[CERPEN] Tanggap Darurat

Cerpen ini disertakan dalam tantangan @kampusfiksi


Alkisah tiga bulan yang lalu, Raja kedatangan tamu. Ialah Panglima, pemimpin angkatan perang dari negeri di balik bukit, di seberang lautan. Jangan mempertanyakan kemampuan perang ia dan pasukannya. Saban hari, mereka harus lari turun naik gunung berselang-seling dengan berenang di lautan.

Kalau kalian sudah merajai gunung dan lautan, tak ada lagi yang perlu kalian takutkan, kecuali pengecut dalam diri kalian sendiri, begitu kata Panglima. Dibalas dengan koor ‘Ha! Ha! Ha!’ yang mampu menggetarkan lutut siapapun.

Panglima sangat menyukai olahan daging burung dara. Namun malang bagi Juru Masak, tumpukan burung dara yg semestinya dihidangkan telah dicuri kucing liar. Sepertinya mereka berlari mengejar tikus-tikus istana yang konon katanya gemuk-gemuk namun justru menemukan daging yang lebih lezat.

Juru Masak punya waktu satu jam untuk menghadirkan makan malam atau kepalanya dipenggal. Saat itulah seekor tikus melewati sisi dapur .

Begitu saja Juru Masak menemukan ide. Ia hanya berharap Tuhan menyisipkan sedikit keberuntungan.

****

Juru Masak sudah merapal kebohongan beratus-ratus kali dalam rentang satu jam. Yang ada di piring panglima adalah burung dara muda. Dibakar dengan api sedang, ditaburi rempah dari Tiongkok.

“Daging apa ini?”

Juru masak mengangkat wajah, bermaksud mencuri pandang ke arah Panglima. Namun ia justru dihadapkan kepada malapetaak selanjutnya.

Mata panglima punya tingkat ketajaman setara dengan puluhan belati. Juru masak bisa merasakan belati-belati tersebut merajam jantungnya.

“Ti…ti..tikus..” jawabnya tergagap dan…. jujur.

Raja yang sama-sama mendengar jawaban tersebut hanya punya waktu satu menit. Ia bisa memuntahkan daging menjijikan dari mulutnya dan seluruh negeri akan dibumihanguskan atau menelan daging ‘lezat’ tersebut untuk lahir sebagai penyelamat.

Puluhan belati berpindah dari jantung Juru Masak ke jantung Raja.

“Di negeri kami, tikus adalah sajian sehari-hari” jawab Raja dengan tenang.

Panglima menyipitkan matanya, mencari bukti kebohongan. Tentu ia tidak menemukannya di mata sang Raja. Selain ilmu culas, keterampilan berbohong ada pengetahun dasar kerajaan yang diterima Raja sejak kecil.

Panglima kembali menghabiskan makanan di piringnya begitu pula dengan Raja. Meski menjijikan sesungguhnya sajian tikus tersebut tidak terlalu buruk.

***

Begitu makan malam usai. Raja mengirimkan ultimatum. Harus disampaikan diam-diam melalui lubang pintu setiap rumah.

Rakyat harus mengkonsumsi daging tikus. Hukuman cambuk berlaku bagi yang melanggar.

Bersama ultimatum, juga disebarkan resep olahan tikus yang tanpa sengaja diciptakan oleh Juru Masak.

Semua ini harus dilakukan agar kebohongan Raja berganti menjadi fakta.

***

“Racun, apakah racunnya sudah siap?”

Raja muncul di balairung dengan wajah lebih kusut dari pertemuan sebelumnya. Lebih tua dari usia sebenarnya. Bahkan perawatan herbal terbaik kerajaan pun tidak sanggup mengurangi efek kegundahan hatinya.

“Ampuni hamba Paduka” lapor Tabib. Selain paham mengenai pengobatan Tabib juga fasih dalam hal racun. Karena sesungguhnya pengetahuan racun dan obat tidak pantas dipisahkan.

Ini bukan awal yg bagus, batin Raja.

