Teman Perjalanan

Udara dingin menyusup, menembus lapisan jaket dan kaos turtle neck yang saya kenakan.

“Gw ke toilet dulu ya” katanya setengah berlari meninggalkan aku yang masih sibuk memasang kaos kaki. Urusannya dengan toilet tentulah sangat penting hingga ia tidak merasa perlu menunggu persetujuanku.

Aku melangkah mengikuti arah ia menghilang tadi. Tidak sulit menemukan dimana toilet berada. Antrian pengunjung mengular di depan delapan pintu toilet.

Aku menunggu di depan bangunan yang difungsikan senagai pos registrasi. Kami harus mendaftar dan mendapatkan tiket untuk diperbolehkan memulai pendakian. Meninggalkan Platidung, Pos terakhir yang bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Berada di suatu tempat dengan suhu udara dibawah 15 derajat celcius, kami hanya punya satu pilihan untuk tidak membeku. Segera bergerak.

Di depan kami, ratusan pengunjung sudah terlebih dahulu melangkah. Sebagian berjalan dengan langkah bergegas. Ya! Jika ingin menyaksikan blue fire, pengunjung memang harus sampai di Puncak Kawah Ijen sekitar pukul tiga dini hari.

Blue fire, fenomena api biru yang hanya terjadi di dua tempat di dunia. Salah satunya ada di Kawah Ijen. Tentu saja semua pengunjung tidak ingin melewatkannya, termasuk kami. Hanya saja, kamu memulai pendakian sedikit terlambat.

“Makan coklat dulu… untuk menambah tenaga”

Aku ingin menangguk,menyatakan persetujuannamun aku masih trrlalu sibuk mengatur napas.

Dalam sebuah perjalanan, apalagi sebuah pendakian, bagian terberat selalu berada pada langkah-langkah awal. Tubuh butuh membiasakan diri dengan irama langkah. Degup jantung perlu seirama dengan kuatnya tekad. Dan seorang teman perjalanan yang buruk akan membuat menit-menit penyesuaian ini menjadi bencana. Pikorku ketika itu.

Aku mengunyah coklat dimulutku perlahan, menyempatkan diri menoleh kearahnya. Beruntung, aku melangkah dengan seorang teman baik.

Aku sudah beberapa kali melakukan pendakian. Dari beberapa pendakian tersebut aku menyadari bahwa adalah pejalan yang lambat. Aku butuh lebih sering berhenti.

Pendakian ini pasti lebih sulit baginya. Ia selalu punya stamina yang lebih baik daripada aku. Sayangnya ia punya sistem pencernaan yang sangat sensitif.

Beberapa jam sebelumnya, kami menyantap nasi kucing sebagai menu makan malam. Tidak satupun dari pilihan menu tersebut menimbulkan efek samping bagiku. Sedangkan ia, sudah mulai sering ke toilet sejak kami sampai di Paltidung.

Jika aku merunut kembali ke salah satu perjalanan kami tahun lalu. Ia tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dieng karena terjangkit diare hebat. Beruntung kali ini ia tidak diare, hanya lebih lebih sering buang air daripada biasanya.

Lewat tatapan mata dan anggukan kepala, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Jalanan dihadapankan masih menanjak. Sedikit demi sedikit degup jantungku mulai teratur. Aku punya kesempatan untuk memandangi rembulan. Berada disalah satu tempat tertinggi, menyaksikan rembulan dengan mata telanjang tentu saja bukan impian kosong. Bulan ada disana, tepat diujung pandangan tanpa penghalang sedikitpun. Bulat. Purnama.

“Cantik ya” katanya sembari menepuk-nepuk perutnya. Aku mengangguk, tersenyum tipis sambil mencari sisa coklat dikantongku. Berhenti dan mengudap coklat untuk kali kesekiannya.

Beruntung kami mendapatkan bonus track pada perjalanan selanjutnya. Sebuah jalur datar hingga ke puncak Kawah Ijen.

Bisa dikatakan, nyaris seluruh sisi Kawah Ijen sudah ditempati pengunjung, ketika kami sampai. Fire blue pun hanya menyisakan semburan biru tipis sementara sebentar lagi matahari akan segera muncul.

Kami berusaha menemukan lereng yang masih kosong. Ia yang terlebih dahulu berbaring. Mengistirahatkan tubuhnya yang bekerja tiga kali lebih berat. Dua kali karena tanjakan yang berkelanjutan. Tiga kali dengan kondisi pencernaan yang tidak terlalu baik.

Aku ingat bagaimana dulu perutku mendadak tidak nyaman ketika kamu menunggu matahari terbit di Pananjakan,Bromo. Sungguh tidak nyaman, mengingat kami berada dalam ruangan yang sangat terbuka. Tidak ada tempat untuk bersembunyi meski keadaan gelap sekalipun.

Aku berharap matahari segera muncul, dengan begitu kondisi perutnya semakin membaik. Itulah yang terjadi di Bromo ketika itu. Perutku mendadak bersahabat ketika semburat merah muncul di sisi timur langit. Perutku, seolah ikut terpesona.

Aku melirik kearahnya sebelum ikut berbaring. Ia tertidur. Sepertinya lelap.

Aku memang masih jauh dari label traveller sejati. Namun dari perjalananku yang tidak banyak tersebut aku pernah sampai pada satu kesimpulan.

Bagian terberat dari sebuah perjalanan bukan menentukan tujuan melainkan menentukan dengan siapa kamu akan menempuhnya.

Aku menyusun kedua tangan di belakang kepala. Menatap langit. Sudah seharusnya aku berterima kasih untuk seorang teman perjalanan yang baik bukan?

Tulisan ini pun aku dedikasikan untuknya dan impian kami liburan ke Pulau Belitong

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s