Kehilangan

Kapan terakhir kali lo merasa kehilangan?

Gw, tanggal 1 april kemarin. Gw kehilangan ponsel yg umurnya baru dua kali masa panen jagung.

Pada tau kan the 5 stage of grief : denial – anger – bargaining – depression -acceptance ?

Kira-kira itulah yg terjadi ketika ponsel gw ilang.

Beberapa detik setelah gw sadar ponsel gw hilang, gw sibuk meyakinkan diri ‘ponsel gw pasti trrselip di suatu tempat di dalam tas. Nggak mungkin hilang’.

Selanjutnya gw mulai memaki pemilik tangan yg dalam hitungan detik membuka tas dan mengambil ponsel gw.

Setelahnya gw berkutat dengan lusinan ‘what if’. Coba gw buka ponsel di kendaraan umum, coba gw mempertahankan posisi tas,tetap di depan, coba gw sadar lebih cepat dan banyak what if lainnya. Bahkan gw sampai berfikir, ada banyak pemilik ponsel yg seru dgn ponsel mereka selama berkendaraan umum lalu kenapa Tuhan lebih suka ponsel gw yg hari itu kebetulan melakukan hal yg sama?

Beruntung hilangnya ponsel ini masih ‘kacang’. Ia terlalu lemah untuk dijadikan penyebab stress. Dengan demikian gw lebih cepat berdamai dengan rasa kehilangan itu sendiri.

” Jika engkau tidak suka dengan yang kau miliki saat ini, bayangkan ia hilang”

Entah dimana gw mendengar dan/atau membaca quote ini.

Dan ini benar adanya.

Sebelum ponsel gw ilang ada masa dimana gw tidak bahagia dgn ponsel tersebut. Gw nggak bahagia krna si ponsel menghasilkan foto yg bagus pada saat cukup cahaya tapiii memunculkan banyak noise ketika foto diambil dalam kondisi kurang cahaya.

Ponsel gw ilang sebelum sempat gw membayangkan -ia hilang- dan ternyata gw lebih suka ia hadir dengan foto2 noise-nya.

Ada sekitar 1000 foto yg belum dipindahkan. Ada ratusan contact yg mesti dikumpulkan kembali. Ada catatan2 kaki, ide yg tiba2 muncul dan belum sempat dituliskan. Dan tentu saja ada kenyataan bahwa sebuah ponsel batu harus segera dibeli. Dunia sekarang begitu kejam, menempatkan gw di posisi ‘nggak bisa hidup’ kalau g ada ponsel. 😧

Kembali ke perihal kehilangan.

Ada jutaan item takdir yg datang dan pergi semasa manusia hidup. Lalu mengapa sebagian kepergian tidak menyisakan rasa kehilangan? Sementara kepergian yang lain menyisakan lubang yg tidak pernah bisa ditambal?

Salahkan rasa memiliki.

Misalnya ketika matahari hilang dibalik malam, kenapa tidak ada yg merasa kehilangan? Karena tidak seseorang pun merasa memilikinya.

Lalu mengapa dua orang bocah rela babak belur memperebutkan sebuah gundu? Karena keduanya merasa memiliki gundu tersebut.

Rasa memiliki itu sendiri muncul dari pengorbanan. Sesuatu yg diperoleh cuma-cuma akan menyebabkan
rasa kehilangan mendekati nol.

So, semakin banyak hal, benda yg kalian labeli ‘punya gw’ , semakin sering probabilitas rasa kehilangan muncul.

😆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s