Jika Hobi Sudah jadi Profesi

Minggu lalu saya menulis, kemudian beruntung diposting di salah satu portal berita online. TIba-tiba saja saya teringat beberapa orang teman saya yang memang berprofesi sebagai wartawan. Mereka mencari berita, dituliskan, untuk kemudian disebarluaskan. Beberapa orang dari teman saya tersebut memang hobi menulis. Kebanyakan menulis di blog pribadi yang sebenarnya tidak benar-benar pribadi, mengingat siapapun bisa mengaksesnya.

Bagi saya yang bertahun-tahun bermimpi menjadi penulis, ada tulisan yang berhasil menjadi nominasi sebuah kompetisi, disiarkan online oleh pelaksana kompetisi merupakan sebuah kebahagiaan. Karena dalam kompetisi ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi sehingga sebuah tulisan dinyatakan layak ‘terbit’.

Bagi saya yang amatir ini, melihat nama sendiri tercantum bersisian dengan judul atau dibagian paling akhir tulisan tentu sangat menyenangkan. Dan mungkin patut untuk dipamerkan di sosial media. Sama patutnya dengan postingan kumpul-kumpul di cafe para anak gaul/sosialita.

Lalu bagaimana dengan teman-teman saya tadi, yang sebelumnya menuliskan apapun yang mereka suka tanpa mempertimbangkan banyak faktor, sekarang harus menulis karena dibayar secara profesional untuk itu.

Topik yang spesifik, gaya menulis yang harus disesuaikan, karena setiap media membawa idealisme masing-masing. Setiap hari mereka harus menyelesaikan tulisan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan, sama halnya dengan pekerja lainnya yang harus menyelesaikan pekerjaan harian mereka. Apakah menulis masih menjadi satu hal yang menyenangkan?

Katanya,

” Ketika pekerjaanmu adalah hobimu maka kamu tidak akan merasa bekerja sama sekali “

Sebelumnya saya selalu mengangguk ketika mendengarkan pernyataan ini. Kedengarannya menjanjikan bukan? Namun kemarin saya mulai meragukannya.

Misalnya begini, bagi orang awam menyaksikan presenter acara jalan-jalan di telivisi tentu akan mengundang decak kagum. Secara berkala mengunjungi tempat-tempat indah di berbagai pelosok dunia, GRATIS dan DIBAYAR. Bagi penonton, semua yang mereka alami adalah sebuah ‘surga’.

Namun bagi sang presenter, surga tersebut bisa jadi hanya jelmaan sebuah kasur di rumah sendiri. Sebuah perjalanan menjanjikan keindahan namun bukan berarti semua jalan menuju keindahan tersebut landai. Untuk menyajikan sebuah tampilan lanskap dari puncak gunung tertinggi merek atentu saja harus melakukan pendakian terlebih dahulu. Jauh sebelum pendakian tersebut mereka harus menjalani serangkain latihan fisik untuk menjaga stamina.

Mereka sedang menjalankan hobi dengan balutan profesional.Dua hal yang sepertinya kontradiktif bukan?

Profesionalisme punya ruang lingkup yang terbatas jika dibandingkan dengan hobi. Katanya lagi hobi dilakukan di waktu senggang, setelah ia dijadikan profesi ia memasuki sebuah zona waktu yang disebut waktu kerja. Bahkan seorang freelancer sekalipun punya masa yang disebut jam kerja.

Hobi diharapkan memberi rasa senang, lalu ketika ia dijadikan sebagi sebuah pekerjaan, masihkan ia menjadi menyenangkan?

Entahlah, mungkin saya harus menemukan jawabannya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s