[Jalan2] Hari 1 : JKT – KL – George Town

IMG20150314181650

Foto adalah dokumentasi pribadi.

Sepertinya di tempat ini, matahari selalu pulang terlambat. Sudah pukul enam sore dan matahari masih bertahan. Terik. Empat jam yang lalu, saya dan salah seorang teman menumpang bis seharga RM 56 dari bandara KLIA 2 menuju Butterworth. Perjalanan yang menurut Google semestinya ditempuh dalam 4 hingga 5 jam ternyata belum berhasil membawa kami ke terminal Butterworth.

Kami diturunkan setelah pintu keluar tol, entah dimana. Selain aku dan temanku, ada seorang perempuan paruh baya dan pemuda yang mungkin anak laki-lakinya. Keduanya berbicara dalam bahasa mandarin, sesekali bertanya kepada petugas bus yang ikut turun bersama kami tadi.

“Butterworth mesti ganti bas” begitu katanya dalam logat melayu kental meski tidak seujung jari pun ia mewakili orang melayu.

Kulitnya legam, hidungnya mancung, dipangkal hidung, tepat dititik temu kedua alisnya bertahta sebuah titik hitam. Titik yang lazim ditemukan di kening pelakon film-film Bollywood.

“Berapa lama lagi, ke Butterworth Pak cik?” tanyaku.

Pantatku sudah pegal duduk di bis dan aku mulai lapar. Sungguh bukan pilihan bijak menggunakan rute udara JKT – KL dilanjutkan dengan perjalanan darat dari KL-Penang, pikirku. Sebenarnya ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Penang. Namun sejak awal aku memang tidak ingin ke Penang. Ide ini muncul begitu saja karena aku punya waktu 4 hari dan rasa-rasanya terlalu sia-sia menghabiskan 4 hari berturut-turut di KL.

KL,kota besar, apa bedanya ia dengan Jakarta. Meski mungkin transportasi umumnya lebih baik, tetap saja ia hanya menawarkan gedung-gedung pencakar langit. Membosankan.

“Satu jam lagi” jawabnya.

Tak lama kemudian bis yang ditunggu pun datang. Lebih jelek, lebih penuh dan lebih bau dari yang kami tumpangi sebelumnya. Beruntung masih ada tempat duduk kosong.

Perjalanan yang diperkirakan hanya satu jam, menjadi lebih panjang karena kondisi jalanan yang padat merayap. Ternyata liburan anak sekolah sudah dimulai.

Aku sudah tidak memperhatikan lagi, pukul berapa kami sampai di terminal Butterworth. Kami masih harus menyeberang untuk sampai di George Town Penang dengan menggunakan ferry.

Penumpang bisa melewati penghalang otomatis untuk sampai ke ruang tunggu dengan memasukan koin senilai RM 1,2 . Masalahnya  2 koin RM 50 dan 1 koin RM 20 selalu ditolak mesin otomatis. Beberapa pengunjung mulai antri, aku mulai merasa tidak enak. Hany saja, petugas di loket tidak tampak ingin membantu.

“Harus koin yang gede” kata salah seorang penumpang kepadaku.

Oh Tuhan.

Sepertinya mesin ini mesin lama. Ia tidak bisa membaca koin keluaran baru yang berdiameter lebih kecil dan lebih tipis. Seorang perempuan muda berbaik hati bertukar koin denganku meski kemudian memaki-maki karena ia ferry yang baru saja berangkat.

Beruntung ia memaki dalam bahasa mandarin sehingga aku tidak paham apa yang ia ucapkan meski sangat jelas ia mengarahlan telunjuknya kepadaku dan beberap akali meliriku dengan kesal.

Hello, gw juga nggak ngerti kali

Ferry selanjutnya datang 20 menit kemudian. Dan kami dibawa berlayar lebih kurang 15 menit untuk sampai di George Town.

Sudah terlalu larut untuk berkeliling. Tapi tidak terlalu larut untuk berkeliling mencari makanan.

Selamat datang di George Town, 24 hours culinary icon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s