[Cerpen] Kurir

Cerpen ini tadinya mau disertakan dalam tantangan menulis @kampusfiksi. Tapi gue belum sempat baca ulang sehingga dapat dipastikan banyak typo. Maka jadilah gue mengundurkan diri dari mengirim link tapi tetap menjawab tantang untuk menulis.


Sebagai kurir, tugasku adalah mengantarkan barang tepat waktu dengan kondisi tidak kurang, tidak lebih. Puluhan tahun sudah kulakoni pekerjaan ini tanpa cela. Hari ini, untuk pertama kalinya aku berbuat salah, silahkan kalian bayangkan seberapa berat kesalahanku, hingga Si Bos merasa harus bertemu dengankan secara langsung.

Mendadak aku teringat Wak Haji. Mungkin karena kesalahan pertamaku ini terjadi pada penugasan yang ke-6666. Angka yang menyerupai jumlah ayat dalam kitab suci.

“Pak Ahmad?” tanyanya.

Aku rasa ia bertanya bukan untuk mengetahui apakah aku memang seseorang yang bernama Ahmad. Ia bertanya untuk meyakinkan, seolah kami sudah berteman lama sehingga tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Faktanya, kami baru bertemu beberapa menit yang lalu. Karena aku datang sepuluh menit lebih awal dari jadwal yang ditetapkan Si Cantik, sekretarisnya. Dan tanpa sadar mendengar pembicaraan yang tidak diperuntukan bagiku.

Aku melirik sekilas, mengangguk kaku, kemudian tertunduk.

“TIDAK SEPATUTNYA KAMU TAKUT KEPADA SELAIN YANG MAHA TINGGI!!!”

Telunjuk Wak Haji mengacung ke  udara, tepat ketika ia menyuarakan Yang Maha Tinggi. Memperlihatkan batu zamrud yang digadang-gadang ia beli langsung dari saudagar ketika perjalanan ke tanah suci yang kedua. Padahal aku yakin melihat cincin dengan batu yang sama persis di Pasar Tanah Abang. Dijual oleh seorang laki-laki uzur, di pinggiran tangga Blok G.

“Aku tidak takut, aku mengingat” protesku.

Aku tidak sedang berdalih. Sejujurnya aku memang sedang mengingat dimana aku melihat wajah Si Bos sebelumnya. Rambut bagian depan yang mulai jarang, hidung yang keberatan menopang ganggang kacamata dan tahi lalat di pelipis kanan tersebut, aku yakin pernah menyaksikannya, sebelum ini. di suatu tempat.

“Berapa gajimu?” SI Bos sepertinya berbasa-basi. Aku memang tidak menjamin ia mengetahui nominal gajiku. Ia dibayar terlalu mahal hanya untuk mengetahui berapa gaji pegawai rendahan, kurir sepertiku.

“Sebulan?”tanyanya lagi ketika aku menyebut nominal yang kuterima setiap bulan beserta tambahan uang lembur.

Aku mengangguk.

Wak Haji muncul kembali, “Tidak kau tidak akan sanggup”. Sebenarnya, kehadiran Wak Haji kali ini adalah sebuah loncatan memori beberapa bulan yang lalu. Wak haji pertama kali di masjid setelah kepulangan dari tanah suci untuk kali ketiga. Aku hanya bertanya berapa uang yang ia keluarkan untuk perjalanan ke tanah suci kali itu, ia justru berkata aku tidak sanggup seolah ia tahu pasti penghasilanku.

Meski mata Si Bos membesar, sesungguhnya bagiku nominal tersebut adalah cukup. Apalagi setelah anak semata wayangku mempunyai penghasilan sendiri. Ia mengambil alih cicilan rumah, tagihan listrik dan kebutuhan harian di rumah. Itulah mengapa lembaran uang yang aku masukan ke kotak amal masjid meningkat. Dari lembar duaribuan lusuh menjadi duapuluhribuan terbaik yang ada di dompetku. Jauh hari sebelum Wak Haji meramal aku tidak akan sanggup ke tanah suci, sejujurnya aku pun tidak pernah bercita-cita berangkat ke Tanah Suci. Terlalu mewah. Terlalu muluk.

“Ini, kamu antar ke Bapak Dewan, seperti biasa” katanya menggeser amplop coklat, dengan ketebalan kira-kira empat sentimeter.

Aku melirik amplop tersebut. AKu mengetahui jumlah di dalamnya. Tiga Ribu. Yang aku tidak ketahui adalah dalam mata uang apa -yang aku yakini, bukan dalam rupiah-.

“Dan ini, ini untuk Pak Ahmad….ntuk tidak mendengar apa-apa,” ia menggeser satu amplop lagi ke arahku. Kali ini dalam amplop yang lebih kecil. Sebagai sisi uang tersebut sengaja dikeluarkan dari mulut amplop agar aku bisa memperkirakan jumlahnya.

