Bukan Review Antologi Rasa

Bagi yang berharap menemukan review tentang tulisan mbak Ika disini, mending langsung minggat. Seperti judulnya ini bukan review tapi penilaian amatir dari amatiran yang kadang menulis, kadang membaca, lebih sering tidak menulis dan tidak membaca.


Tulisan pertama Ika Natassa yang gw baca adalah Critical Eleven, dalam sebuah antologi cerpen. Gue lupa judul antologi cerpennya, juga semua cerpen di dalamnya kecuali Critical Eleven. Bukti, cerpen tersebut menarik.

Sebelum dan sesudah Critical Eleven, gue tidak tidak tertarik membaca tulisan Ika Natassa yang lain, kecuali kicauannya di twitter. Terkadang, ia membagikan pemikiran, kejadian dan peristiwa menarik melalui kicauannya. Dan gue suka kicauannya tersebut, termasuk kicauan melabrak PLN 😛

Kok bisa, suka cerpennya, suka kicauannya tapi nggak suka novel-novelnya? Sederhana saja, tulisan Ika Natassa bukan jenis  tulisan yang biasa gue baca. Bukan berarti jelek, ini murni masalah selera.

Sampai suatu hari Amrazing menyebutkan bahwa Antologi Rasa (AR) yang ditulis Ika Natassa adalah salah satu novel yang ditulis dengan banyak sudut pandang orang pertama tunggal dan nggak bocor. Ini jelas tekhnik penulisan yang sulit.

Seorang penulis, ia berperan sebagai Tuhan dalam tulisannya. Ketika mengisahkan seorang tokoh utama menyeberang jalan raya, ia mengetahui apakah si tokoh tersebut akan berhasil menyeberang atau justru tertabrak. Tapi si tokoh utama tidak mengetahui itu bukan? Karena ia adalah pelaku cerita. Nah ketika kamu menempatkan diri sebagai Tuhan juga sebagai aktor, kau harus bisa mengotak-ngotakan fungsi atas kedua peran yang kau jalankan. Kira-kira begitulah analogi tentang menulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal.

Nah! Jika menulis dengan satu sudut pandang orang pertama saja sulit, bayangkan bagaimana kesulitan menulis cerita dalam banyak sudut pandang orang pertama tunggal secara bersamaan.

Ika Natassa harus membelah diri sejumlah dengan tokoh utama dalah AR. Tidak hanya membelah diri, tetapi ia harus secara konsisten memerankan setiap peran tersebut. Jika ia sedang berlakon sebagai Keara, ia tidak boleh bersikap atau bereaksi seperti Haris. Jika hal tersebut, inilah yang disebut dengan bhochor…. bhochor…bhochor..

Contoh lainnya, ketika Keara berkisah hanya dalam benaknya, maka tidak seorang pun akan mengetahui selama kisah tersebut tidak pernah ia ungkapkan. Jika entah bagaimanacaranya, Haris mengetahui apa yang ada dalam benak Keara, inilah salah satu kebocoran lain dalam tekhnik meulis orang pertama tunggal.

Karena penasaran dengan tekhnik penulisannya, akhirnya gue beli AR dan baca sampe selesai. Gue tidak terlalu mengikuti alur ceritanya, ingat gue udah bilang tulisan sejenis AR ini bukan tulisan yang biasa gue baca.

Amrazing benar. Gw tidak menemukan Ika Natassa dalam AR. Ia berhasil menjadi masing-masing tokoh dalam AR. Ia bercerita dari sudut pandang masing-masing tokoh.

Pada beberapa scene yang menurut gue bisa membuat Ika Natassa tergelincir (kemudian memperlihatkan jadi dirinya sebagai penulis), ia melaluinya dengan sangat sempurna. Bertindak sebagai mana tokoh yang sedang ia perankan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s