lihat betapa ia terdengar sangat meyakinakan. Ia tidak menurunkan nada suaranya juga tidak mengurangi intensitas tatapan matanya.

Ia baru saja beranadai-andai, dia lah yang akan pergi. Sebagai seseorang yang sudah mengorbankan banyak hal, kemudian ditinggalkan? Bukankah seharusnya ia mengkhawatirkan kondisiku kelak? Lalu bagaimana mungkin ia masih berfikir tentang dirinya sendiri.

“Kalau kamu belum bisa menemukan jawaban, aku rasa kita tidak usah bertemu dulu”

Aku terluka.

***

Tidak ada lagi piring yang perlu dicuci, tidak pula dengan panci dan wajan penggorengan. Aku kehabisan alasan untuk mengulur-ngulur waktu.

“Jadi apa kata piring-piring?” tanyanya, melempar senyum kecil ketika aku sudah kembali ke ruang tengah.

Aku menelusuri wajahnya. Aku bisa merasakan rindu merayap sedikit demi sedikit. Bagaimana mugkin aku merindukan seseorang yang bahkan masih berada dihadapanku. Aku bahkan masih bisa menggenggam jemarinya yang semakn kurus namun tidak pernah kehilangan kehangatan.

Menatap wajahnya seperti ini membuatku menyadari satu hal. Ia selalu mengisahkan kematian bukan agar aku terbiasa. Ia ingin membuat setiap waktu yang kami miliki menjadi sangat berharga. Seperti sepotong kue terakhir. Jika engkau mengetahui tidak akan ada potongan kue lain setelahnya, maka engkau akan menghargai potongan yang engkau miliki.

“Dokter Wati akan bilang seperti ini, ‘Istrimu sudah bersama sahabatnya tapi ia menitipkan seorang putri yang cantik’”. Aku menunduk, menempelkan kuping ke perutnya yang semakin besar.

Ia tertawa kecil, “Bagaimana kamu bisa yakin anak kita perempuan?”

“Soalnya aku ingin dia secantik kamu”

Seolah setuju, buah hati kami memberikan sebuah tendangan kecil.

“Kalau dia perempuan, dia pasti tomboy”ujarnya lagi membelai kepalaku lembut.

***

“Bagaimana kamu akan hidup setelahku?” Aku tidak butuh seseorang yang berputus asa”

Dua puluh sembilan hari berlalu. Petanyaanya terus menggema dalam benakku bersamaan dengan pertanyaan bagaimana keadaannya saat ini?

Aku masih bisa mengetahui keadaannya. Aku hanya perlu mengendap-ngendapa, menunggunya melewatkan pagi, mengelilingi taman seperti biasanya. Kadang aku hanya langsung pergi setelah melihatnya, kadang aku melewatkan waktu lebih lama, menunggu sampai ia meninggalkan taman.

Aku butuh menggenapkan menjadi satu bulan untuk menemukan jawaban yang tepat. Bagaimana aku akan menjalani hidup setelah kepergiannya?

Hari itu, ketika aku menghadangnya, ia sama sekali tidak memperlihatkan rasa kaget. Seolah ia sudah mengetahui bahwa aku akan kembali. Ia juga hanya memberikan sebuah senyuman ketika akhirnya aku buka suara.

“Aku mungkin akan menghabiskan semua yang aku usahakan selama bertahun-tahun demi kamu. Aku memang tidak pernah yakin untuk apa semua itu sebelum aku mengenalmu. Berjanjilah menitipkan seorang anak sebelum kamu pergi, dengan begitu aku akan kembali berjuang…. untuknya”

***


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s