Berkelompoklah Engkau Supaya Berbudi

Sebenarnya gue bukan orang yang aktif diberbagai komunitas. Kalau pun tergabung di komunitas tertntu baik melalui Group Chat atau group/fans page di Media Sosial, biasanya gw menjadi anggota pasif. Hanya mengikuti update yang dipostingkan oleh anggota lain dengan frekuensi ‘nimbrung’ yang bisa dihitung dengan jari.

Tiga tahun yang lalu, group/fans page yang gue ikuti di media sosial adalah kelompok yang berbau travelling. Karena saat itu gue sedang gandrung-gandrungnya jalan-jalan. Gue mulai mengikuti group/fans page yang berisi para backpacker, laman penyedia open trip, hingga laman travel writer. Dari laman-laman tersebut gue mendapatkan referensi,itenerary, tips and trick menghadapi sebuah perjalanan.

Intensitas jalan-jalan hingga menjadi anggota pasif komunitas jalan-jalan, memperkenalkan gue dengan kode-kode etik yang seharusnya dimiliki oleh para pejalan. Misal ketika berada di gunung, tidak seharusnya memetik bunga edelweis, membawa alat-alat kebersihan yang mengandung bahan kimia, membersihkan diri atau peralatan makan di sumber mata air, meninggalkan sampah di puncak gunung dan sebagainya. Sebenarnya untuk urusan buang sampah disembarang tempat tidak hanya berlaku di Gunung, tapi disemua tempat yang dijelajahi termasuk kota besar dan kawasan penduduk.

Setahun kemudian, gue kembali mengikuti group/fans page baru. Kali ini adalah group/fans page penulis. Pasalnya, gue mulai merasa harus mendalami keinginan gue untuk menulis. Gue mulai bosan berangan-angan menjadi penulis tanpa sebuah karya yang nyata (sampai sekarang sebenarnya masih belum ada karya nyata). Gue mulai rajin mengikuti workshop kepenulisan, bergabung dengan komunitas kepenulisan, fans club penulis atau penerbit tertentu.

Karna di dalamnya adalah para penulis, maka pembicaraannya pun tidak pernah jauh dari buku dan tulisan itu sendiri. Salah satu topik yang sering kali menarik perhatian adalah jika salah satu anggota group melemparkan temuan mereka terkait pembajakan. Karya seorang penulis (baik pro maupun pemula) diplagiat oleh penulis lainnya baik dalam bentuk digital maupun dalam bentuk hardcopy.

Gue berhenti membeli buku bajakan sejak lama sekali. Bisa dibilang catatan kejahatan gue dalam hal pembelian buku bajakan nyaris nol. Dahulu, ketika gue kere gue lebih suka meminjam buku dari teman atau bahkan datang ke perpustakaan kota. Ketika akhirnya gue bisa membeli buku, gue tetap tidak membeli buku bajakan. Gue lebih suka menabung atau datang ke bazar-bazar buku. Alasannya sih simple.

Gue nggak ingin orang membeli buku gue (kalau akhirnya berhasil ditulis) dalam bentuk bajakan

Apalagi setelah gue merasakan sendiri menulis itu sulit sekali (paling tidak itu yang gue rasakan).

Tahun ini, gue ikut mulai sering mengikuti kegiatan olah raga. Tidak spesifik pada satu jenis olahgara, bisa dibilang gue menjadi kutu loncat karena tidak yakin oleh raga apa yang benar-benar ingin gue ikuti.

Bertemu dengan orang-orang yang sudah lebih rutin berolah raga sebelumnya, gue dihadapkan dengan kisah bagaimana perubahan aktifitas fisik mereka juga berdampak kepada perubahan gaya hidup, menjadi cenderung lebih sehat. Seperti seseorang yang mulai terbiasa lari setiap hari, secara perlahan akan mengurangi makan junk food karena sadar bagaimana beratnya menghilangkan kalori berlebih dari makanan tersebut.

Sadar atau tidak, menjadi anggota (meski pasif) sebuah komunitas akan membentuk nilai-nilai baru dalam kehidupan seseorang.

Misal, ketika sedang berkumpul dengan para penggila jalan, gue sering mendengar celetukan :

Katanya traveller tapi buang sampah sembarangan. Katanya traveller tapi kok merusak terumbu karang. Katanya traveller tapi kok merusak fasilitas umum.

Ketika berbaur dengan kumpulan penulis, celetukan mereka berbeda lagi :

Katanya nggak sempet nulis karena sibuk tapi kok aktif banget di sosmed. Katanya penulis, tapi kok ngebajak tulisan orang. Katanya mau jadi penulis tapi kok malas membaca.

Berbeda lagi dengan sentilan dikalangan para penyuka olahraga.

Katanya mau sehat kok doyannya makan junk food. Katanya mau sehat tapi kok bangun pagi (untuk olahraga) males.

Begitulah, setiap kelompok seolah punya slogannya sendiri. Itulah mengapa saya pikir semakin banyak komunitas yang diikuti oleh seseorang semakin beradaplah ia. Karena ketika seseorang sudah menyatakan diri bergabung dengan kelompok sosial tertentu mereka punya tanggung jawab moral untuk mengabaikan hal-hal yang bertentangan dengan kelompok tersebut.

Jadi semakin banyak komunitas yang diikuti oleh seseorang semakin banyak nilai yang secara sadar/tidak harus ia terapkan dalam kehidupannya dan kebanyakan dari nilai tersebut adalah nilai-nilai baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s