Pyrocenetic Analisis Museum Fatahillah

Tulisan ini disertakan dalam Holland Writing Competition 2015. Informasi lengkap mengenai lomba baca di sini.


Pyrocenetic berasal dari bahasa Yunani, pur yang artinya api dan kinetik yang artinya gerak 1). Secara harfiah Pyrocenetic dapat diartikan sebagai pengendali api. Bagi yang mengetahui serial animasi Avatar : The Ledger of Aang, tentu punya sedikit bayangan tentang pengendali api. Ia diwakili oleh penduduk negara Api. Tidak hanya mengendalikan, mereka juga mampu menciptakan api dalam jumlah yang sangat kecil.

Unsur api dijelaskan sebagai sifat yang ceria namun mudah terpengaruh dan digambarakan sebagai kualitas gembira, ekspansi, kecepatan, terlalu banyak energi api bisa membuat hal yang merugikan2). Sifat api yang mudah dipicu ini, membuat unsur api seringkali mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan unsur lainnya.

Jika kita lihat dalam ruang lingkup yang lebih luas, matahari merupakan energi api terbesar. Energi api matahari diturunkan ke dalam bentuk yang lebih sederhana, energi panas dan energi cahaya.

Dalam dunia rancang bangun, pengendalian unsur api diterapkan dengan mengendalikan energi panas dan/atau cahaya.                 Undang-undang no 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung pencahayaan memuat secara khusus bagian yang memuat tentang pencahayaan. Bangunan gedung hunian rumah tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan dan bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami 3).

Museum Fatahillah adalah bangunan peninggalan Belanda diperkirakan dibangun pada abad ke-17 jika dilihat dari bangunan yang mengadopsi gaya rancang masa neoklasik. Bangunan yang dahulunya digunakan sebagai stadhuis (nalai kota) tersebut dipugar dan dijadikan Museum Sejarah Jakarta pada masa Ali Sadikin menjadi gubernur DKI Jakarta.

peta

Gambar : Peta Lokasi Museum Fatahillah 4)

 Merujuk kepada gambar diatas, Museum Fatahillah membentang dari sisi Timur ke Barat. Jika diperhatikan dengan lebih seksama, Museum Fatahillah tidak berdiri tepat digaris lurus yang menghubungkan sisi Barat dengan Timur. Museum Fatahillah menyerong beberapa derajat ke arah Timur Laut, sehingga bagian depan bangunan tidak tepat menghadap kesisi utama.

Letak geografis Museum Fatahillah ternyata menjadi letak geografis ideal untuk bangunan yang berada pada area dengan temperatur sedang. Letak Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa memyebabkan Indonesia mendapatkan sinar matahari sekaligus dengan curah hujan berintensita sedang-tinggi sepanjang tahun.

Posisi bangunan membuat Museum Fatahillah mendapatkan sinar matahari sepanjang hari, sepanjang tahun. DI pagi hari, sisi bangunan akan mendapatkan energi panas dan cahaya, terus bergeser ke sisi bangunan di sisi Barat, seiring dengan pergerakan matahari.

gambar

Gambar : Skema Bangunan Ideal Area Temperatur Sedang 5)

Saya ingat, beberapa tahun lalu, seorang guru melepar sebuah pertanyaan. Jika sebuah kipas angin dibiarkan terus berputar dalam ruangan tertutup, apakah yang terjadi dengan suhu ruangan tersebut? Meningkat atau menurun? Ketika itu, kami hanya sekelompok remaja yang masih sebal dengan Fisika dan kami tidak punya pengalaman dengan ruang tertutup yang di dalamnya terdapat kipas angin. Kami bersepakat bahwa suhu udara akan semakin sejuk, karena itulah yang dilakukan oleh kebanyakan kipas angin.

Faktanya, udara adalah zat yang terus bergerak, dari area yang bertekanan tinggi ke area yang bertekanan rendah. Jika zat yang terus bergerak tersebut dibiarkan dalam ruangan tertutup ia akan menghasilkan panas. Fisika mengajarkan kita bahwa benda yang bergesekan akan menghasilkan anergi panas, contoh paling sederhana adalah menggosok-sogokan telapak tangan di cuaca dingin.

