[Buku] Belajar Menulis Bersama Minke Melalui ‘Anak Semua Bangsa’

Judul : Anak Semua Bangsa

Penulis : Pramoedya Anata Toer

“Mengapa kamu tidak menulis dalam Melayu, bahasa yang aku mengerti”

Kira-kira seperti itulah yang dipintakan Bunda ketika mendandani Minke dihari pernikahannya dengan Ann. Tulisan Minke sudah menjadi buah bibir, namun semua tulisan tersebut diterbitkan dalam bahasa Belanda. Keinginan Bunda sederhana saja, ia ingin membaca tulisan Minke sedangkan ia tidak bisa baca-tulis Belanda.

Minke meyakini bahwa ia tidak bisa menulis Melayu. Penyebab terbesarnya adalah ego. Bahwa bahasa melayu adalah bahasa orang-orang yang tidak berpendidikan. Sebagian besar dari mereka tidak buta huruf. Lalu siapa yang akan membaca (jika Minke menulis melayu).

Pelajaran pertama untuk menjadi penulis : Bunuh egomu sendiri.

“….[berbahasa jawa] bukan berarti Tuan mengenal Bangsa Jawa lebih baik….”

Kommer, penulis peranakan Eropa namun jiwanya lekat dengan Hindia, menjadi orang pertama yang memaksa Minke menelusuri apa penyebab ia tidak menulis Melayu.

Seperti penulis pemula yang masih gegap-gempita dengan pujian atas karya-karya perdananya, Minke tersinggung dianggap tidak mampu menulis melayu karena ketidakmampuan ia mengenal bangsanya sendiri.

Minke mulai merasa bahwa pernyataan Kommer tentang dirinya bisa jadi benar. Ia tidak mengenal bangsanya. Apalagi setelah pertemuannya dengan seorang petani yang menolak menyerahkan tanahnya kepada Pemerintah. Pemerintah dengan semena-mena menggambil hak tanah atas tanah penduduk untuk dijadikan lahan perkebunan tebu.

Tidak hanya menulis tentang kehidupan para petani. Minke juga menulis kisah keponakan perempuan Mama yang sengaja membuat dirinya mengidap penyakit cacar sebelum ia diserahkan sebagai gundik seorang petinggi Belanda.

Pelajaran kedua : Kenali apa yang ingin ditulis.

“Tetapi berbahaya bagi Tuan Minke berpidato dalam tulisan….”

Kembali Kommer mengajarkan Minke bagaima menulis yang baik. Penulis pemula selain gampang tersinggung jika dikritik, ia juga suka berpidato melalui tulisannya. Merasa segala hal mesti dijelaskan dan penting. Padahal bagi pembaca bisa jadi hal tersebut tidak penting.

“Tuan memang baik sebagai pengarang, tapi tidak sebagai jurnalis. Di sini Tuan meninggalkan keindahan tulisan. Tuan berpidato….”

Kommer tentu benar. Ia sudah malang melintang menjadi jurnalis berbahasa Melayu. Sebagai seorang jurnalis, tulisan harus berdasarkan fakta.

Misal, kisah yang petani tebu yang Minke tuangkan dalam tulisannya adalah sebuah kebenaran. Minke menyaksikan dan mengalami sendiri bagaima para petani tersebut diperlakukan tidak adil. Lahan mereka disewa dengan upah rendah. Namun dokumen sewa tanah yang memuat cap jari sang petani menjadi sebuah fakta yang tidak terbantahkan.

Pelajaran ketiga : Setiap jenis tulisan punya cara penyampaian yang berbeda. JAdi tetaplah belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s