[Buku] Bumi Manusia

20150822_150141

Kegamangan terhapusnya tradisi karena modernisasi bukan muncul beberapa tahun ini saja. Ia sudah muncul sejak awal abad ke-20, sejak kata modern itu sendiri baru mengudara di Hindia.

Meski bukan satu-satunya, Minke menjadi generasi pertama yang mengalami pergesekan antara budaya dengan modernisasi ini. Paling tidak itulah yang disampaikan Pram dalam Bumi Manusia.

Lihatlah bagaimana Minke merutuki nenekmoyang yang mengharuskan ia melepas alas kaki kemudian berjalan jongkok, untuk menemui seseorang yang lebih tinggi status sosialnya. Meski dalam darah Minke pun mengalir darah kesatria jawa yang menasbihkannya sebagai seorang priyayi. Kalau ia bukan seorang priyayi, tentu sulit baginya untuk bisa diterima sebagai siswa H.B.S

Pada lain kesempatan Minke juga menggerutu ketika ia mengenakan pakaian jawa lengkap namun didesain oleh orang Belanda. Bahkan yang mendandani pun adalah orang Belanda.

Meski ia satu dari penghuni kasta tertinggi dalam tatanan masyarakat Jawa. dalam tatanan masyarakat Hindia Minke tetap penghuni kasta paling bawah. Di mata hukum dan kehidupan sosial ia masih berada dibawah Indo (hasil perkawinan silang orang Belanda dan Pribumi) bahkan dibawah warga asia timur yang menjadi pendatang di Hindia kala itu. Penghuni puncak tertinggi tentu saja orang Belanda berdarah murni.

Bagi Nyai semua permasalahan strata ini menjadi semakin rumit karena ia seorang gundik. Ia dijual kepada Tuan Mellema, tidak mempunyai status hukum meski melahirkan dua orang anak dari pergundikan tersebut. Ia tidak berhak menyampaikan pendapat dengan menggunakan Bahasa Belanda meski ia fasih. Ia tidak mempunyai hak atas hasil usahanya karena semua itu atas nama Tuan Mellman. Yang paling menyedihkan, ia tidak berhak atas anak-anaknya hanya karena ia seorang Pribumi sedangkan anak-anaknya Indo.

Lain Minke, lain Nyai lain lagi Ann.

Ia terlahir sebagai Indo karena Tuan Mellema ayahnya adalah Belanda totok. Ia dibesarkan oleh tangan besi Nyai, membuat ia  merasa sebagai Pribumi meski secara wajah ia mewarisi kecantikan Ratu Belanda ketika itu. Ia pun jatuh cinta kepada Minke, pribumi pertama yang datang dan menjadi temannya.

Namun bukan romansa namanya tanpa tragedi. Ia harus diberangkatkan ke Belanda, meninggalkan kota yang ia anggap sebagai tanah air. Karena Nyai tidak punya hak asuh terhadapnya secara hukum. Tidak pula suaminya, Minke. Meski secara hukum agama Minke mempunyai hak atas Ann namun secara hukum Belanda Ann masih dibawah umur untuk menikah. Ia masih harus tunduk kepada hukum Belanda.

Jadi kawan, jika hari ini kita masih merunduk-runduk kepada seseorang hanya karena status sosialnya, bukan karena sikap dan kepribadiannya, bisa jadi kita belum pernah benar-benar bergerak dari tahun 1920. Masa ketika Minke masih hidup dalam cerita Pramoedya Ananta Toer.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s