Selamat Malam, Jakarta

Hujan pembuka musim hujan tahun ini, turun selepas magrib. Intensitas sedang dan tidak lama, namun berhasil membuat beberapa titik di Jakarta terendam. Ia seharusnya datang awal bulan lalu. Apapun yang membuatnya datang terlambat, tetap saja kehadirannya menjawab banyak kerinduan. Kerinduan debu yang lelah terbawa angin kering. Kerinduan ternak akan rumput segar. Kerinduan warga Sumatera, Kalimantan yang sangat lelah dengan selubung asap.

Meski ia dirindukan, ternyata banyak juga yang tidak bersiap dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Lihat deretan ‘pengungsi’ yang memadati area bawah jalan layang. Kebanyakan dari mereka adalah pengendara kendaraan roda dua. Dengan helm nasih menempel di kepala, mereka sesekali menatap ke arah langit.

Saya tidak sedang ingin berbincang tentang hujan. Sebenarnya aku ingin berkisah tentang Jakarta. Sebuah kota yang tidak ingin saya tinggal seumur hidup ini mempunyai banyak hal yang menjanjikan, wajar ribuan orang berbondong-bondong menyambanginya.

Di tempat asal saya, kendaraan umum tidak beroperasi 24 jam, seperti di Jakarta. Aku ingat, Ibu kami uring-uringan ketika salah seorang anaknya tidak kunjung sampai di rumah, sementara azan magrib sudah berkumandang. Sebentar lagi, negeri kami yang ribuan kilometer jauhnya dari Jakarta mulai senyap. Kecuali para bapak yang berceloteh di warung kopi, tidak banyak penduduk yang lalu lalang.

Lampu penerang jalan penghubung antar kampung juga minim. Jalan hanya diterangi cahaya temaram, sambung-menyambung dari lampu penerang di beranda rumah penduduk. Itu pun lampu pijar 5 watt.

Jika di kampung halaman, aku berangkat tidur pukul 9, di Jakarta aku justru baru hendak pulang ke kontrakan. Tidak selalu kerjaan yang membuatku pulang larut. Ada banyak hal yang ditawarkan Jakarta untuk membuat penghuninya tetap terjaga. Ada kelas kemampuan bahasa asing, pameran dan pementasan kebudayaan, talkshow dengan tokoh-tokoh ternama dari berbagai bidang, atau sekedar tawaran diskon di pusat perbelanjaan.

Semakin malam, Jakarta semakin menggeliat. Menawarkan ‘nina bobo’ bagi penghuni-penghuninya yang mengidap ‘insomnia’.

Katanya, ketika engkau membenci sesuatu, pikirkan hal yang engkau sukai darinya. Dengan begitu sedikit demi sedikit kebencian tersebut akan tersamarkan.

Saya tidak membenci Jakarta, saya juga tidak mencintainya sepenuh hati. Namun jika harus menyebutkan satu hal yang say asukai dari Jakarta, maka hal itu adalah jam malamnya.

Selamat Malam Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s