The one

” Jadi menurut lo, the one itu ada nggak sih?”

Gue nggak ingat kapan tepatnya gue menyimak pertanyaan ini. Entah dalam sebuah wawancara di televisi atau berupa petikan wawancara di media cetak. Semuanya begitu samar, kecuali pertanyaan itu sendiri.

Gue pun tidak mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi gue ketika itu, hanya saja, lapisan ingatan gue mengatakan bahwa ketika itu gue menganggap pertanyaan seputar the one adalah pertanyaan yang terdengar aneh.

Hari ini, ketika pertanyaan yang sama muncul dalam benak gue, terus terang gue merasa takjub. Takjub karena takdir gue menggiring gue kepada pertanyaan yang sama.

Siapa yang sebenarnya patut disebut the one?

Bagi gue, menemukan jawaban atas pertanyaan seperti ini punya tingkat kesulitan high. Ini menyangkut keyakinan. Sebuah kepercayaan dengan nilai mendekati 99,99%. Dan pencarian tersebut bersarang dihati kecil, mengabaikan semua perhitungan logika, dan mengerucut kepada satu subjek saja. Tentu saja hanya akan ada satu, karna itulah ia disebut the one bukan?

Karena berada pada tingkat kesulitan high pulalah, gue nggak terlalu suka diajukan pertanyaan ini. Rasanya seperti mengurai udara, terlalu kasat mata dan terlalu kompleks pada saat yang bersamaan. Namun terkadang manusia mempunyai tingkat kegigihan luar biasa. Mereka kembali bertanya

“Bagaimana lo tau, seseorang itu the one-nya lo atau bukan?”

Sudah gue bilang bukan? keberadaan the one kuncinya adalah keyakinan. Jadi ketika kalian masih bertanya ‘dia beneran the one-nya gue atau nggak ya?’ maka (menurut gue yang nggak ada pembuktian ilmiah) jawabannya adalah tidak. Seseorang yang yakin tidak akan pernah bertanya-tanya, meski kepada diri sendiri.

Begini, pada nonton atau baca serial Twilight Saga nggak? Dalam twilight saga ada istilah imprint di kalangan manusia serigala. Ketika seorang manusia serigala terkena imprint dengan seseorang, ia seperti mendapatkan sebuah wahyu, bahwa seseorang tersebut adalah poros hidupnya. Sebuah sentakan yang membuatnya berhenti mencari karena ia sudah menemukan.Tidak ada keraguan, karena suara tersebut berasal dari hati nurani.

Mengapa keyakinan tersebut hanya bernilai 99,99%? Karena sesungguhnya hati manusia adalah titik yang selalu berada di tepi jurang. Ia hanya butuh satu gerakan untuk jatuh dan berpihak pada salah satu sisi. Seperti angin,tidak seorang pun mampu mengetahui kemana ia akan bergerak. Luruskan atau memutarkah?

Selamat Malam hati yang masih meragu, mari kita dendangkan lagu yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s