A.Y.A.H

Berbulan-bulan ‘haus’ dengan tulisan tentang ayah, membuat saya sedikit patah arang. Bagaimana tidak, dari sekian judul buku yang saya beli, tidak  ada yang menawarkan Ayah dalam sebuah pemaknaan yang dalam. Ayah yang bahkan dicantumkan sebagai judul, ternyata hanya sebagai bumbu cerita.

Mengulik fatherhood langsung dari orang-orang yang sudah dipanggil ayah pun bukan  hal mudah (menurut saya).Beberapa kali saya bertanya, kepada kenalan yag sudah menjadi ayah, bagaimana rasanya menjadi ayah?, apa yang berubah dengan kehadiran seorang anak?, semuanya seolah menggantung di udara..

Entah karena saya sering kali tidak bertanya serius (sehingga pertanyaan seperti ini juga dianggap becanda), entah pertanyaan ini tidak pada tempatnya. Padahal, (menurut saya) jika seorang perempuan mengalami ‘guncangan’ setelah melahirkan seorang anak, seharusnya seorang laki-laki mengalami guncangan lebih besar.

Mengapa? karena perempuan punya waktu sembilan bulan untuk mewaspadai kehadiran seorang anak. Sedangkan laki-laki, meski mempunyai hitungan bulan yang sama, ia kalah dalam hitungan jam. Perempuan mendapatkan waktu 24 jam sehari untuk mengetahui bahwa ia sedang mengandung seorang anak. Seorang laki-laki? mungkin tidak 24 jam.Mungkin.

Itulah mengapa saya kadang bertanya-tanya sisi mana yang berubah dari seorang laki-laki ketika ia menjadi seorang ayah.

Kembali kepada buku.

Satu atau dua bulan yang lalu, Andrea Hirata muncul dengan novel terbarunya. Judulnya singkat namun langsung mencuri perhatian saya. A.Y.A.H.

Seorang Andrea Hirata dengan kemampuan menulisnya yang luar biasa. Seorang anak Melayu (yang secara budaya tidak berbeda jauh dari saya) menulis tentang topik yang sangat ingin saya ketahui. Jangan salahkan jika saya menaruh harapan besar.

Sayang sekali, saya dikecewakan.

Menurut saya dari pada diberi judul Ayah, ada baiknya novel terbaru Andrea Hirata tersebut diberi judul Sabari. Ia lebih banyak berkisah tentang Sabari sebagai manusia, hanya sedikit mengulik Sabari sebagai seorang Ayah. Saking sedikitnya sampai saya ingin menyudahi Ayah setelah setengah bagian buku. Tapi saya bersabar, berharap mendapatkan kejutan pada bagian akhir. Ternyata tidak.

Ayah versi Andrea Hirata usai. Hidup mesti berlanjut, begitu juga pencarian saya.Hingga pada suatu hari, semesta mempertemukan saya dengan kisah Buya Hamka.

Saya belum pernah membaca biografi Buya Hamka sebelumnya. Sependek pengetahuan saya, kisah Buya Hamka selalu dikaitkan dengan keteladanannya sebagai ulama.

Hadirnya Irfan Hamka mengisahkan Buya Hamka sebagai seorang ayah, kembali melambungkan harapan saya. Semakin berlipat ganda setelah dikecewakan Andrea Hirata sebelumnya.

Dari Irfan Hamka, saya mengetahui dari mana nama Hamka bermula, bagaimana ia dahulu mengarungi hutan untuk menggalang kekuatan melawan penjajah di hingga ke Riau. Bagaima Buya berdamai dengan jin penghuni rumah baru mereka, membangun dakwah di Mesjid Al- Azhar, paham keislaman hingga paham politik Buya Hamka.

Irfan menuliskan kisah tentang Buya Hamka, persis seperti seorang anak mengenang ayahnya. Tidak melebih-lebihkan, apa adanya sehingga saya bisa merasakan kerinduan seorang anak terhadap ayahnya.

Seperti kata Dee, tulisan yang dibuat sepenuh hati, akan sampai (ke hati) pembacanya.

Atau keberhasilan Irfan Hamka membangun ayah dalam tulisannya tentang Buya Hamka adalah karena ia berulang kali menggunakan kata ayah itu sendiri. Sehingga mau tidak mau saya sebagai pembaca mulai melepaskan Buya Hamka sebagai seorang negarawan dan seorang ulama. Saya menyambut Buya Hamka dengan kesehariannya sebagai seorang ayah.

Tapi memang seperti itulah seharusnya. Ketika memberi judul Nasi Kuning pada sebuah sajian, maka nasi berwarna kuning harus mengambil porsi paling besar. Tidak dikalahkan dengan taburan irisan telur dadar atau potongan timun.

Ketika berkisah tentang Ayah, maka setiap cerita harus bermuara kepada ayah itu sendiri.

“Jika berkisah tentang ibu ibarat mengurai telaga maka bercerita tentang ayah adalah mengarungi padang pasir. Keduanya nyaris tanpa batas, bukan?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s