“Pak Ahmad tidak mendengarkan apapun, tidak seorangpun perlu tahu, tidak juga dengan anak Bapak” ucapnya pelan, namun ada penekan pada setiap kata ‘tidak’.

Ah ya! Benar!. Aku ingat dimana pertama kali melihat wajahnya. Ya, di sebuah program talkshow yang sedang ditonton anakku.  Aku bahkan ingat, anakku menyebut tikus sambil menunjuk-nujuk wajah SI Bos di layar televisi.

Aku terlalu bersemangat dengan kembalinya ingatanku, hingga tanpa sadar aku menjabat tangannya yang terulur. Sebuah kesepakatan (tanpa sengaja) baru saja terjadi.

***

Sebagai kurir, tugasku adalah mengantarkan. Amplop coklat berisi uang senilai tiga ribu dengan mata uang yang aku yakin bukan rupiah sudah sampai di tangan kiri -dalam arti yang sebenarnya, karena ia kidal- Bapak Dewan. Dan di kantong bagian dalam jaketku satu amplop lainnya bersemayam.

Harus aku apakan uang ini? Uang ini jelas bukan bagian dari imbalan atas tugas antar-mengantarku. Si Bos dengan sangat jelas mengatakan ini sebagai uang ‘tidak mendengar apapun’. Uang ini, benarkah aku tidak membutuhkannya? Aku rasa uang ini, ditambah dengan tabunganku, bisa digunakan untuk membeli pengganti sepeda motor bututku? atau untuk memulai usaha di rumah sehingga aku tidak perlu menempel koyo setiap kali sampai di rumah? Tapi rasa-rasanya aku juga tidak terlalu ingin motor baru, aku juga tidak berpengalaman dalam hal ‘membuka usaha’.

Sepeti mengetahui harus bertanya kepada siapa, kakiku tanpa sadar sudah membawaku ke depan pintu rumah Wak Haji. Bisa jadi ini justru kesadaran alami, seperti yang dijelaskan anakku. Alam bawah sadarku, membawaku kepada satu-satunya orang yang aku tanyai ketika bimbang. Wak Haji.

“KAU MEMABANGUNKAN AKU TENGAH MALAM HANYA UNTUK MEMPERTANYAKAN ITU? LEBIH BAIK KAU TANYA ANAKMU. NILAI AGAMANYA SEPULUH KETIKA IA SEKOLAH DASAR”

Begitu ia meneriakiku. Kembali aku melihat telunjuk dan batu zamrud milik Wak Haji di udara. Kali ini menunjuk pagar rumahnya. Aku disuir.

***

Keesokan harinya, ketika tangan kananku siap mendorong satu lembar lima puluh ribu ke dalam kotak amal, Wak Haji menepuk pundakku. “Sudah kau tanyakan kepada anakmu?” tanyanya santai. Ia seolah lupa sudah mengataiku sialan semalam. Ia mungkin berfikir aku tidak mendengarnya karena aku sudah mendorong teralis rumahnya ketika itu. Namun, malam sudah terlanjur senyap sehingga umpatan tersebut masih sampai ketelingaku.

“Sudah wak haji. Jawabannya 700 kali lipat” jawabku mencium punggung tanggannya takzim. Ia terkekeh pelan sebelum meninggalkan aku. Berapa kali lipat yang Tuhan janjikan sebagai balasan atas harta yang di sedekahkan? Itulah pertanyaan yang membuatku diusir semalam.

Setelah mendapatkan jawaban dari anakku, aku menghitung dengan cermat uang ‘tidak mendengar apa-apa’ dari Si Bos. Jumlahnya tepat 700 kali lipat dari lembaran yang aku masukan ke kotak amal masjid jumat sebelumnya.

Aku menarik satu lembar lima puluh ribuan lain dari dalam dompetku. Hitungan dikepalaku usai sebelum lembaran tersebut menyatu dengan taman-temanya yang lain di dasar kotak amal. Aku hanya perlu lebih sering bersedekah dan lebih sering ‘mendengar’ dengan begitu aku bisa mengumpulkan uang yang menurut Wak Haji tidak akan pernah mampu aku kumpulkan, meski penghasilanku dan anakku digabungkan.

Aku akan ke tanah suci dan membuktikan tidak satu pun saudagar di sana yang melakukan jual-beli Batu Zamrud. Wak haji bisa jadi tiga kali ke tanah suci, tapi siapa yang tahu letak pasti tanah suci yang ia kunjungi tersebut. Setiap orang bisa mengklaim setiap tempat sebagai tanah suci bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s