Museum Fatahillah, bisa disebuat beruntung mendapatkan posisi memanjang dari Timur ke Barat. Mengapa beruntung? Karena Museum fatahillah dibangun pada masa ketika issue ketersediaan ruang belum seterbatas seperti saat ini.

Museum fatahillah dilengkapi dengan deretan jendela tinggi sepanjang dinding Utara dan Selatan. Hal ini selaras dengan pendapat Sukawi yang mengatakan Untuk daerah sekitar khatulistiwa, secara umum perletakan jendela harus memperhatikan garis edar matahari, sisi utara dan selatan adalah tempat potensial untuk perletakan jendela (bukaan), guna mendapatkan cahaya alami6).

Posisi jendela, juga menguntungkan Museum Fatahillah dalam hal pergerakan udara. Penelitian Texas Engineering Experiment Station menyebut penghawaan alami sebuah ruang terjadi jika udara bergerak horisontal 7). Jendela Museum Fatahillah yang berseberangan di dinding sisi Utara dan Selatan memberi ruang yang cukup bagi udara untuk bergerak horisontal. Desain jendela yang dibagi menjadi bukaan atas dan bukaan bawah juga menambahkan kesempatan Museum Fatahillah untuk mengatur intensitas cahaya dan udara langsung yang masuk ke setiap ruangan.

20150425_144130

Gambar : Ruang Utama Museum fatahillah 8)

                Bahkan ketika Museum fatahillah mendapatkan posisi paling ideal dari sisi enrgi matahari, pendirinya tidak melewatkan aspek lain yang menjadikan Museum Fatahillah sebagai hunian nyaman. Hal ini membuktikan bahwa sejak jaman dahulu Belanda menujukan bahwa mereka adalah pencipta. Karena pencipta memperhitungkan banyak hal bukan hanya sebuah keberuntungan.

Berkaca kepada Museum Fatahillah, tetua Belanda abad ke-17 di sebuah bangunan yang sekarang dikenal dengan Museum fatahillah sudah menerapkan rancang bangun hemat energi jauh sebelum istilah tersebut hadir. Ide bangunan hemat energi baru muncul beberapa tahun belakang, dipicu oleh kondisi bumi membuat manusia harus berfikir untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya yang terbatas. Ditambah dengan issue lingkungan penerapan bangunan yang ramah lingkungan menjadi tantangan bagi setiap perancang bangunan selain nilai estetik bangunan itu sendiri.

Dibalik semua aspek ilmiah yang diterapkan Belanda kepada bangunan Museum Fatahillah, tetua Belanda di Batavia kala itu nyata menyimpan kerinduan terhadapa negeri mereka sendiri. Itulah mengapa mereka membuat bangunan Musem Fatahillah mirip dengan Istana Dam di Amsterdam.

Setiap anak selalu rindu kembali ke pelukan ibunya.

Gambar : Museum Fatahillah Tempo Dulu 9)

Reference

  1. http://www.urbandictionary.com/
  2. Teguh Rahman Hakim dkk : FENG SHUI DALAM ARSITEKTUR
  3. upi.edu Hand Out Perkuliahan Mata Kuliah Fisika Bangunan oleh Ir. H. Sidik Harnanto, MT
  4. wisatamuseum.com
  5. upi.edu : Hand Out Perkuliahan Mata Kuliah Fisika Bangunan oleh Ir. H. Sidik Harnanto, MT
  6. Sukawi, Kaitan Desain Selubung Bangunan Terhadap Pemakaian energi Dalam Bangunan (Studi Kasuh Perumahan Graha Padma Semarang)
  7. upi.edu : Hand Out Perkuliahan Mata Kuliah Fisika Bangunan oleh Ir. H. Sidik Harnanto, MT
  8. Foto koleksi pribadi penulis.
  9. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/45/Batavia__Townhall_1770.jpg
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s