Kebahagiaan

Saya melewatkan beberapa hari menjelang akhir tahun 2014 dengan membaca buku The Happiness Project by Gretchen Rubin. Gretchen yang menjalani hari-hari biasanya mendadak dipertemukan dengan pertanyaannya, apakah sebenarnya ia bahagia? Menariknya, pertanyaan tersebut muncul dari seorang Gretchen yang mempunyai keluarga yang bahagia, karir yang bagus. Jauh dari gambaran umum seorang manusia yang tidak bahagia,

Jika saya boleh menentukan dari 1 sampai dengan 10, untuk menandai pada tingkatan mana rasa bahagia saya bertengger, saya akan memberikan angka 4. Terlepas dari apakah saya sedang mengidap PMS ketika tulisan ini diposting atau tidak, angka 4-lah yang muncul dalam benak saya ketika harus menjawab pertanyaa level kebahagiaan saya saat ini.

Seperti Gretchen, saya (alhamudillah) punya keluarga yang harmonis, punya pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, Berkaitan dengan hobi sekalipun, saya mampu membeli judul-judul buku yang saya inginkan setiap bulannya, jalan-jalan ke beberapa tempat yang juga saya ingin kunjungi. Saya punya teman-teman untuk menghabiskan akhir pekan, menghadiri event-event spesial atau sekedar curhat-rumpi-sana-sini.

Lalu, bagaimana hanya di angka 4?

Bisa dibilang saya hanya mengaminkan pernyataan Gretchen yang berasal dari kontemplasi panjangnya. Kita punya kesempatan untuk lebih bahagia (dari saat ini).

Saya menunjuk angka 4 bukan berarti saya depresi (saya hanya kadang-kadang galau :P) melainkan karena saya merasakan ada banyak potensi dalam diri saya yang bisa saya optimalkan untuk mendapatkan lompatan kebahagian yang lebih besar.

Contohnya.

Saya bahagia bisa bangun pukul 7 pagi dan berangkat ke kantor pukul 8 pagi. Namun, saya punya kesempatan untuk jika saya bangun lebih pagi dan tidak memulai hari dengan terburu-buru apalagi jika saya menyempatkan diri berolag raga secara teratur. Berolahraga mampu meningkat hormon endorphine, hormon pemicu kebahagiaan.

Saya bisa menerima pekerjaan saya, namun saya mungkin akan lebih berbahagia jika tidak terlalu sering mengeluhkan pekerjaan saya tersebut.

Nah!

Berdasarkan hal diatas, rasanya tidak terllau muluk jika untuk tahun 2015 saya hanya mengingkan satu hal. Saya ingin hidup lebih bahagia mengingat saya masih punya rentang yang cukup lebar (dari angka 4 ke angka 10) untuk memaksimalkan kebahagiaan saya.

Apa yang disampaikan Gretchen dalam bukunya, bisa dijadikan panduan awal untuk membuat The Happiness Project. Namun setiap orang punya level kebahagian dan target kebahagian sendiri-sendiri, itulah mengapa tidak ada Happiness Project yang baku.

Oh ya!

Saya juga ingin jatuh cinta di 2015.

Jatuh cinta menjadi salah hal yang bisa menjadi pengungkit kebahagiaan. Ketika saya mengatakan saya ingin jatuh cinta, pahamilah bahwa saya tidak sedang mengerdilkan makna jatuh cinta menjadi ‘punya pacar’.

Selamat Tahun Baru.

Advertisements

One thought on “Kebahagiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s