Ceracau Tengah Malam

Setengah meloncat, aku meloncat dari bus. Ada jarak yang cukup jauh antara bus degan sisi terluar halte. Seperti halte-halte lainnya, di halte ini pun tidak banyak penumpang yang naik-turun bus. Bahkan penerangan di halte yang aku turuni pun sudah mulai dikurangi.

Seorang petugas membuka tutup jalur menuku jembatan penyeberangan secara manual. Pertanda bahwa tidak ada penumpang yang diperbolehkan memasuki halte, pertanda, bus terakhir sudah diberangkatkan dari halte pemberangkatan.

Aku memperhatikan lampu jalan sembari tetap melangkah. Selalu ada yang menarik dengan lampu jalan. Sinar keemasannya terpantul pada daun-daun pohon disekitarnya, pada aspal dibawahnya. Hanya ada satu-satu kendaraan yang melewati jalanan dengan kecepatan yang tidak didapatkan di siang hari.

Aku menatap langit, meski bumi sudah terlalu terang aku masih bisa menyaksikan bulan jika tidak tertutup kabut polusi.

Mendadak sepi hadir, dalam aliran yang begitu akrab. Disusul pertanyaan-pertanyaan lama yang tidak pernah usang.

Apa yang kamu cari?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s