[Review] Filosofi Kopi The Movie

Sosok El sengaja diciptakan untuk menyarukan sisi ‘maskulin’ dari Filosofi Kopi. Jika tidak, penonton hanya akan disuguhi dua laki-laki yang berantem tentang kopi dan tentu saja puluhan gelas kopi. Kira-kira begitulah pernyataan Dee dalam Dee’s Coaching Clinic Jakarta satu minggu yang lalu.

Ya! Dalam versi cerpen, tokoh El memang tidak pernah ada. Dan ketika Dee mengatakan alasan dibalik kemunculan El dalam Filosofi Kopi The Movie, saya bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Kami – saya dan diri saya sendiri – sebenarnya tidak keberatan jika film ini dibuat terlalu maskulin.

Aroma kopi tercium kental selama 115 menit penayangan Filosofi Kopi The Movie. Kata kopi yang melekat dalam judul film ini bukan sekedar tempelan. Semua scene yang muncul selalu menawarkan kopi dalam berbagai rupa. Sebagai tumbuhan, minuman, idealisme, dan juga kenangan.

Bagi yang mengenal dunia kopi, saya rasa film ini seperti menyampaikan dunia yang selama ini mereka geluti dan belum tentu dipahami oleh orang lain. Bagi yang belum mengenal kopi, mungkin setelah menyaksikan ini akan menemukan banyak ternyata. oo…. ternyata kopi itu banyak ragamnya. oo…. ternyata ada profesi Q-Grader dalam dunia perkopian. oo ternyata…. oo ternyata…

Chiko Jeriko menyerap kebebasan milik Ben yang dituliskan Dee di cerpennya. Chiko juga dengan piawai memerankan Ben sebagai barista bukan hanya aksi menyalakan cooffee maker kemudian simsalabim kopi muncul dalam cangkir keramik. Chiko benar-benar membuat kopi, berbicara tentang kopi, bermimpi tentang kopi -setidaknya itu yang terlihat di film-. Mungkin hal ini juga ditunjang dengan Chiko yang beberapa kali ‘magang’ di ABCD Coffe, Pasar Santa.

“Gue nggak pernah becanda soal kopi” — Ben, Filosofi Kopi

Jika Ben menganggap kopi sebagai sebuah idelisme yang nyaris ia tuhankan, maka Jhody (Rio Dewanto) adalah orang yang harus membuat Ben tetap membumi. Jhody melihat kopi sebagai sebuah komoditas untuk menyambung hidup. Ketika hutang yang ditinggalkan Papi Jodhy tidak bisa ia lunasi ia merasa harus menggeser Filosofi Kopi dari sebuah idealisme menjadi komoditas industri.  Hal-hal yang bertentangan dengan ‘ketuhanan’ Ben terhadap kopi justru dilihat Jodgy sebagai peluang untuk meningkatkan laba Filosofi Kopi. Seperti menurunkan kualitas bahan baku, menyediakan wi-fi untuk lebih menarik banyak pengunjung dan lain sebagainya.

Mungkin pertentangan dua sahabat ini tidak akan pernah bergerak jika tidak muncul 2 tokoh lain. Seorang pengusaha yang menantang Ben untuk menghasilkan home blended coffee terbaik di Jakarta dengan taruhan senilai 1M. Tentu saja Ben mampu menghasilkan kopi terbaik di Jakarta. Lahir lah Perfecto.

Ketika El muncul dan mengatakan bahwa kopi Tiwus lebih baik dari pada perfecto, Ben bertarung dengan dirinya sendiri. Ia telah mendaulat dirinya sebagai orang yang mampu menghasilkan kopi terbaik di Jakarta bahkan mungkin di Indonesia dikalahkan oleh sepasang petani, dari Ijen yang tidak kenal dengan pengolahan kopi modern.

Tentang El (Julie Estelle) ia muncul dalam porsi yang cukup. Sebagai ‘pemanis’ dalam Filosofi Kopi The Movie. Jika sebelumnya saya berfikir saya tidak masalah jika film ini ditampilkan ‘maskulin’ setelah menyaksikan Filosofi Kopi saya setuju bahwa kemunculan seorang perempuan akan lebih baik.

Ini berkaitan dengan nilai estetika. Misalnya tidak ada yang salah jika sebuah diskusi tentang impian mengelilingi dunia dilakukan disebuah warteg, karena di dunia nyata hal ini memang terjadi. Namun ketika dijadikan sebuah komoditi visual, obrolan tentang impian akan jauh lebih punya nyawa jika dibicarakan  di pinggir sebuah tebing dengan setelah perjuangan untuk sampai ke sisi tebing tersbeut bukan. Semakin indah lagi ketika sisi tebing tersebut berbatasan langsung dengan laut lepas dan matahari sedang bergerak cepat menuju peristirahatannya.

Kemunculan El justru semakin menguatkan karakter Ben. Tentang ketuhanannya kepada kopi yang tidak tergoyahkan dengan kehadiran seorang perempuan cantik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s