Persimpangan

Saya mengutuk trotoar yang tidak bisa dilewati.

Pengendara sepeda motor menganggap mereka juga berhak atas trotoar, hanya karena jalanan sudah terlalu padat. Belum lagi pedagang kaki lima. Mulai dari makanan kecil pengganjal perut sebelum pulang, hingga makanan berat yang semuanya bercampur dengan debu, sisa pembakaran dan sumpah-serapah.

Saya mengutuk pengemudi kopaja, pengemudi bajaj, yang punya keahlian yang tidak dimiliki pengguna jalan yang lain. Hanya ia -supir kopaja/bajaj- dan Tuhan yang mengetahui, kapan ia akan berbelok, kapan ia akan tetap melaju lurus. Terkadang, mereka berfikir jalanan yang tak lagi bergerak, cukup untuk dijadikan dalih menerobos jalur khusus, yang jelas-jelas diperuntukan hanya untuk Rapid Mass Transportation yang dikembangkan pemerintah kota.

Saya mengutuk trotoar yang semakin sempit namun saya adalah pelanggap tetap jajanan kaki lima.

Saya mengutuk pengemudi yang bertingkah seenak udel mereka, tapi saya juga kerap memilih menggunakan fasilitas mereka. Meski dengan hati tidak rela, saya pun ikuti instruksi kernet untuk turun di jalur cepat.

Ah! Akhirnya saya paham, mengapa pepatah Yunani mengatakan beruntunglah orang-orang yang mati muda.

Karena hidup punya terlalu banyak sisi. Ketika satu sisi dijalankan, sisi yang lain belum tentu ikut melangkah berisisian. Akan selalu ada sisi yang berseberangan.

Hati nurani dan tindakan adalah dua hal yang kerap berseberangan. Jangan tanya, siapa yang mati karenanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s