Gunung Papandayan: Perjalanan Menuju Pertemanan Yang Lebih Baik.

“Gunung Papandayan?” ada nada khawatir dalam pertanyaan Si Bos kala itu. Ia kembali memperhatikan deretan carrier berbagai ukuran yang memenuhi salah satu sisi ruangan kantor.

Mungkin ia khawatir karena mendaki gunung terdengar lebih berbahaya dibandingkan karoke. Atau mungkin ia juga khawatir karena jumlah kami yang cukup besar, lima belas orang. Jika setengah penghuni kantor tersebut bersepakat untuk tidak hadir pada hari senin berikutnya, tentu ada banyak klien yang akan kehilangan 😀

Sejak menyatakan kesediaanya turut serta dalam pendakian Gunung Papandayan, Emak (bukan nama sebenarnya) sudah menjadi bahan lelucon seluruh penghuni kantor. Pasalnya, Emak memegang rekor bobot badan paling tinggi dan manusia ter-ngocol sekantor.

Emak bisa menemukan lelucon dari setiap orang dan hal yang ia temukan. Oleh karena itu, tidak ada bahan lelucon yang lebih menarik selain wajah kelelehan Emak menghadapi pendakian pertamanya. Paling tidak itulah yang dipikirkan oleh hampir seluruh penghuni kantor.

“Sebenarnya pendakian itu bukan masalah berat badan tapi masalah endurance” jelasku kepada salah seorang anak kantor. Kenyataannya memang seperti itu, tidak lupa aku mengisahkan salah seorang teman yang bobot tubuhnya hanya 47 KG namun bisa sampai ke puncak Gunung Gede-Pangrango dengan meminggul carrier kapasitas 40 L.

Gunung Papandayan mempunyai jalur pendakian yang cukup landai. Dibutuhkan 2-3 jam untuk sampai di lokasi perkemahan, Pondok Saladah. Di beberapa titik, pendaki akan menemukan pondok-pondok darurat yang didirikan oleh penduduk setempat. Mereka menjajakan minuman, mie instant hingga makanan berat seperti nasi goreng. Ditambah dengan ketersedian toilet, membuat Gunung Papandayan cocok dijadikan lokasi pertama untuk pendaki pemula.

20150808_093155
Emak in action

“Gue lebih suka jalanan berbatu  daripada kayak gini ”

Aku mengaminkan pernyataan Emak di belakangku. Pada awalnya kami melangkah di jalanan berbatu, kemudian menemukan tanjakan dengan kontur tanah berpasir. Kontur tanah seperti ini bukan hanya membuat pijakan menjadi lebih licin, juga mengaburkan penglihatan. Sayangnya, semakin mendekati Pondok Saladah kami hampir tidak menemukan jalanan berbatu lagi. Hanya ada jalanan berpasir. Bulirnya mengudara, mengiringi setiap langkah kaki para pendaki.

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga kami temui keesokan paginya ketika melewati hutan mati menuju Tegal Alun, sebuah padang berisi Edelweiss. Dari Pondok Salah menuju Hutan Mati, perjalanan tidak terlalu menanjak.

Hutan mati adalah sisa dari salah satu kawan Gunung Panpandayan. Di sebut Hutan Mati karena area tersebut hanya menyisakna pokok-pokok pohon yang sudah kering dan menghitam akibat udara panas yang dihembuskan kawah ketika terjadi erupsi.

20150809_081029
Full Team at Hutan Mati, Gunung Papandayan

Selepas Hutan Mati, kembali kami menemui tanjakan. Semakin mendekati Tegal Alun, tanjakan semakin terjal, sempit dan berpasir. Pendaki dari arah puncak memberikan jalan kepada pendaki dari arah bawah. Meski tidak tertulis, ini seperti sudah menjadi kode etik sesama pendaki.

“Mak, nanti gue akan jadi saksi kalau lo sampai di puncak”

Meski disampaikan dengan nada berseloroh sebenarnya aku bersungguh-sunguh akan bersaksi untuk pendakian Emak kali ini. Tidak satu pun dari kami berhasil mengantongi foto atau video Emak dengan wajah dipenuhi bulir keringat dan napas tersengal-sengal. Emak bukan hanya sampai di puncak tetapi ia juga tidak mengurangi kadar leluconnya sepanjang perjalanan. Bayangkan dengan napas tersengal-sengal kami masih harus tertawa. Pendakian ini menjadi semakin menantang dan menyenangkan dalam waktu yang bersamaan.

Konon katanya, puncak adalah bonus, yang terpenting adalah perjalanan itu sendiri. Jika perjalanan menjadi hal yang paling penting maka teman perjalanan adalah hal yang tidak kalah penting.Teman perjalanan yang pas akan membuat perjalanan sulit jadi menarik. Teman perjalanan yang kurang pas akan membuat perjalanan singkat menjadi berabad-abad. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s