“Ular – ular itu sudah terbiasa dengan racun-racun kita sebelumnya. Setiap hari mereka semakin kebal. Tubuh mereka membentuk penangkal dengan sangat cepat sehingga reaksi dari racun kita tidak berdampak banyak”

Raja menggosok cincin di jari manisnya. Satu bulan yang lalu cincin yang sama masih berada di jari tengah. Berat badannya menurun drastis sejak kunjungan Panglima usai.

Panglima memang tidak jadi menyerang mereka berkat tikus olahan Juru Masak. Namun euforia rakyat terhadap daging tikus justru menghilangkan populasi tikus dalam waktu singkat.

Sama seperti Raja, rakyat pun awalnya merasa jijik namun setelah suapan pertama, mereka pun bersepakat bahwa tikus bisa dimakan. Lagi pula, tersedia cuma-cuma dalam jumlah tidak terbatas.

Tapi itu dulu. Sesuatu yg tak terbatas akan menemui akhir ketika digunakan terus-menerus.

Malapetaka berlanjut.

Ular yang kehilangan makanannya mulai menyerang perkampungan. Ular yang lapar mulai dari memakan ternak seukuran ayam, meningkat menjadi seukuran domba, kemudian sapi. Selanjutnya setiap minggu, raja mulai menerima laporan seseorang dimangsa ular.

“Kita butuh racun dengan waktu serang kurang dari tiga menit. Itu adalah waktu yang dibutuhkan oleh tubuh ular untuk mengetahui racun baru dan menciptakan penangkalnya” jelas Tabib, ia sedang berusaha memperpanjang usianya.

“Apa tidak bisa, kita mencuri racun ular yg paling mematikan dan digunakan untuk menyerang golongan mereka sendiri?”

Dari nada suaranya, Raja mulai putus asa.

Semua yang hadir dalam ruangan bisa merasakan itu. Itulah mengapa kepala mereka merunduk semakin malam. Dalam benak mereka bergaung pertanyaan yang sama “Siapa yg berani membunuh ular paling berbisa tersebut? Kalau pun muncul seorang kesatria, siapa yang bisa menjamin ia bisa kembali dalam kondisi masih bernyawa?”

Mereka menghadapi apa yang disebut Panglima. Pengecut dalam diri sendiri.

Pelik.

Tiba-tiba saja seorang pemuda membuka suara. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang pelayan yang bertugas mengantarkan makanan dan minuman pendamping rapat.

Semua mata melirik ke arahnya. Pemuda tidak tau malu yang akan mati karna terlalu lancang berbicara bukan pada tempatnya.

Raja sudah terlalu lelah bahkan untuk memberikan larangan, mulailah Pelayan berkata-kata.

” Mengapa kita tidak mulai membiakan tikus. Agar bisa kita umpankan kepada para ular. Dalam tubuh tikus kita sisipkan racun yang dalam dosis kecil tidak membunuh ular. Tapi dalam dosis tertentu menjadi mesin pembunuh. Kita hanya perlu membuat ular tidak pernah tau, makanannya sudah diracuni”

Raja mengangkat wajahnya. Apa yang baru didengarnya, masuk akal. Pertanyannya adalah seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membiakan tikus yg layak makan. Ia sudah kehabisan waktu.

“Aku butuh solusi dalam dua hari. Bisa racun yg ampuh atau mesin produksi tikus.”

Raja meninggalkan ruang sidang dengan langkah lebih berat dari pada ketika ia datang.

Bagi Tabib dan Pelayan, mulai mempertimbangakn bantuan Jin adalah keputusan bijak yang harus diambil. Dua hari bukan wkatu yang panjang.

Tiga minggu berlalu sejak Raja terakhir melihat Permaisuri.

Bagi ular yang masih meringkuk di atas tempat tidur Raja, 2 hari adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan potongan-potongan terakhir tubuh Permaisuri dalam perutnya.

Dua hari adalah ukuran hidup atau mati Raja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s