Gramedia : Sebuah Pohon Rindang

Bayangkan sebuah pohon dengan dahan kokoh menjulur ke segala penjuru. Pada dahan tersebut melekat ranting lengkap dengan dedaunan yang lebat. Dedaunan itu bergerak kemana angin bergerak, menjadi penyejuk ketika matahari menjadi sedikit lebih garang daripada biasanya, dan menjadi pelindung ketika langit bersedih hati. Selain ranting, dahan-dahan tersebut juga tempat bergantung buah-buah. Ranum dan siap untuk dipetik.

Bagi saya, itulah Gramedia.

Pada tahun 1970, Gramedia masih berupa bibit pohon. Semangatnya untuk menjadi penyokong ilmu pengetahuan memberinya kekuatan untuk mendobrak tanah yang mengelilinginya. Matahari menjadi saksi bagaimana ia bertambah tinggi, kokoh dari hari ke hari. Hal yang Matahari tidak ketahui adalah di bawah permukaan tanah, akar-akar Gramedia bergerak tidak kalah aktif dengan dahannya. Ia mengumpulkan seluruh sari-sari ilmu pengetahuan untuk kemudian dibawa kepermukaan.

Ketika masih kecil, saya tinggal di pinggiran sebuh kota kecil, dimana Gramedia adalah sebuah kemewahan. Sebuah kemewahan dalam makna yang sebenarnya. Diperlukan perjalan berpuluh kilometer ke ibukota propinsi untuk menemukan sebuah bangunan bercat putih. Semakin mewah karena ia mempunyai pendingin udara, satu hal yang asing bagi saya kala itu.

Logo Gramedia muncul dalam banyak buku pelajaran dan buku bacaan semenjak saya sekolah dasar. Ketika akhirnya saya memasukinya, untuk pertama kali, saya seperti masuk ke sebuah taman bermain. Rak-rak berjejer dijejali puluhan judul buku seolah bertransformasi menjasi sebuah labirin yang menyenangkan. Dalam perjalanan menuju ujung labirin, saya maraih buku mana pun yang tidak lagi dibalut plastik pembungkus Saya ciumi halaman demi halamannya. Saya sua menciumi wangi buku baru. Aromanya menenangkan seperti aroma kayu dan dedaunan. Menenangkan.

Itulah dahan pertama yang saya kunjungi. Sekarang, ketika pohon tersebut sudah memiliki 45 garis usia, ia tetap menjelma menjadi tempat favorit saya. Kota manapun yang saya tinggali, saya selalu berusaha menemukan Gramedia terdekat. Salahkah ketergantungan saya pada buku, yang membuat saya tidak bisa lepas dari Gramedia. Jika kebanyakan perempuan akan berakhir di toko sepatu atau pakaian ketika mengunjungi pusat perbelanjaan, saya justru selalu berakhir di Gramedia bahkan ketika sebenarnya yang saya butuhkan adalah sebuah kemeja baru.

Semakin banyak kota yang saya kunjungi semakin banyak pula dahan Gramedia yang saya kunjungi. Saya mendatanginya dengan list panjang buku yang ingin saya baca dan kembali dengan list baru yang tak kalah panjangnya. Setiap hari puluhan judul buku baru dipajang sedangkan saya yang sekarang mulai kesulitan menemukan waktu yang cukup panjang untuk membaca.

Gramedia dengan pengalaman puluhan tahun menjadi ‘inang’ ilmu pengetahuan seolah paham dengan kebutuhan saya. Puluhan ribu judul buku diterbitkan dalam versi e-book. Lebih mudah diakses, lebih ringan dan tanpa batas. Saya bisa tetap membaca disela-sela menunggu angkutan umum atau disela-sela antrian. Namun demikian, saya tetap menyukai buku dalam bentuk cetak karena e-book tidak mempunyai bau yang khas.

Berapa usia pohon tertua yang pernah dicatat sejarah? Enam ribu tahun? Saya harap sepanjang itu pula Gramedia menjelma sebagai ‘inang’ ilmu pengetahuan.

Advertisements

2 thoughts on “Gramedia : Sebuah Pohon Rindang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s